Religi  

Ketika Tuhan, Alam, dan Leluhur Menyertai SBS di Pantai Cemara, Seketika Hujan Reda

Screenshot 20250614 192041 Gallery 2416479150

RaebesiNews.com – Tiga hari lamanya langit Malaka menangis. Hujan tak kenal lelah meneteskan rindunya ke bumi, membasahi setiap jengkal tanah Rai Malaka. Sungai-sungai kecil meluap, pohon-pohon bergetar dalam dingin, dan awan menggantung hitam, seolah tak mau pergi. Alam seperti menyembunyikan mataharinya dari pandangan manusia.

Namun pada hari ketiga, Jumat, 13 Juni 2025, sebuah kisah magis terjadi di ujung selatan Pulau Timor, di tanah yang disebut-sebut para leluhur sebagai tanah warisan, Rai Malaka.

Baca Juga: Wakil Ketua Pokja Bunda PAUD Malaka: Mari Gerakkan Wajib Belajar Satu Tahun Pra Sekolah

Hari itu, 477 Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kabupaten Malaka dijadwalkan menerima Surat Keputusan (SK) 80% mereka. Tempatnya bukan di gedung pemerintahan, bukan pula di aula mewah, tapi di bibir Pantai Cemara Abudenok, sebuah tempat suci bagi banyak warga pesisir, tempat di mana angin dan ombak sering menjadi saksi janji dan harapan.

Pagi hari itu, langit masih menangis. Gerimis turun dengan perasaan, seolah menimbang-nimbang antara tetap menyapa bumi atau mengundurkan diri. Tapi waktu tak bisa ditunda.

Baca Juga: Setahun RS Pratama Wewiku Mangkrak, Aktivis Malaka Diam Membisu Tak Punya Nyali

Dari Rumah Jabatan Bupati di Betun, Bupati Malaka dr. Stefanus Bria Seran (SBS) dan Wakil Bupati Henri Melki Simu (HMS) melangkah keluar, bersama sejumlah kepala dinas dan staf. Konvoi kecil bergerak pelan menembus hujan, menuju Pantai Abudenok.

Di sana, para CPNS telah berbaris rapi. Seragam putih-hitam mereka tampak kontras dengan pasir basah. Wajah-wajah muda itu bersinar, meski langit masih gelap. Mereka menanti bukan sekadar secarik surat, tetapi awal dari sebuah tanggung jawab dan pengabdian.

Baca Juga: Pemimpin yang Merapikan Dasi: SBS Sosok Teladan dan Ayahnya Orang Malaka

Ketika SBS tiba, ia tak langsung ke tenda. Ia berjalan perlahan menuju bibir pantai. Ombak menyambutnya lembut. Ia berdiri di sana, mengangkat tangannya ke langit, dan berdoa. Tak semua tahu apa yang ia ucapkan. Tapi mereka yang percaya, tahu bahwa itu bukan sembarang doa.

SBS memanggil Tuhan. Ia menyapa leluhur. Ia bicara pada alam yang telah lama menjadi bagian dari jiwanya. Ia tak meminta keajaiban, ia hanya memohon satu: agar langit Malaka hari ini bersujud, agar kegiatan ini berlangsung dalam damai dan terang.

Baca Juga: Tanggul Laut Pantura Siap Dibangun, Prabowo: Tak Lagi Sekadar Wacana!

Dan entah bagaimana, entah karena kebetulan atau restu semesta, langit mulai berubah. Awan hitam yang tadi tebal mulai berarak pergi. Sinar matahari muncul, pelan tapi pasti, menyibak tirai kelabu. Dalam sekejap, Pantai Cemara berubah menjadi altar alam, terang, teduh, dan penuh sukacita.

Acara pun dimulai. Doa pembuka, sambutan Bupati, lalu satu per satu, nama-nama dipanggil dan SK diserahkan. Di atas pasir, dengan debur ombak sebagai musik latar, ratusan anak muda resmi mengikat janji kepada tanah Malaka: melayani dengan tulus.

Baca Juga: Tanggul Laut Pantura Siap Dibangun, Prabowo: Tak Lagi Sekadar Wacana!

Usai kegiatan, SBS berdiri di tengah kerumunan. Wajahnya teduh, matanya berkaca.

“Saya hari ini gembira sekali,” ujarnya. “Tiga hari ini kita diguyur hujan. Bahkan tadi pagi pun masih hujan. Tapi saya berdoa kepada Tuhan dan minta berkat leluhur. Kalau bisa, hari ini cerah. Dan Puji Tuhan, lihatlah… langit ini bersih, tanpa awan sedikit pun.”

Di sampingnya, HMS menimpali dengan senyum khasnya, “Orang baik itu selalu diberkati Tuhan.”

Hari itu, bukan hanya SK yang diserahkan. Tapi juga harapan, restu, dan tanda bahwa alam pun tahu membedakan pemimpin yang datang dengan niat baik.

Baca Juga: Menyusuri Genangan Kota: Ketika Kepala Desa Wehali Turun Membersihkan Drainase

Tuhan, alam, dan leluhur menyatu di Pantai Cemara. Bersama SBS dan HMS, mereka menyaksikan satu halaman baru dibuka dalam sejarah pelayanan publik Malaka, dengan cahaya, bukan dengan air mata langit.

Dan di sanalah, di bawah langit yang baru saja tersenyum, generasi baru Malaka memulai langkah mereka.***

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *