Perjuangan Mengharukan Mama Regina: 24 Tahun Melawan Gondok Raksasa di Pelosok Manggarai Timur

Screenshot 20250504 211004 WhatsApp 3496722381

RaebesiNews.com – Di balik hamparan hijau dan tenangnya alam di pelosok Desa Beawaek, Manggarai Timur, tersimpan kisah perjuangan hidup seorang ibu yang luar biasa kuat.

Dialah Mama Regina Mur (53), warga RT/RW 001/001 Kampung Tado yang sudah 24 tahun menderita penyakit gondok yang terus membesar hingga menyerupai bola plastik. Kisahnya menyentuh hati siapa pun yang mendengarnya.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Mau usaha anda di lihat ribuan orang?  Klik Disini!!!

Awal Munculnya Gondok dan Perjalanan Panjang Penuh Derita

Segalanya bermula pada tahun 2001 ketika Mama Regina sedang mengandung anak ketiganya. Ia mendapati benjolan kecil di lehernya. Awalnya dianggap sepele karena tak menimbulkan rasa sakit. Namun, seiring berjalannya waktu, benjolan itu kian membesar, hingga kini ukurannya seperti bola plastik.

Tanpa akses ke fasilitas kesehatan dan tanpa dana, Regina hanya mengandalkan pengobatan tradisional untuk meredakan rasa sakit. Ia tak pernah memiliki cukup biaya untuk operasi atau bahkan pemeriksaan medis menyeluruh.

Pengaruh Gondok terhadap Kehidupan Sehari-Hari

“Sejak sakit ini membesar, saya tidak bisa bekerja seperti dulu,” tuturnya lirih melalui sambungan telepon, Minggu (4/5/25). Sebagai petani bersama suaminya, Hendrikus Nepang (55), Regina mengandalkan hasil panen musiman yang sangat minim untuk menyambung hidup.

Kondisi ini juga berdampak pada kehidupan sosialnya. Ia menjadi semakin tertutup, jarang keluar rumah, dan lebih sering berdiam diri karena rasa tidak percaya diri terhadap penampilannya yang berubah drastis akibat gondok.

Harapan yang Belum Padam di Tengah Keterbatasan

Meski menderita selama puluhan tahun, Mama Regina tidak kehilangan harapan. Air matanya mengalir saat menceritakan keinginannya untuk sembuh dan kembali hidup normal.

Baru-baru ini, kunjungan dari bidan Pustu Beawaek dan seorang anggota polisi, Hery Tena, memberikan setitik harapan. Mereka datang memeriksa kondisi Regina, membawa simpati dan perhatian yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya dari luar lingkungan keluarganya.

“Saya sangat bersyukur dikunjungi oleh bidan dan pak polisi. Mungkin ini jalan saya untuk bisa sembuh,” katanya dengan nada penuh haru.

Kondisi Ekonomi yang Menjadi Penghalang Utama Operasi

Di tengah perjuangan hidupnya, kendala utama yang dihadapi Mama Regina adalah keterbatasan biaya. Keluarga kecilnya yang kini tinggal bertiga harus bergantung pada penghasilan yang tidak menentu dari hasil pertanian.

“Anak saya hanya dua yang masih hidup. Kami bertiga saja. Biaya untuk makan saja sudah susah, apalagi untuk operasi,” jelasnya.

Pemeriksaan di rumah sakit atau tindakan operasi masih menjadi impian jauh karena keterbatasan finansial.

Kisah ini menjadi seruan bagi kita semua—baik individu, organisasi sosial, maupun pemerintah—untuk hadir dan membantu.

Mari Kita Bantu Mama Regina

Mama Regina hanya ingin satu hal: sembuh dan sehat kembali. Mari kita wujudkan impiannya. Kita bisa membantu melalui:

*Donasi biaya operasi
*Penyuluhan kesehatan di desa-desa terpencil
*Penyediaan layanan medis gratis di pelosok
*Advokasi pemerintah untuk bantuan langsung.Kisah perjuangan Mama Regina adalah cermin nyata dari kerasnya hidup di daerah terpencil yang jauh dari jangkauan fasilitas kesehatan. Namun di balik penderitaan itu, ada semangat hidup, harapan, dan doa yang tak pernah padam.

Sudah saatnya kita saling bahu-membahu membantu mereka yang terpinggirkan agar bisa menikmati hak dasar yang sama: hak untuk hidup sehat dan bahagia.***

 

 

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RaebesiNews.Com

+ Gabung