Opini  

Opini: Bukan Aktivis, Tapi Pengemis Berjaket Organisasi di Kabupaten Malaka

iultqy33zdtfw31 1501738538

Oleh: Frido Umrisu Raebesi

RaebesiNews.com – Dulu, menjadi aktivis adalah pilihan suci. Mereka memilih jalan sepi penuh risiko: diburu aparat, dimusuhi penguasa, diseret ke penjara karena membela rakyat kecil.

Tapi hari ini, di Kabupaten Malaka, kita menyaksikan satu episode memalukan, parodi tragis dari apa yang dulu disebut gerakan mahasiswa.

Beberapa oknum aktivis dari organisasi mahasiswa ternama, konon katanya, baru saja menodai makna perjuangan itu. Seusai berorasi lantang di depan Kantor Bupati Malaka, menyerang kebijakan pemerintah daerah, membakar semangat seolah mereka penjaga moral negeri, beberapa jam kemudian… mereka berubah rupa.

Apa yang mereka lakukan? Mengirim pesan WhatsApp ke Wakil Bupati Henri Melki Simu, meminta bantuan uang. Katanya, untuk beli tiket ke Jakarta, menghadiri kegiatan organisasi. Tanpa proposal. Tanpa etika. Tanpa malu.

Inilah wajah baru aktivisme gadungan. Mereka teriak-teriak soal ketidakadilan, tapi lupa membedakan antara idealisme dan mental pemalak. Mereka menuduh pejabat korup, tapi mereka sendiri menjual harga diri dengan receh. Aktivis macam apa ini?

HMS, wakil bupati yang disasar kritik mereka, tak melawan dengan kekuasaan. Ia justru datang sendiri ke sekretariat mereka, memastikan dengan kepala dingin: benarkah yang minta uang itu mereka yang berdemo kemarin? Jawabannya: ya, benar. Dikonfirmasi langsung oleh rekan mereka sendiri.

Tapi drama justru dimulai dari situ. Media online tak bertanggung jawab menggiring opini bahwa HMS mengintimidasi. Bahwa ia mempermalukan aktivis. Bahwa ia mencemarkan nama baik organisasi.

Bahkan kameramen yang merekam pertemuan itu pun ikut dilaporkan ke polisi. Ancaman pun muncul: 30 pengacara siap gugat HMS sampai ke Mabes Polri.

Hebat. Luar biasa. Tapi sayang, semua kosong melompong. Tidak ada satu pun unsur pidana. Semua ancaman itu hanya dentuman omong kosong dari mulut-mulut kehilangan wibawa.

Yang lebih miris: di mana para senior mereka? Mereka yang dulu berjuang keras atas nama organisasi ini, kini memilih bungkam.

Tidakkah mereka merasa malu melihat adik-adiknya minta-minta ke pejabat, seperti pengemis berjaket organisasi? Bukankah para senior itu yang seharusnya menjadi pelindung moral dan penopang logistik ketika ada kegiatan organisasi nasional?

Kalau pun benar ada agenda ke Jakarta, kenapa tidak kalian tanggung sendiri? Mengapa membiarkan adik-adikmu menjilat ludahnya sendiri kepada orang yang barusan mereka demo? Ini bukan kaderisasi. Ini pengkhianatan terhadap sejarah dan nilai organisasi.

Aktivis bukan tukang palak. Aktivis bukan pengemis berdasi. Aktivis bukan pencari dana dadakan dengan membawa nama organisasi ke mana-mana hanya demi ongkos pesawat.

Aktivis yang benar tahu menjaga jarak antara idealisme dan oportunisme. Mereka tahu kapan harus bicara, kapan harus diam, dan yang terpenting: tahu malu.

Kasus ini harus jadi tamparan keras, bukan hanya untuk oknum yang minta uang, tapi bagi seluruh organisasi mahasiswa di negeri ini.

Jika kadermu hari ini adalah peminta-minta, maka siap-siaplah organisasi itu dikuburkan lebih cepat dari yang kau duga. Bukan oleh penguasa. Tapi oleh kebodohan dan kerakusan anggotanya sendiri.

Aktivisme telah berubah menjadi dagelan. Jaket organisasi kini tak lebih dari jubah kepentingan. Dan mereka yang mestinya menjadi obor di kegelapan, justru menjadi asap yang memedihkan mata publik.

Selamat datang di era baru: aktivis lapar dana, senior kehilangan nyali, organisasi kehilangan marwah. Dan yang paling menyedihkan: tak ada satu pun dari mereka yang merasa bersalah.***

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *