RAEBESINEWS.COM – Goresan Awal: Undangan Perak Perkawinan yang Terhempas Seketika
Tepat 39 hari setelah pertemuan penuh tawa dan nostalgia dalam acara 75 Tahun Seminari Santa Maria Imakulata Lalian, Jumat, 17 Oktober 2025 pukul 20.08 WITA, grup WhatsApp Lalian 40 tiba-tiba berdetak pelan.
Dua pesan yang diteruskan oleh teman Vegi Masu masuk hampir bersamaan.
“Malam kawan, Oni Berek su meninggal,” tulisnya, katanya dari grup sebelah.
Seketika, grup itu membeku. Tak ada suara. Tak ada balasan.
Seolah lidah kelu, jari-jari tak mampu mengetik, dan mata kehilangan arah pandang.
Denyut grup Lalian 40 yang biasanya riuh dalam urusan keluarga tiba-tiba sunyi.
Yang tersisa hanya satu pertanyaan lirih: “Benarkah?”
Pertanyaan yang wajar, sebab pada Senin malam, 8 September 2025, hanya sebulan lalu, di halaman tengah Seminari Lalian, kami masih bercanda dan bernyanyi bersama dalam perayaan puncak 75 tahun seminari itu.
Sesudah sesi foto bersama, Onny Berek sempat berkata pelan:
“Pertengahan atau akhir Oktober nanti, saya dan keluarga undang teman-teman ke Labur. Pesta perak perkawinan. Tapi saya tunggu dulu Pater Dolfi dari Brazil dan Romo Gunsales dari Sumatera. Kalau mereka sudah datang, baru saya kasih undangan supaya kita lengkap.”
Tak ada tanda-tanda. Tak ada firasat.
Kami berpisah malam itu dengan janji pertemuan berikut — undangan yang tak pernah datang.
Goresan Tengah: Tentang Arti Sebuah Persahabatan Sejati
Baca Juga: Proyek Tanggul Oanmane Selesai Sesuai Prosedur, Dimonitor Ketat dan Tetap Kena Denda 2 Hari
Tanggal 15 Juli 1990, kami — 105 anak muda dari berbagai penjuru — melangkah bersama ke Seminari Lalian.
Onny Berek masuk di Kelas Peralihan B, sementara saya di kelas lain. Namun satu hal kecil mempertemukan kami: rak baju yang sama.
Saya di rak bawah, Onny di rak atas.
Setiap hari kami “bertemu” di sana — saat ganti baju, menyimpan titipan keluarga, atau sekadar berbagi makanan kecil yang dikirim orang tua.
Dari rak kayu sederhana itulah, sebuah persahabatan tanpa pamrih tumbuh.
Kami berbagi tawa, diam, bahkan hukuman.
Kami bisa bertukar pakaian tanpa ragu.
Kami dua Onny — dan sejak itu, tak pernah benar-benar terpisah.
Baca Juga: Pemkab Malaka Usulkan 10 Sekolah Terima Bantuan Revitalisasi Pendidikan Tahun 2026
Empat tahun kemudian, jalan kami berpisah.
Saya melanjutkan ke Tahun Rohani, sementara Onny ke Novisiat Sang Sabda, Kuwu, Manggarai.
Namun jarak bukan halangan.
Tahun 1994, Onny menulis surat enam halaman kepada saya — menceritakan dinginnya Manggarai, kehidupan novisiat, dan pesan agar tetap setia di jalan panggilan. (Surat itu masih saya simpan hingga kini.)
Catatan Tentang Kami
Waktu terus berjalan.
Tahun 2003, setelah beberapa teman ditahbiskan imam di Katedral Atambua, kami berinisiatif berkumpul kembali.
Dari situlah lahir wadah persaudaraan Lalian 40.
Facebook menjadi jembatan, lalu grup WA menjadi rumah.
Rumah kecil yang menyimpan semua tawa, doa, dan kisah kami.
Baca Juga: Tokoh Adat Oanmane: Hanya SBS–HMS Pemimpin yang Beri Solusi Nyata untuk Cegah Banjir
Dalam rumah itu, Onny Berek selalu hadir.
Ia bukan sekadar anggota — tapi jiwa di antara kami.
Teman yang selalu punya ide, punya waktu, dan punya hati.
Ia kerap membuka rumahnya di Labur untuk kami singgahi, bahkan menjadikannya tempat pertemuan penting.
Tahun lalu, Onny menelepon saya.
“Mau Klau, nanti saya ambil anakan pisang dari Besikama. Ada program nasional, saya butuh banyak pisang. Siapkan saja, nanti saya bawa truk.”
Itulah Onny: selalu berpikir ke depan, selalu berbuat sesuatu untuk orang lain.
Baca Juga: HMS Turun Tangan Redam Konflik Guru di SMPN Forekmodok, Tegaskan Aturan ASN dan Wewenang Dinas
Dan pada 15 Oktober 2025, saya melihat rumah putih biru di Labur yang ia bangun hampir selesai.
Namun ia tak sempat melihatnya rampung.
Kata Akhir untuk OB yang Tak Pernah Berakhir
Onny Berek…
Kami, 58 anggota Lalian 40 dari Birmingham, Australia, Timor Leste, Kalimantan, Papua, Jakarta, hingga Flores dan Timor, menyapamu dalam diam.
Awalnya kami menolak percaya.
Namun ketika foto kiriman John Bou masuk ke grup — wajahmu tenang dalam jas hitam di atas keranda — air mata kami jatuh tanpa bisa ditahan.
Baca Juga: Keluarga Pasien Puji Pelayanan RSUPP Betun, Dokter Spesialis Kini Bertambah Lengkap
Kami ingin menahanmu, tapi siapa yang mampu membendung kehendak Tuhan?
Kematian memang misteri, tapi kali ini terlalu cepat, terlalu sunyi, terlalu dalam.
Undangan perak perkawinanmu kini menjadi undangan terakhir:
Kami datang bukan untuk berjabat tangan dan tertawa,
tapi untuk berdiri di hadapanmu dalam linangan air mata.
Kami tahu, kau tidak akan lagi menyapa, tidak lagi berkata,
“Mau Klau, beta tunggu di Labur…”
Tapi kami percaya — persahabatan tak mati. Ia hanya berpindah ruang: dari bumi menuju surga.
Selamat jalan, Onny Berek.
Beristirahatlah dalam damai di rumah Bapa.
Di sana, tak ada perpisahan — hanya perjumpaan yang abadi.
Sebuah Catatan Kehilangan yang Sangat Mendalam)
Oleh: Herry Klau
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.





