Opini  

IMMALA Jakarta: Gonggong Keras di Ibukota, Tapi Bungkam Hadapi Korupsi di Tanah Malaka

Screenshot 2025 11 12 10 26 43 65 a23b203fd3aafc6dcb84e438dda678b6 3569551168

Opini oleh: Frido Umrisu Raebesi

RaebesiNews.com – Beberapa hari terakhir, sekelompok mahasiswa asal Malaka yang menamakan diri Ikatan Mahasiswa Malaka (IMMALA) Jakarta membuat aksi di depan kantor DPP Partai Golkar di Jakarta.

Mereka menuntut agar Ketua DPRD Kabupaten Malaka, Adrianus Bria Seran, dicopot dari jabatannya dan segera ditahan karena diduga memukul seorang warga Desa Lasaen bernama Alfons beberapa bulan lalu.

Isu sederhana ini mendadak meledak bak bom politik. Polisi sudah menetapkan Adrianus sebagai tersangka, namun tidak menahannya karena pertimbangan hukum yang sah.

Tapi entah dari mana arah angin berembus, tiba-tiba IMMALA Jakarta turun ke jalan dengan teriakan lantang seolah Malaka sedang terbakar. Padahal, di balik spanduk dan orasi mereka, bau kepentingan politik sangat menyengat.

Aksi Berbungkus Moral, Tapi Isinya Kepentingan Politik

Mahasiswa seharusnya menjadi pelopor perubahan dan penjaga nurani rakyat. Tapi sayang, IMMALA Jakarta justru tampil seperti alat politik pesanan. Mereka mengatasnamakan rakyat Malaka, tapi yang mereka bela hanyalah seorang oknum bernama Alfons, bukan ribuan rakyat Malaka yang benar-benar menderita.

Aksi IMMALA Jakarta di depan DPP Golkar terlalu naif dan memalukan. Mereka berteriak menuntut keadilan atas dugaan pemukulan satu orang, tapi diam seribu bahasa terhadap dugaan korupsi besar-besaran di Kabupaten Malaka pada masa pemerintahan sebelumnya.

Kenapa tidak demo juga ke KPK soal korupsi bantuan Seroja senilai 60 miliar rupiah?
Kenapa tidak bersuara keras soal proyek septic tank di Raimataus dan Wederok yang bermasalah?
Kenapa tak teriak soal RS Pratama Wewiku yang mangkrak dan menelan puluhan miliar tanpa manfaat bagi rakyat?

Apakah karena kasus-kasus itu tidak “menguntungkan” kalian?
Atau karena tidak ada “tuan” yang memerintahkan untuk teriak di sana?

Jika keberanian kalian hanya muncul saat ada pesanan politik, maka kalian bukan pejuang rakyat, tapi boneka kekuasaan.

Nyali Besar, Tapi Nurani Kerdil

IMMALA Jakarta boleh saja bangga karena berani demo di ibukota. Tapi keberanian tanpa nurani hanyalah kesombongan kosong.
Kalian menggonggong keras di depan kantor DPP Golkar, tapi menutup mata terhadap penderitaan rakyat Malaka.
Kalian teriak “keadilan untuk Alfons”, tapi diam terhadap rakyat Malaka yang jadi korban korupsi dan kebobrokan pemerintahan lama.

Hebat juga si Alfons ini, bisa membuat IMMALA Jakarta bergerak serentak ke Jakarta. Tapi jujurlah pada hati nurani:
Apakah kalian bergerak karena Alfons, atau karena ada kekuatan politik di belakang yang mengatur langkah kalian?

Kalau kalian tidak sadar, berarti kalian bukan mahasiswa, tapi alat politik yang dipermainkan oleh ambisi kekuasaan orang lain.

Kalau Benar Pejuang, Datanglah ke KPK!

Baiklah, kalau IMMALA Jakarta memang seberani itu, silakan buktikan!
Datangi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan suarakan dugaan korupsi besar di Malaka:

1. Proyek bantuan Seroja puluhan miliar rupiah yang tak jelas pertanggungjawabannya.

2. Proyek septic tank di Raimataus dan Wederok yang diduga fiktif.

3. RS Pratama Wewiku yang dibangun dengan anggaran rakyat tapi tak pernah bermanfaat.

Itu baru namanya perjuangan!
Tapi jika kalian hanya berani menyerang satu tokoh karena perintah “tuan politik”, maka kalian bukan mahasiswa, melainkan alat politik yang kehilangan moral dan akal sehat.

Mahasiswa atau Boneka Politik?

IMMALA Jakarta boleh saja berteriak lantang dan tampil heroik di depan kamera. Tapi sejarah tidak mencatat volume suara kalian sejarah mencatat arah keberpihakan kalian.

Berpihak pada siapa kalian sebenarnya?
Rakyat Malaka yang miskin dan tertindas?
Atau segelintir orang yang haus kuasa dan dendam politik?

Kalau kalian hanya tahu menggonggong sesuai irama kepentingan, maka jangan pernah mengaku sebagai mahasiswa Malaka.
Kalian hanya boneka politik di panggung ibukota.

Gonggonglah Untuk Rakyatmu, Bukan Untuk Tuanmu

Jangan hanya tunduk pada perintah para tuan kalian. Sesekali, gonggonglah untuk rakyat Malaka yang sesungguhnya.
Terkamlah kezaliman yang nyata bukan sekadar menggonggong di hadapan kekuasaan yang menyuapi kalian.

Kalau kalian tak berani menyentuh kejahatan besar yang merugikan rakyat, maka kalian hanyalah binatang politik tanpa nurani.

IMMALA Jakarta, Keras di Spanduk, Lembek di Nurani

Aksi IMMALA Jakarta di ibukota bukan perjuangan, melainkan pertunjukan politik murahan.
Rakyat Malaka tidak butuh mahasiswa yang bisa berorasi, tapi butuh mahasiswa yang berani melawan kejahatan sesungguhnya.

Kalian telah menunjukkan nyali, tapi gagal menunjukkan moral.
Kalian keras di spanduk, tapi lembek di nurani.
Kalian lantang di Jakarta, tapi bungkam di hadapan korupsi di tanah Malaka sendiri.

Dan itu adalah bentuk pengkhianatan intelektual paling rendah.

Rakyat Malaka tidak butuh IMMALA seperti ini.
Rakyat Malaka butuh mahasiswa yang berpihak pada rakyat, bukan pada kepentingan.***

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *