Respek OBM CUP III: Ketika Sepakbola dan Likurai Bersatu Menjadi Pesta Kebersamaan Malaka

Screenshot 2025 08 11 10 23 40 00 99c04817c0de5652397fc8b56c3b3817 3976155689

RaebesiNews.com – Di Malaka, sepakbola tak sekadar permainan. Ia adalah bahasa yang menyatukan orang-orang di di lapak-lapak kecil, di rumah-rumah yang lampunya menyala lebih awal demi menonton laga.

Dan tahun ini, Respek OBM Cup III 2025 menambah bab baru dalam kisah itu, bab yang dimulai dengan dentum Bebiliku dan liukan Likurai.

Pembukaan yang Menyentuh Rasa

Sore itu, langit Malaka seperti ikut merayakan. Cahaya jingga membelai lapangan, lalu perlahan malam menurunkan tirainya.
Dari ujung barisan, 500 penari Likurai melangkah serempak.

Kaki menghentak tanah, tangan mengangkat tambur. Irama mereka tak hanya terdengar, ia terasa, masuk ke dada, mengguncang kenangan tentang tanah ini: tanah yang pertama kali memberi napas pada tarian itu.

Lebih dari 90 Menit

Respek OBM Cup bukan cuma soal skor. Di sini, setiap umpan, setiap tekel, setiap peluit membawa pesan: bahwa sepakbola bisa jadi bahasa universal yang menyapa semua, tanpa membedakan asal-usul.

Di tribun, orang tua dan anak-anak duduk bersebelahan, menyanyikan yel-yel yang sama. Di tepi lapangan, pedagang tersenyum lebar saat dagangannya laris. Di antara pemain, pelukan setelah laga menjadi tanda bahwa kemenangan terbesar adalah saling menghormati.

Para Pemimpin Hadir, Masyarakat Terpanggil

Malam pembukaan itu dihadiri Bupati Malaka dr. Stefanus Bria Seran (SBS) dan Wakil Bupati Malaka, Henri Melki Simu (HMS).
Keduanya hadir bukan sekadar memberi sambutan, tetapi ikut berdiri di barisan yang sama: barisan orang-orang yang ingin melihat Malaka semakin kuat, semakin terbuka, semakin indah dalam merayakan kebersamaan.

“Sepakbola adalah media untuk mempersatukan, merawat persaudaraan, dan memuliakan budaya kita,” ujar Bupati SBS, yang disambut anggukan hangat dari Wakil Bupati HMS.

Bola yang Menggerakkan Ekonomi dan Budaya

Turnamen ini menghidupkan banyak hal sekaligus. UMKM lokal merasakan denyutnya, dari aroma jagung bakar yang menyusup ke udara malam, hingga kain tenun yang dibeli tamu luar kota sebagai oleh-oleh.

Bagi pelaku seni, OBM Cup adalah panggung. Bagi pemain muda, ia adalah mimpi. Bagi Malaka, ia adalah wajah yang ditunjukkan pada dunia.

Pesan dari Malaka untuk Dunia

Dengan Likurai sebagai pembuka dan sepakbola sebagai panggung utama, OBM Cup III seolah berkata kepada siapa pun yang datang: Di sini, olahraga adalah pesta budaya. Dan budaya adalah nyawa dari setiap perayaan.

Terima Kasih, Sepakbola!

Tahun ini, Respek dan Orang Baik Malaka telah menulis puisi yang tidak akan mudah dilupakan:
Puisi tentang bola yang tak lelah berputar.

Tentang tanah yang tak pernah lelah menumbuhkan cerita.
Dan tentang Malaka, yang akan selalu merayakan hidup dengan dentum tambur, sorak penonton, dan senyum juara sejati.***

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *