Oleh: Frido Umrisu Raebesi
Di daerah kecil yang bernama Malaka, pada ujung selatan Pulau Timor, rakyat sedang bertahan hidup di tengah realitas pembangunan yang pincang dan tak adil. Dana-dana triliunan mengalir dari pusat setiap tahun, tapi aroma sejahtera tak kunjung terasa di kampung-kampung. Jalan rusak, air bersih tidak mengalir, rumah bantuan mangkrak, dan yang paling tragis: rumah sakit miliaran rupiah hanya menjadi monumen kegagalan.
Ironisnya, di tengah semua itu, kaum aktivis yang seharusnya menjadi benteng terakhir rakyat justru larut dalam urusan-urusan remeh. Mereka menjadi penjaga gengsi organisasi, bukan penjaga kepentingan publik. Mereka mendadak gagap ketika berhadapan dengan masalah besar, tapi lantang ketika yang diserang adalah ego mereka sendiri.
Mari kita sebut satu kasus besar yang kini menjadi simbol kegagalan pembangunan Malaka: RS Pratama Wewiku. Rumah sakit itu menelan anggaran lebih dari Rp45 miliar. Dana sebesar itu berasal dari uang rakyat, yang dikutip dari pajak, dipotong dari setiap transaksi negara, dan dihimpun dari tetesan keringat buruh, petani, nelayan, dan pedagang kecil. Tapi hingga hari ini, RS Pratama Wewiku tak kunjung beroperasi. Bangunannya berdiri, tapi jiwanya kosong. Tak ada pelayanan, tak ada pasien, bahkan tak ada kejelasan hukum.
Dan yang lebih menyakitkan: kaum aktivis di Malaka diam.
Tak satu pun yang mengangkat suara, menuntut keadilan atas lenyapnya dana rakyat itu. Tak ada demonstrasi. Tak ada siaran pers. Tak ada gugatan hukum. Yang ada justru kehebohan ketika organisasi mereka dikritik atau disebut-sebut dalam konteks negatif. Mereka lebih memilih berdiri tegak membela organisasinya ketimbang membela rakyat yang air bersihnya tak mengalir, rumahnya tak selesai dibangun, dan kesehatannya diabaikan oleh proyek mangkrak.
Lihat saja proyek air bersih di Desa Nanin, yang hingga hari ini belum selesai meski prosesnya dimulai sejak tahun 2021. PHO tak kunjung terjadi, air tak pernah mengalir ke rumah-rumah, pipa tak tersambung ke reservoir. Tapi adakah yang bersuara? Aktivis-aktivis ini justru lebih sibuk memperdebatkan dugaan ijazah palsu daripada menyuarakan kegagalan proyek air bersih itu. Mereka lebih giat membuat klarifikasi bahwa organisasi mereka suci dari cela, ketimbang bertanya ke kepala desa dan pihak inspektorat, “Di mana airnya?”
Tak cukup sampai di situ. Bantuan rumah korban badai Seroja juga masih jauh dari kata selesai. Padahal dana untuk itu bukan main-main. Tapi suara mereka tak terdengar. Padahal di setiap rumah yang tak selesai itu, ada satu keluarga yang masih tidur beralas tanah. Ada satu ibu yang masih menanak nasi di tungku darurat. Tapi aktivis-aktivis kita justru lebih peduli pada dugaan penghinaan terhadap eks pemimpin mereka. Mereka bersuara keras, melaporkan balik, menyebut Bupati Malaka anti kritik.
Saya tertawa getir. Karena saya tahu, sesungguhnya Bupati Stefanus Bria Seran sedang mendidik mereka. Dalam diam, SBS sedang membentuk aktivis-aktivis ini untuk menjadi petarung sejati. Bukan petarung status WhatsApp. Bukan petarung klarifikasi di media sosial. Tapi petarung yang siap melawan ketimpangan struktural dan ketidakadilan sistemik.
Apa yang dilakukan Bupati bukan bentuk anti kritik, tapi justru bentuk pendidikan mental agar generasi muda Malaka belajar membedakan antara kritik dan fitnah, antara aktivisme dan arogansi. Tidak semua suara keras itu benar, dan tidak semua laporan ke polisi adalah ancaman demokrasi. Kadang, laporan adalah cara mendidik mereka agar tahu batas dan tanggung jawab.
Saya tahu persis bagaimana rasa dihadapkan dengan aktivis-aktivis ini. Saya pernah dilaporkan ke Polres Malaka karena dianggap memfitnah dan mencemarkan nama baik organisasi mereka. Saya dituduh hendak menjatuhkan nama baik. Mereka ancam akan bawa kasus ini sampai Kapolri. Mereka ancam akan turunkan 30 pengacara. Tapi laporan itu mandek. Tidak satu pun dari ancaman itu yang benar-benar terjadi. Mengapa? Karena pada akhirnya, kebenaran punya daya tahan sendiri. Ia tidak butuh puluhan pengacara, tidak perlu konferensi pers. Ia hanya perlu bertahan, dan waktu akan membuktikannya.
Kini, suara mereka kembali bergema, tapi bukan untuk rakyat. Melainkan untuk eksistensi pribadi dan organisasi. Mereka lupa bahwa mereka bukan dilahirkan untuk membela logo, melainkan untuk membela penderitaan.
Mereka lupa bahwa masalah terbesar Malaka bukan honorer yang tak diangkat, bukan rumah jabatan yang direnovasi. Masalah terbesar kita adalah korupsi yang merampok masa depan. Masalah kita adalah proyek-proyek mangkrak yang menyandera hak hidup rakyat. Dan sayangnya, mereka memilih membisu di hadapan masalah itu.
Saya dengan tegas ingin mengatakan: aktivis lokal kita hari ini telah berubah menjadi aktivis cengeng yang buta dan tuli. Mereka buta melihat ketimpangan yang terjadi setiap hari. Mereka tuli mendengar jeritan rakyat yang hidup tanpa fasilitas dasar. Mereka berubah dari penjaga keadilan menjadi penjaga gengsi.
Padahal, jika mereka benar-benar punya akses ke Kapolri seperti yang sering mereka banggakan, seharusnya mereka gunakan itu untuk mendorong pengusutan tuntas kasus RS Pratama Wewiku. Seharusnya mereka minta KPK turun tangan menyelidiki proyek air bersih yang sejak 2021 tidak pernah menghasilkan setetes air pun. Seharusnya mereka laporkan ke BPK agar proyek Seroja diaudit secara menyeluruh.
Kalau mereka benar-benar peduli, mereka akan turun ke desa-desa, mendengar sendiri keluhan masyarakat, dan menyuarakannya dengan berani. Bukan malah menghabiskan energi membalas kritikan, membela organisasi, dan membangun narasi bahwa mereka sedang dizalimi.
Karena pada akhirnya, aktivis sejati tidak sibuk membela diri. Ia sibuk membela yang tak bersuara.
Kalau kalian tidak sanggup, berhentilah menyebut diri aktivis. Karena gelar itu terlalu agung untuk kalian yang hanya berani ketika nama organisasinya disinggung, tapi ciut saat berhadapan dengan mafia proyek. Kalian bukan pejuang. Kalian hanya penonton yang sesekali ingin tampil di panggung.
Malaka tidak butuh aktivis cengeng.
Malaka butuh mereka yang berani berkata jujur meski sendiri.
Malaka butuh mereka yang berani menyuarakan proyek mangkrak walau harus berhadapan dengan kekuasaan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.





