Opini  

Ketika Judi Online Jadi Ritual Baru Kelas Pekerja Oleh: Laurensius Bagus

IMG 20251009 WA0042 2746578612 1

RAEBESINEWS.COM – Fenomena judi online di Indonesia beberapa tahun terakhir berkembang pesat dan kian mengkhawatirkan. Di balik statistik penindakan pemerintah, ada gejala sosial yang lebih dalam: menjamurnya praktik judi daring di kalangan kelas pekerja dari buruh pabrik hingga ojek daring.

Bagi banyak orang di lapisan bawah, judi online bukan semata hiburan atau pelanggaran hukum. Ia telah menjadi ruang pelarian dari tekanan hidup yang kian berat di tengah ekonomi yang stagnan, gaji tak sebanding, dan meningkatnya biaya kebutuhan pokok.

Data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mencatat ribuan situs judi online diblokir setiap bulannya. Namun, langkah ini belum mampu menahan laju peningkatan jumlah pemain.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa judi online bukan sekadar persoalan moralitas, melainkan juga akibat dari tekanan ekonomi struktural.

Baca Juga: Anak Muda dan Kapitalisme Gaya Hidup: Ketika Konsumsi Menjadi Identitas

Di kota-kota besar, pekerja muda dengan gaji pas-pasan sering terjebak dalam siklus “gaji habis di tengah bulan”. Sementara di daerah seperti Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, atau Sulawesi, judi online menjadi satu-satunya bentuk hiburan yang mudah diakses.

Dengan ponsel murah dan koneksi internet seadanya, siapa pun bisa ikut “bermain nasib”.

Banyak pekerja memandang judi online sebagai peluang cepat memperbaiki hidup. Narasi kemenangan besar yang ditampilkan dalam iklan-iklan digital menjanjikan perubahan nasib hanya dalam hitungan detik. Namun di baliknya tersembunyi mekanisme algoritmik yang dirancang untuk membuat pemain kalah dalam jangka panjang.

Baca Juga: Air, Petani, dan Masa Depan: Menimbang Ulang Pengelolaan Sumber Daya Air di NTT

Fenomena ini memperlihatkan wajah baru eksploitasi di era digital.

Jika di masa industri klasik tenaga manusia dieksploitasi di pabrik, kini emosi, waktu, dan harapan dieksploitasi oleh sistem digital. Para pemain tidak hanya kehilangan uang, tetapi juga menjadi bagian dari rantai ekonomi yang memanen data dan perhatian mereka.

Bagi sebagian kalangan, judi online telah menjadi ritual harian.

Dalam rutinitas hidup yang monoton dan penuh tekanan, aktivitas bertaruh memberi sensasi kendali sesaat—seolah nasib bisa diubah dengan satu klik. Padahal, di balik perasaan itu tersembunyi ketergantungan yang makin dalam.

Baca Juga: Wakil Kepala OJK NTT Terpukau Keindahan Taman Eden Malaka: Surga Hijau di Tengah Mangrove Milik HMS

Ketergantungan ini bukan semata persoalan individu, melainkan cermin dari kekosongan makna dalam kehidupan kelas pekerja.

Ketika kerja keras tak lagi menjamin kesejahteraan, sebagian orang mencari makna dalam risiko dan keberuntungan. Judi online pun menjelma menjadi simbol keputusasaan yang disamarkan sebagai hiburan.

Negara selama ini masih menanggapi judi online dalam bingkai hukum semata. Pemblokiran situs dan penangkapan pelaku memang perlu, tetapi langkah itu hanya menyentuh permukaannya. Akar persoalanyakni ketimpangan ekonomi dan tekanan sosial belum tersentuh.

Baca Juga: Spesialis Kandungan yang Mencetak Sejarah: dr. Dion Bria Seran Bawa PS Malaka U-15 ke Final Piala Presiden 2025

Kebijakan yang lebih komprehensif dibutuhkan. Pemerintah perlu memperkuat literasi digital dan finansial di masyarakat bawah, menindak tegas iklan judi online di media sosial, serta menciptakan akses rekreasi dan peluang ekonomi yang lebih layak bagi kelas pekerja.

Negara harus hadir tidak hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai pelindung martabat sosial warganya.

Fenomena judi online pada akhirnya bukan sekadar soal pelanggaran hukum atau degradasi moral, melainkan refleksi dari krisis sosial dan ekonomi yang lebih dalam.

Baca Juga: Di Tengah Dunia yang Tak Pasti, Prabowo Tegaskan: “TNI Harus Jadi Benteng Terakhir NKRI”

Ketika sistem gagal memberikan rasa aman dan masa depan yang layak, ruang-ruang digital seperti judi online mengambil alih peran itu meski dengan konsekuensi destruktif.

Jika pemerintah benar-benar ingin menekan maraknya judi online, langkah pertama bukan hanya menutup situs, melainkan membuka ruang hidup yang lebih manusiawi bagi rakyat kecil.

Sebab hanya ketika hidup terasa layak dan bermakna, kebutuhan untuk mencari pelarian akan hilang dengan sendirinya.***

Baca Juga: Baret Biru TNI di Kongo Pegang Teguh Amanat Prabowo: Seribu Kawan Terlalu Sedikit

 

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *