Opini  

RS Pratama Wewiku: Hadiah Ulang Tahun Simon Nahak yang Paling Kelam

Screenshot 20250605 212432 Chrome 189442331

RAEBESINEWS.COM – Pada 13 Juni 2024, di tengah debu proyek yang belum rampung dan tembok-tembok yang masih beraroma semen basah, Bupati Malaka kala itu, Simon Nahak, berdiri gagah.

Tangannya memegang gunting, senyumnya terpancang di antara kamera dan tepuk tangan para pendukung. Sebuah pita dipotong, lilin ditiup, dan kue ulang tahun disajikan. Tapi bukan ulang tahun rumah sakit, melainkan ulang tahun dirinya sendiri.

Setahun telah berlalu. Dan seperti lelucon yang dipaksa terus menghibur, bangunan yang disebut sebagai RS Pratama Wewiku itu masih berdiri dalam ketidakberdayaan. Tidak ada pasien. Tidak ada pelayanan.

Baca Juga: Pemkab Malaka Bangun Tanggul 1,6 KM di Aintasi, HMS Serahkan Lahan ke Pihak Ketiga

Bahkan suara detak mesin medis pun belum pernah terdengar di sana. Yang tersisa hanyalah monumen setengah jadi dari ambisi pribadi, yang dulu diresmikan dengan gegap gempita, namun kini dilupakan di tengah sunyi.

Kini, penulis justru berharap Simon Nahak datang lagi pada 13 Juni 2025. Sekalian saja tiup lilin untuk memperingati satu tahun peresmian RS itu, mungkin diiringi lagu ulang tahun yang sumbang, ditemani puing-puing harapan masyarakat Malaka.

Karena jika ulang tahun pribadi bisa dirayakan di atas bangunan kosong, mengapa tidak sekalian ulang tahun monumen kegagalan juga dirayakan?

Baca Juga: SBS-HMS Bangun Tanggul Penahan Banjir: Petani Malaka Barat Dapat Harapan Baru

Dari Laenmanen ke Wewiku: Proyek yang Berpindah Arah

Perlu dicatat, RS Pratama itu seharusnya bukan milik Wewiku. Ia awalnya direncanakan berdiri di Laenmanen, wilayah perbatasan yang lebih terpencil dan sangat membutuhkan fasilitas kesehatan. Namun entah karena dorongan ego atau agenda politik, proyek ini dipindahkan ke Wewiku, kampung halaman Simon Nahak sendiri.

Dalih teknis dan birokratis boleh saja digunakan. Tapi di mata rakyat, pemindahan ini terasa seperti pengkhianatan. Laenmanen tidak hanya ditinggalkan, tetapi juga dicabut haknya atas harapan.

Wewiku pun hingga hari ini belum menerima apa pun selain dinding kosong dan papan nama tanpa fungsi. Tak ada yang benar-benar mendapat manfaat, kecuali ego yang sempat berdiri megah di atas panggung peresmian.

Keputusan untuk memindahkan proyek ini menunjukkan kecenderungan seorang pemimpin yang lebih mementingkan jejak sejarah personal daripada kebutuhan rakyat.

Padahal Malaka bukan taman bermain kekuasaan. Ia adalah ladang pengabdian yang seharusnya disirami dengan kebijakan yang adil, bukan dengan seremoni pribadi.

Baca Juga: SBS di Kementan: Kami Tak Mau Rakyat Malaka Kelaparan di Tanah Subur

Panggung Pencitraan, Bukan Pelayanan

Peresmian RS Pratama Wewiku pada 13 Juni 2024 adalah puncak dari upaya pencitraan yang berlebihan. Di sana, Simon Nahak tidak hanya meresmikan bangunan yang belum selesai, tetapi juga menjadikan hari itu sebagai panggung ulang tahunnya sendiri. Sebuah akrobat politik yang membingungkan dan menyakitkan bagi mereka yang menanti layanan kesehatan.

Bangunan belum siap. Alat belum lengkap. Tenaga medis belum tersedia. Tapi pita tetap dipotong, lilin tetap ditiup, dan kamera tetap beraksi. Pertunjukan tetap berjalan meski isi panggung kosong.

Rakyat disuguhi simbol tanpa substansi. Potret sempurna dari pemerintahan yang lebih sibuk mencitrakan diri daripada bekerja membangun kesejahteraan.

Dan sekarang, ketika waktu membawa kita pada ulang tahun pertama seremoni itu, penulis berharap benar Simon Nahak datang lagi. Tiup lilin lagi. Potong kue lagi.

Biarlah rakyat menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana panggung bisa kembali dibangun, walau rumah sakitnya masih tak bisa difungsikan.

Baca Juga: Kepada Para Aktivis Dadakan Jelmaan JAS, Rakyat Malaka Sudah Tahu Siapa Kalian

Apa Warisan Seorang Mantan?

Kini Simon Nahak adalah mantan Bupati Malaka. Tapi warisan yang ia tinggalkan masih menggantung di udara, menggantung seperti lampu-lampu panggung yang tak pernah benar-benar padam. RS Pratama Wewiku adalah salah satu warisan itu, warisan yang lebih mirip utang moral daripada kebanggaan.

Seorang pemimpin seharusnya dikenang karena keberanian, keadilan, dan hasil kerjanya. Tapi Simon Nahak justru meninggalkan panggung kosong dan bangunan bisu. Bukan karena anggaran tak ada, melainkan karena arah kepemimpinannya tersesat dalam labirin pencitraan.

Nama Simon mungkin akan dikenang dalam prasasti batu di depan RS Pratama Wewiku. Tapi rakyat akan mengingatnya dalam cerita-cerita getir tentang bangunan mangkrak, janji yang tak ditepati, dan kehadiran seorang pemimpin yang lebih suka kamera daripada kerja nyata.

Baca Juga: Wakil Bupati Malaka Hadiri Forum Kesehatan Kemenkes di Kupang, Ini yang Dibahas

Suara dari Pinggiran

Di pelosok Laenmanen, anak-anak masih harus dibawa ke Betun saat demam tinggi. Ibu hamil masih menanti kendaraan warga untuk menyeberang bukit demi pelayanan kesehatan.

Di sela kesibukan bertani dan menggali sumur, mereka mendengar kabar tentang rumah sakit yang seharusnya dibangun untuk mereka, tapi malah diresmikan di kampung halaman sang bupati.

“Kalau hanya untuk tiup lilin, bangun saja aula ulang tahun. Jangan rumah sakit,” kata seorang warga Laenmanen dengan nada sarkastik. Sebuah komentar sederhana yang mencerminkan kekecewaan mendalam.

Rakyat tidak butuh panggung. Mereka butuh perawatan. Mereka butuh kehadiran pemerintah yang tidak hanya datang saat pemilu atau peresmian, tetapi hadir dalam penderitaan dan kesulitan mereka sehari-hari.

Baca Juga: Koalisi Pembangunan: Malaka dan Pemprov NTT Satukan Langkah untuk Rakyat

Apa yang Akan Ditiup Tahun Ini?

Tanggal 13 Juni 2025 tinggal menghitung hari. Akankah Simon Nahak benar-benar datang lagi ke RS Pratama Wewiku? Jika iya, apakah ia akan membawa perawat? Obat-obatan? Atau cukup membawa lilin ulang tahun dan pidato panjang yang penuh janji baru?

Penulis tidak butuh jawaban. Sebab, dari catatan satu tahun terakhir, rakyat sudah paham: rumah sakit itu tidak pernah ditujukan untuk pelayanan, melainkan untuk pencitraan.

Dan bila Simon datang lagi, semoga ia tak hanya meniup lilin, tetapi juga meniup habis segala ilusi yang pernah ia bangun.

Baca Juga: Kritik Tanpa Data: Aksi Mahasiswa yang Tergesa dan Tersesat di Malaka

Menutup Panggung, Menulis Ulang Arah

Saat ini, Malaka dipimpin oleh sosok baru. Tapi luka dari era Simon Nahak masih basah. RS Pratama Wewiku adalah bukti bahwa satu keputusan egois bisa menyakiti ribuan orang. Maka sudah saatnya panggung itu ditutup, dan arah pembangunan ditulis ulang.

Malaka layak mendapatkan lebih. Layak mendapat rumah sakit yang benar-benar hidup. Bukan sekadar panggung lilin dan pita merah. Bukan seremoni, melainkan pelayanan. Bukan ego pribadi, melainkan komitmen kepada rakyat.

Dan sejarah akan mencatat: bukan siapa yang meresmikan rumah sakit itu, tetapi siapa yang membiarkannya tetap kosong.***

 

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *