Opini  

Henri Melki Simu: Langkah-Langkah Tanpa Lelah untuk Rai Malaka

Screenshot 20250630 184506 WhatsApp 34720995

RaebesiNews.com – Sabtu, 28 Juni 2025. Waktu masih menunjuk pukul 06.00 pagi ketika roda pesawat yang membawa Wakil Bupati Malaka, Henri Melki Simu (HMS), menyentuh landasan Bandara El Tari, Kupang.

Sementara banyak orang memilih rehat setelah penerbangan dini hari dari Jakarta, HMS justru mengambil arah sebaliknya: langsung menuju Sanleo, sebuah desa terpencil di Malaka Timur yang dikenal dengan jalan rusaknya yang kronis.

Perjalanan darat dari Kupang ke Sanleo bukanlah hal ringan. Jalur itu memakan waktu enam jam lebih melewati jalanan berkelok, sebagian di antaranya rusak dan berlubang.

Baca Juga: Ketika Anak-anak Menyambut Pemimpin dengan Telanjang Kaki dan Bupati SBS Datang dengan Hati yang Tulus

Namun, tak sejenak pun HMS mengambil jeda. Ia tidak singgah untuk sarapan, tidak duduk untuk secangkir kopi. Ia tahu bahwa hari itu, rakyatnya sedang menunggu, bukan menunggu pidato, tapi kehadiran.

Di tengah kabut tipis dan tanah berlumpur, HMS tiba di Sanleo. Ia datang tanpa seremoni, tanpa rombongan besar, hanya dengan satu keyakinan: pemimpin harus hadir ketika rakyatnya membutuhkan. Dan hari itu, rakyat Sanleo membutuhkan seorang pemimpin yang tak takut kotor, tak takut hujan, dan tak takut bekerja.

Jalan di Dirma dan Sanleo memang telah lama menjadi keluhan warga. Lumpur dan batu berserakan membuat anak-anak sulit ke sekolah, petani terhambat mengangkut hasil panen, bahkan ambulans pun kerap kesulitan melintas.

Baca Juga: Pembentukan Pengurus KDMP Weulun, Berkas Resmi Diterima Tim Verifikasi Disperindagkop Malaka

Tapi hari itu, situasinya berubah. HMS berdiri di tengah-tengah masyarakat, bersama para kepala desa dan Camat Malaka Timur, memimpin langsung gotong royong perbaikan jalan darurat.

Ekskavator kecil mengaduk lumpur, dump truck mengangkut tanah dan batu dari sungai. Di tengahnya, HMS berbaur dengan warga. Ia tak hanya mengarahkan, tapi juga ikut menapak lumpur, menyentuh tanah, menyapu peluh.

“Ini baru pemimpin,” ujar seorang warga paruh baya. “Baru turun dari pesawat langsung ke sini. Enam jam dari Kupang tanpa henti. Kami merasa dihargai.”

Baca Juga: Wakil Bupati Malaka HMS Tinjau Pengerjaan Deker Akses Menuju Pantai Motadikin

Di era ketika banyak pemimpin lebih sibuk menjaga pencitraan di layar kaca dan media sosial, Henri Melki Simu hadir sebagai pengecualian. Ia memilih lumpur daripada lighting studio, memilih menyapa warga dengan tangan berlumpur daripada sekadar kiriman status.

Kehadirannya di Sanleo hari itu bukan hanya simbol, tapi juga solusi. Ia tahu, menunggu proyek besar bisa butuh waktu. Maka, ia memutuskan untuk bergerak cepat dengan kekuatan seadanya. Yang penting jalan bisa dilewati, warga tidak lagi terisolasi, dan kehidupan bisa kembali mengalir.

Sanleo hari itu menjadi saksi ketulusan. Ketika mentari condong ke barat, HMS masih berdiri di lokasi, tak bergeser. Tubuhnya lelah, tapi matanya menyimpan cahaya. Cahaya dari seorang pemimpin yang mencintai tanah kelahirannya dengan cara paling jujur: dengan hadir.

Baca Juga: Mantan Bupati Simon Nahak Dinilai Tak Paham Mekanisme Pengangkatan PPK: Kasus Gabriel Seran Jadi Cerminan

Ia tidak bicara soal kekuasaan. Ia tidak menjanjikan langit. Ia hanya hadir di bumi yang penuh lumpur dan kebutuhan mendesak, dan itu cukup untuk membangunkan harapan rakyat.

Henri Melki Simu bukan sekadar Wakil Bupati. Ia adalah simbol kepemimpinan baru yang lahir dari semangat pengabdian sejati. Ia tidak mencari panggung, ia mencari titik-titik sakit di tubuh Malaka, lalu datang membawa penyembuhan.

Dalam enam jam perjalanan darat dari Kupang ke Sanleo, kita melihat satu hal: bahwa cinta pada tanah air bukan soal kata-kata, melainkan tentang langkah yang tak kenal lelah.

Dan selama Henri Melki Simu terus berjalan, Malaka tak akan kehilangan arah.***

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *