RaebesiNews.com – Di bawah langit Kota Kupang yang menganga biru, angin Juli menggiring debu dan semangat menuju Stadion Oepoi. Di sana, ribuan pasang mata menatap ke tengah gelanggang, menyaksikan tarian kaki-kaki mungil dari selatan. Mereka bukan siapa-siapa, hanya anak-anak dari Manumeo, Malaka, yang datang membawa asa: sepak bola.
Dan sore itu, mereka bukan sekadar anak-anak. Mereka adalah angin kencang dari Benenain, petir yang turun dari Fatuaruin. Mereka adalah PS Malaka U13 dan U15, generasi belia yang menulis puisi di atas rumput hijau, dengan bola sebagai pena dan kemenangan sebagai bait terakhir.
Adalah Elegen Seran, nomor punggung 7, anak dari bumi berlumpur yang di menit ke-17 membuka rahasia langit. Dengan sontekan kaki yang halus seperti belaian pagi, ia robek jala BMU Alor Pantar, sang juara bertahan. Gol itu bukan sekadar angka, melainkan simbol: Malaka datang untuk merebut tahta, bukan bertamasya.
Sorak-sorai membahana. Di tribun VIVIAIPI, Bupati Malaka dr. Stefanus Bria Seran berdiri dan mengepalkan tangan. Di sisinya, para pimpinan OPD, anggota DPRD, Kapolres Malaka AKBP Riky Ganjar Gumilar, serta rakyat Malaka yang hadir sebagai saksi sejarah, semua menari dalam euforia. Malaka sedang bermimpi, dan mimpi itu begitu nyata.
PS Malaka U13 tidak hanya menyerang. Mereka menari. Permainan tiki-taka, bola dari kaki ke kaki, seperti aliran sungai yang tak tersumbat, membuat anak-anak dari seribu moko Alor Pantar tak berkutik. Dan ketika waktu menunjukkan menit ke-51, giliran Gilbertus Seran, nomor punggung 6, menancapkan paku kedua ke peti lawan, memanfaatkan bola liar dari tendangan pojok.
BMU sempat memperkecil lewat Bismila Ibu di menit ke-57, tapi itu hanya desah napas dari luka yang terlalu dalam. Laga usai. Skor 2-1. Malaka menang. Manumeo juara. Bumi pun bergetar, seolah ikut bertepuk tangan untuk anak-anak langit selatan.
Episode Kedua: Sebuah Final, Sebuah Air Mata
Tak cukup dengan satu kisah, Manumeo mengutus generasi yang lebih matang: PS Malaka U15. Di laga pamungkas Soeratin Cup U15 2025, mereka menghadapi raksasa dari timur, BMP Flores Timur, juara bertahan yang tak pernah tahu kata kalah.
Dan sejak peluit ditiup, Malaka menolak jadi tamu. Mereka kuasai bola, menyerang dari kiri, kanan, tengah. Formasi tak ubahnya simfoni. Bola berpindah secepat nyanyian angin. Mereka main bola, tapi bukan seperti biasa. Mereka sedang menggubah sajak di tengah peperangan.
Babak pertama berakhir 0-0. Kedua tim masih bertahan, masih saling mengukur detak jantung. Tapi di lapangan, PS Malaka sejatinya menang: menguasai 60% penguasaan bola, memaksa lawan membisu.
Di babak kedua, drama terus berlanjut. Penonton di tribun histeris, suporter melambai-lambai bendera, dan langit mulai redup. Tapi skor tak juga berubah. Hingga akhirnya, takdir datang lewat adu penalti, ujian mental tertinggi di padang hijau.
Empat gol masuk. Satu gagal. Dan dari Flores Timur, lima penendang berhasil. PS Malaka kalah 4-5. Tangis pun turun. Tapi bukan tangis kekalahan, ini air mata haru dari perjuangan yang tak sia-sia.
Di Balik Panggung: Tangan-Tangan Dingin dari Selatan
Nama-nama seperti ABS, dr. Umbu, dr. Joni Lumba, Roby, dan Agoes, mereka adalah arsitek yang membangun fondasi dengan cinta dan disiplin. Mereka yang memahat kaki-kaki muda menjadi mesin seni. Mereka bukan hanya melatih teknik, tapi membangun mimpi.
Dan mimpi itu kini telah melambung ke langit Kupang, membekas di udara stadion, menempel di rumput yang disulap jadi kanvas.
Untuk Malaka, Untuk Indonesia
Prestasi ini adalah pesan: bahwa di ujung selatan Indonesia, ada anak-anak yang tak kalah berani. Mereka tidak punya stadion mewah. Mereka tumbuh di tanah keras, di antara badai musim dan perjuangan ekonomi. Tapi mereka punya semangat. Dan itu cukup untuk mengguncang dunia.
PS Malaka U13 pulang dengan trofi juara. PS Malaka U15 pulang dengan kepala tegak. Keduanya pulang dengan cerita dan Malaka punya alasan untuk bangga.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.





