Lebih dari Sekadar Salam: Makna Hormat SBS di Bibir Samudera Hindia

Screenshot 20250621 180231 Video Player 3949287502

RaebesiNews.com – Setiap kali ia berdiri di bibir pantai, waktu seperti diam sejenak. Ombak yang sejak tadi riuh mendadak melambat, seolah menghormati kehadirannya. Angin laut yang keras tiba-tiba berubah lembut, menyentuh wajah lelaki itu seperti tangan gaib seorang ibu.

Dialah dr. Stefanus Bria Seran, SBS, Bupati Malaka, yang dikenal punya kebiasaan tak lazim: memberi hormat di hadapan Samudera Hindia, dalam ritual sunyi yang nyaris seperti doa suci dari masa silam.

Baca Juga: Jelang Musim Tanam Kedua, Wakil Bupati Malaka Tinjau Saluran Irigasi di Fahiluka

Di antara kerang-kerang yang dibalikkan malam, karang yang bersinar dalam peluh garam, dan langit yang seakan melukis ulang cakrawala, SBS menatap laut dengan mata yang lebih dalam dari sekadar penglihatan biasa.

Ada yang bergerak dalam dadanya. Barangkali suara leluhur. Barangkali gumam para pejuang yang jasadnya karam, tapi semangatnya tak pernah padam.

“Laut ini tidak diam,” katanya pelan suatu kali. “Ia menyimpan nyawa. Menyimpan nama-nama yang hilang dari buku sejarah.”

Ketika ia mengangkat tangan memberi hormat, itu bukan sekadar gestur militer. Itu adalah jembatan gaib ke masa lalu. Kepada pertempuran-pertempuran yang tak tercatat tinta, hanya diukir oleh air asin dan debur gelombang.

Baca Juga: Jelang Musim Tanam Kedua, Wakil Bupati Malaka Tinjau Saluran Irigasi di Fahiluka

SBS menghormat kepada pejuang tak dikenal yang tubuhnya ditelan kapal yang bocor dan badai yang tak berpihak. Ia menghormat pada mereka yang mati demi merah putih, namun tak sempat pulang untuk disemayamkan.

Di pantai-pantai Malaka, Motadikin, Raihenek, Taberek, laut bukan hanya ruang geografis, ia adalah semacam makhluk hidup. Ia mendengar. Ia menjawab. Kadang dalam bentuk angin yang membawa kabar buruk, kadang lewat mimpi-mimpi nelayan yang menggigil saat fajar.

Laut di sini menyimpan banyak rahasia: tentang kapal-kapal Portugis yang karam, tentang mata-mata Jepang, tentang istri-istri yang menangis menatap horison yang tak memberi kabar.

Baca Juga: Bupati SBS Tegas: Kepsek yang Diganti Harus Segera Dipindahkan untuk Cegah Konflik

Barangkali karena itu, setiap kali SBS tiba di pantai, ia lebih dulu diam. Seolah menunggu izin. Seolah tahu, tempat itu bukan milik manusia semata. Ada penguasa tak kasatmata di sana. Dan menghormat adalah bentuk paling kuno dari kesopanan spiritual.

“Kadang saya merasa ada yang berjalan bersama saya di pasir,” ujar SBS suatu malam kepada seorang wartawan. “Tapi saya tidak takut. Mungkin mereka hanya ingin dikenang.”

Tak sedikit yang mencibir. “Bupati cari sensasi,” kata sebagian. Tapi mereka lupa, orang-orang yang terlalu mencintai tanahnya kadang memang terlihat aneh. Sebab mereka bicara dengan angin, menyapa pohon, dan memberi hormat kepada laut seolah laut bisa menjawab.

Baca Juga: Gotong Royong di Dusun Tabene, Penjabat Desa Umakatahan Pimpin Aksi Bersihkan PAUD Maria Helena

Tapi bukankah justru di situ letak kebijaksanaan kuno? Bukankah leluhur kita juga begitu: menyapa alam dengan sopan, berdoa sebelum melaut, menabur sirih di air sebagai tanda permisi?

SBS tidak hanya bupati. Dalam ritual-ritual sunyinya, ia menjelma semacam penjaga gerbang, antara dunia yang tampak dan dunia yang tak kasatmata. Ia menapak pasir sebagai manusia biasa, tapi langkahnya menggetarkan kesadaran kolektif tentang siapa kita dan dari mana kita berasal.

Sore itu di Pantai Taberek, langit memerah seperti mata luka. Ombak datang seperti detak jantung bumi yang lelah. Di sana, SBS kembali berdiri. Ia buat tanda salib di dada. Lalu berdiri tegak dan memberi hormat ke lautan.

Baca Juga: Banyak Alkes Terbengkalai di RS Pratama Wewiku: Warisan Gagal Era Simon Nahak

Angin mendadak berubah arah. Seekor burung laut melintas rendah. Dan saat itu, waktu seperti pecah dalam sekejap kesadaran: bahwa kita adalah bangsa yang hidup di atas arwah-arwah yang menjaga.

“Laut bukan hanya tempat rekreasi,” katanya kemudian. “Ia adalah kuburan tak bertanda. Dan setiap ziarah butuh hormat.

Kini, setiap jejak kaki SBS di pasir pantai Malaka menyisakan lebih dari sekadar jejak fisik. Ia menyisakan pelajaran: bahwa menjadi pemimpin tak hanya soal membangun jalan atau mencetak proyek. Tapi tentang membangun hubungan yang benar dengan sejarah, alam, dan Tuhan.

Baca Juga: Empat Bulan Memimpin, SBS-HMS Bawa Malaka Keluar dari Ketertinggalan

Dan bila suatu hari engkau menyaksikan ia berdiri di bibir laut, memberi hormat pada cakrawala—jangan anggap itu panggung. Itu adalah panggilan dari masa lalu. Itu adalah doa dari kedalaman sejarah. Itu adalah suara para pahlawan yang tak sempat berkata “selamat tinggal.”***

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *