RaebesiNews.com – Turnamen Piala Presiden U-15 tahun ini menghadirkan satu kisah yang tidak biasa. Di antara hingar-bingar tim-tim akademi sepak bola profesional, hadir satu tim dari pelosok Nusa Tenggara Timur, membawa semangat yang berbeda dari tim lain.
Mereka bukan datang hanya dengan strategi permainan dan sepatu baru, tetapi datang dengan doa para ibu yang ikut menyaksikan langsung dari tribun.
Tim itu adalah PS Malaka, perwakilan resmi Provinsi NTT yang tergabung di Grup D bersama Wirayudha FC dari Kediri, Sriwijaya Asa Soccer dari Palembang, dan SSB Tunas Palapa dari Ternate.
Mereka bertanding di Lapangan Unesa Surabaya, tetapi semangat mereka seolah berasal dari tempat yang jauh lebih dalam daripada sekadar ruang ganti pemain.
Yang membuat PS Malaka istimewa bukanlah materi pemainnya atau fasilitas latihannya, melainkan sosok pelatihnya yang tak lazim.
Ia bukan mantan pemain nasional, bukan pula pelatih lisensi Eropa. Ia adalah seorang dokter ahli kebidanan. Namanya: dr. Dion Bria Seran, Sp.OG.
Sehari-hari, dr. Dion bekerja membantu ibu hamil melahirkan bayi ke dunia. Ia terbiasa mendengarkan detak jantung janin melalui stetoskop, memandu seorang ibu di ruang bersalin, dan memastikan setiap anak lahir dengan selamat.
Kini, di lapangan sepak bola, tugasnya seperti tidak banyak berubah. Ia tetap membantu anak-anak lahir, hanya saja kali ini yang ia bantu adalah kelahiran mental dan kepercayaan diri.
Dalam pandangannya, membentuk pemain usia dini bukan hanya soal teknik menggiring bola atau ketahanan fisik. Itu adalah proses yang mirip dengan mendampingi persalinan: butuh kesabaran, kasih sayang, sentuhan emosional, dan kehadiran orang tua.
Karena itu, ia menyarankan agar orang tua para pemain ikut dibawa ke Surabaya, bukan ditinggal di kampung halaman.
Saran itu disambut oleh Pemerintah Kabupaten Malaka. Melalui Dinas Pemuda dan Olahraga, para orang tua difasilitasi untuk hadir langsung mendukung anak-anak mereka. Bupati Malaka, dr. Stefanus Bria Seran (SBS), menyampaikan alasan yang disampaikan sang pelatih.
“Bapak, orang tua harus ikut, karena dari rahim merekalah lahir anak-anak hebat ini.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi mengandung filosofi mendalam. Dalam ilmu kebidanan, dukungan emosional seorang ibu saat hamil dan setelah melahirkan berpengaruh langsung pada kekuatan mental anaknya.
Di sepak bola, prinsipnya sama. Sorakan seorang ibu dari tribun bisa menjadi imunisasi mental bagi pemain muda di lapangan. Teriakan “Ayo, Nak!” kadang jauh lebih ampuh daripada instruksi taktis dari pelatih.
Selama ini, para orang tua di Malaka setia mengantar dan menjemput anak-anaknya latihan setiap sore. Mereka mencuci sepatu, menyiapkan air minum, bahkan ikut berdiri di pinggir lapangan saat hujan.
Maka, ketika anak-anak itu kini bertanding di level nasional, dr. Dion merasa para orang tua juga harus ikut merasakan kebanggaan itu.
Seorang ibu tidak boleh dibiarkan melahirkan sendirian. Begitu pula seorang anak tidak boleh dibiarkan bertanding sendirian.
PS Malaka mungkin bukan tim unggulan. Mereka mungkin tidak datang dengan fasilitas mewah. Tetapi mereka datang dengan kekuatan yang tak dimiliki tim lain, kekuatan batin yang lahir dari rahim para ibu dan restu para ayah.
Mereka datang bukan hanya untuk mencetak gol, tetapi untuk menunjukkan kepada Indonesia bahwa pembinaan sepak bola usia dini tidak harus selalu dengan akademi megah atau pelatih asing.
Terkadang, cukup dengan dokter kebidanan yang tahu cara menjaga detak semangat seorang anak.
Dan di Surabaya, PS Malaka membuktikan: bahwa sepak bola bisa dibangun bukan hanya dengan otot dan taktik, tetapi juga dengan kasih sayang.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.





