HMS Tinjau Harga di Pasar Uabau: Kenaikan Beras Lokal Dinilai Masih Wajar

Screenshot 2025 09 27 08 05 13 97 99c04817c0de5652397fc8b56c3b3817 1705467592

RaebesiNews.com – Wakil Bupati Malaka, Henri Melki Simu (HMS), bersama tim dari Bidang Perdagangan Dinas Perindagkop Kabupaten Malaka melakukan survei harga kebutuhan pokok di Pasar Uabau, Kecamatan Laenmanen, Jumat (26/09/2025).

Peninjauan ini dilakukan untuk memastikan stabilitas harga pangan menjelang masa peralihan musim panas atau pancaroba—periode yang sering menjadi pemicu gejolak harga di berbagai daerah.

Harga Bahan Pokok Stabil, Kenaikan Hanya pada Beras Lokal

Dari hasil pantauan langsung di lapangan, HMS menyampaikan bahwa sebagian besar harga komoditas masih berada pada level normal. Hanya satu komoditas yang mengalami kenaikan mencolok, yakni beras mol lokal.

*Harga sebelumnya: Rp 10.000/kg

*Harga saat ini: Rp 14.000/kg

Menurut HMS, kenaikan ini bukan bentuk inflasi yang perlu dikhawatirkan, melainkan merupakan fluktuasi musiman (seasonal price fluctuation) yang lazim terjadi dalam ekonomi pangan.

“Ini fenomena wajar karena kita sedang memasuki musim kemarau. Stok beras lokal menipis sementara panen kedua petani belum tiba. Nanti akan kembali normal begitu musim panen tiba,” ujar HMS.

Analisis Ekonomi Pasar: Hukum Supply dan Demand Bekerja

Kenaikan harga beras mol mencerminkan hukum dasar ekonomi: ketika pasokan (supply) menurun sementara permintaan tetap, harga otomatis naik.

Dalam konteks Malaka, masyarakat lebih menyukai beras lokal dibandingkan beras pabrik, sehingga elastisitas permintaannya rendah — alias tetap dibeli meskipun harga naik.

HMS menilai fase ini harus dijaga, bukan dilawan. Alih-alih melakukan operasi pasar besar-besaran yang bisa merugikan petani, pemerintah memilih memantau dan memastikan harga tidak melampaui batas psikologis, sekal sekaligus menunggu panen raya untuk menormalkan harga secara alami.

Komitmen Pemerintah: Pengawasan dan Keseimbangan Pasar

Survei harga ini menjadi bukti bahwa Pemerintah Kabupaten Malaka tidak hanya bekerja di balik meja, tetapi turun langsung bertemu pedagang dan masyarakat.

Langkah HMS ini penting secara psikologis pasar: ketika pemerintah hadir, pedagang cenderung menahan spekulasi dan tidak memainkan harga secara berlebihan.

Dengan pemantauan rutin seperti ini, Malaka memastikan petani tidak dirugikan, dan masyarakat tetap terlindungi dari lonjakan harga yang tidak wajar.***

 

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *