RaebesiNews.com – Dalam percakapan panjang yang berseliweran di warung kopi, di beranda rumah-rumah adat, di grup WhatsApp masyarakat Malaka, dan bahkan di lorong-lorong perkantoran, satu nama tiba-tiba kembali muncul dan menciptakan riak yang menggelitik sekaligus membingungkan publik: Alex Mesak.
Dia ini mantan Ketua JAS SNFBN, seorang sosok yang dahulu begitu tenang, begitu diam, begitu minim sikap ketika Malaka berada dalam pusaran persoalan pada era pemerintahan Simon Nahak, namun kini mendadak berdiri dengan suara keras seolah-olah dialah satu-satunya pembawa obor perjuangan honorer, padahal hampir semua hal yang ia sampaikan telah selesai dikerjakan, diproses, dan diperjuangkan oleh pemerintah Kabupaten Malaka di bawah kepemimpinan dr. Stefanus Bria Seran (SBS) dan Wakil Bupati Henri Melki Simu (HMS).
Kemunculan tiba-tiba ini mengundang tanya yang berlapis-lapis:
Mengapa seseorang yang selama bertahun-tahun memilih diam ketika honorer berada pada titik paling rapuh justru kini tampil lantang ketika pemerintah baru telah bekerja penuh?
Mengapa ia yang dulunya tidak bersuara saat honorer menghadapi ketidakjelasan kini seolah ingin mengajarkan publik tentang perjuangan?
Dan yang paling menggelitik:
Mengapa seorang yang dulu tak mengangkat jari kini ingin mengangkat bendera?
Era Simon Nahak: Ketika Malaka Gelap, Alex Memilih Diam
Riwayat publik tidak pendek. Mereka mengingat dengan jelas bahwa pada masa pemerintahan Simon Nahak, Malaka berada dalam situasi yang tidak menenangkan.
Honorer terombang-ambing tanpa kejelasan nasib. OPD menghadapi tekanan keuangan dengan tumpukan utang yang menyebar hingga ke rentenir. Pelayanan publik melemah, dan situasi birokrasi dilingkupi ketidakpastian yang membuat banyak pegawai merasa seperti berdiri di atas tanah yang retak.
Pada saat Malaka membutuhkan suara, keberanian, dan ketegasan dari orang-orang yang mengklaim dirinya sebagai pembela honorer, Alex Mesak justru memilih diam.
Tidak ada konferensi pers.
Tidak ada sikap terbuka.
Tidak ada desakan terhadap pemerintah, apalagi pembelaan keras terhadap ribuan honorer yang berharap.
Keheningan Alex pada masa itu bukan sekadar diam biasa. Itu adalah diam yang memekakkan telinga karena terjadi saat rakyat membutuhkan suara lantang yang menuntut perubahan. Diam yang membiarkan masalah tumbuh. Diam yang membuat banyak orang kehilangan harapan.
Tetapi kini, setelah Malaka dipimpin oleh SBS HMS, ketika pemerintahan sudah bergerak ke arah stabil, ketika tata kelola mulai tertata, ketika proses administratif berjalan sesuai jalur, dan ketika situasi mulai disembuhkan, Alex tiba-tiba muncul membawa retorika seolah dialah juru selamat yang selama ini ditunggu.
Dan di titik inilah masyarakat sadar:
“Alex Mesak bukan datang sebagai pejuang, ia datang sebagai pahlawan kesiangan.”
SBS HMS Sudah Menuntaskan Langkah Besar: 1.038 PPPK Paruh Waktu Diusulkan
Berbeda dengan orang-orang yang hanya sibuk bereaksi setelah semuanya berjalan, pemerintah SBS HMS menunjukkan kerja konkret, mendalam, terukur, dan terstruktur sejak hari pertama memimpin.
Pemerintah Kabupaten Malaka secara resmi telah:
1. Mengusulkan 1.038 formasi PPPK Paruh Waktu
2. Menyelesaikan seluruh administrasi sesuai ketentuan nasional
3. Menyusun kebutuhan berdasarkan kemampuan fiskal
4. Menjalin komunikasi langsung dengan KemenPAN-RB dan BKN
Tidak hanya itu, Bupati SBS melakukan hal yang tidak pernah dilakukan oleh pemerintahan sebelumnya:
empat kali terbang ke Jakarta menemui Kepala BKN, membawa langsung data, usulan, dan kepentingan masyarakat Malaka.
Empat kali pertemuan itu bukan perjalanan pelarian.
Bukan perjalanan pencitraan.
Bukan perjalanan yang bermotif politik.
Itu adalah perjalanan seorang pemimpin yang bersedia menghabiskan waktu, tenaga, pikiran, dan energi untuk memastikan rakyatnya tidak ditinggalkan.
Dan dari pertemuan tersebut, Kepala BKN memberikan respon positif, menandakan bahwa proses sedang bergerak ke arah yang benar.
Hanya satu variabel yang kini menjadi pertimbangan: kapasitas keuangan daerah.
Hal yang wajar, hal yang teknis, hal yang sedang dibahas secara hati-hati antara pusat dan daerah.
Tetapi dalam setiap proses, SBS selalu menyampaikan kalimat yang kini bergema di telinga masyarakat Malaka:
“Untuk rakyat Malaka, tidak ada yang tidak bisa. Selalu ada jalan.”
Ini bukan retorika kosong.
Ini adalah kredo kerja, prinsip memimpin, dan keyakinan yang ditanamkan SBS dalam setiap langkah pemerintahannya.
Alex Datang Belakangan, Lalu Ingin Menguasai Cerita
Di tengah proses panjang yang sudah dilakukan pemerintah, Alex Mesak muncul membawa narasi seolah-olah persoalan PPPK Paruh Waktu adalah sesuatu yang belum disentuh pemerintah. Padahal rakyat tahu bahwa Alex tidak memiliki kapasitas administratif, tidak memiliki kewenangan hukum, dan tidak memiliki posisi institusional yang memungkinkan dirinya mengurus PPPK.
Tetapi ia tetap berbicara, membuat gaduh, dan menyampaikan narasi yang membuat publik merasa ia seperti ingin mengklaim perjuangan pemerintah.
Fenomena semacam ini dalam istilah rakyat disebut dengan sangat sederhana:
“Pahlawan Kesiangan.”
Pahlawan yang datang setelah perang hampir dimenangkan.
Pahlawan yang muncul setelah orang lain mengangkat senjata.
Pahlawan yang berdiri di atas kerja orang lain tanpa memberikan kontribusi apa pun.
Dan Malaka terlalu cerdas untuk tertipu oleh drama semacam ini.
Tidak Ada Jalur Lain: PPPK Adalah Wewenang Pemerintah, Bukan Wadah Organisasi
Bukan hanya langkah Alex yang telat, tetapi narasinya juga tidak tepat. Publik paham bahwa PPPK, baik penuh waktu maupun paruh waktu, adalah urusan formal pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Semuanya melewati mekanisme negara:
1.Regulasi nasional
2. ASN Roadmap
3. Persetujuan KemenPAN-RB
4. Validasi BKN
5. Analisis belanja pegawai
Tidak ada ruang bagi organisasi apa pun untuk mempengaruhi prosedur ini.
Tidak ada jalur lain.
Tidak ada shortcut.
Tidak ada yang bisa menggantikan jalur pemerintah.
Sehingga ketika Alex bersuara seolah bisa membuka jalur alternatif, masyarakat hanya bisa tersenyum miris.
SBS HMS Bekerja Tanpa Drama, Tanpa Panggung, Tanpa Seremonial
SBS HMS tidak pernah membuat isu honorer sebagai alat pencitraan. Mereka tidak sibuk mencari tepuk tangan. Mereka tidak sibuk membuat video, panggung orasi, atau manuver di media sosial.
Mereka hanya melakukan apa yang harus dilakukan: bekerja.
Menyusun berkas.
Mengetuk pintu kementerian.
Membahas anggaran.
Menyelesaikan masalah dari akar-akarnya.
Mereka hadir bukan untuk menjadi pahlawan di poster, tetapi untuk memastikan rakyat mendapatkan yang menjadi hak mereka.
Dan inilah alasan mengapa masyarakat Malaka menaruh rasa hormat yang tinggi kepada mereka: karena mereka bekerja tanpa suara, tetapi menghasilkan suara yang besar bagi rakyat.
Untuk Alex Mesak, Jangan Merangkak Masuk Ketika Cahaya Sudah Terang
Masyarakat Malaka tidak lagi mudah dikaburkan oleh retorika kosong.
Mereka melihat dengan mata kepala sendiri siapa yang bekerja dan siapa yang terlambat bangun dari tidur panjang.
Alex Mesak boleh berbicara keras.
Boleh menampilkan diri sebagai pejuang.
Boleh muncul di media sosial dengan narasi besar.
Namun publik sudah memberi label final padanya:
“Pahlawan Kesiangan.”
Karena perjuangan PPPK Paruh Waktu bukanlah perjuangan Alex, bukan perjuangan organisasi mana pun, melainkan perjuangan pemerintah SBS HMS yang bekerja penuh cinta, penuh komitmen, dan penuh pengorbanan untuk rakyat Malaka.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.





