RaebesiNews.com – Di antara lekuk-lekuk bukit kering dan jalan tanah berbatu yang meliuk seperti ular tua yang tertidur panjang, terhamparlah sebuah kampung yang sunyi, nyaris terlupakan: Kampung Arak, Desa Arak, Kecamatan Rinhat, Kabupaten Malaka.
Kampung ini seperti halaman terakhir dari sebuah buku tua yang jarang dibuka. Tak banyak lalu lintas kehidupan di sana. Hanya desir angin yang membawa kabar jauh dari Kalimantan tempat banyak keluarga Arak kini merantau, membawa serta asa dan anak-anak mereka.
Yang tersisa di kampung ini hanyalah yang bersetia: tanah yang keras, langit yang biru tanpa jenuh, dan sepotong harapan yang mengakar di sebuah sekolah dasar kecil SDI Sein.
Baca Juga: Kampung Arak: Suara dari Hulu Benenai yang Terlupakan, Dikunjungi Wakil Bupati HMS
Sekolah di Ujung Sepi
Sekolah ini berdiri sederhana. Bangunannya permanen, namun tidak berarti sempurna. Beberapa kelas memiliki kursi tanpa meja, dan ruang guru pun tak tersedia. Para guru 17 orang jumlahnya berbagi ruang, tugas, dan lelah. Dari jumlah itu, hanya dua yang berstatus Pegawai Negeri Sipil. Selebihnya adalah pejuang tanpa seragam kehormatan, tetapi penuh dedikasi.
Jumlah muridnya? Hanya 68 anak. Kelas satu dan dua masing-masing 15 anak. Kelas tiga delapan, kelas empat sepuluh, kelas lima dua belas, dan kelas enam hanya delapan anak.
Anak-anak yang Tetap Datang
Di tengah segala kekurangan itu, delapan anak di kelas enam tetap datang. Setiap hari. Dengan seragam sederhana, mereka menyapa siapa pun yang datang dengan mata yang jernih. Mereka tahu dunia mereka kecil, tapi mimpi mereka tidak.
Baca Juga: Filosofi ‘Omong A, Buatnya A’: Konsistensi SBS Kembali Terbukti
Ketika Wakil Bupati Malaka datang dalam kunjungan mendadak, delapan anak itu berdiri rapih.
“Selamat datang, Bapak,” kata mereka, seperti prajurit kecil yang telah lama menanti kunjungan seorang jenderal.
Wakil Bupati tertegun.
“Pak Kepsek, ada tujuh dusun, tapi muridnya sedikit sekali. Yang lain ke mana?”
Kepala Sekolah Philipus Meak menatap bukit di kejauhan, seolah dari sana ia ingin menarik kembali mereka yang telah pergi.
“Banyak yang merantau, Pak. Bawa anak-anak mereka. Yang tinggal, banyak juga yang tidak sekolah. Sulit topografi di sini. Minat sekolah juga rendah,” ungkap Kepsek.
Semangat yang Tak Pernah Pergi
Namun delapan anak itu tetap berdiri tegak. Mereka ingin lanjut ke SMP di desa tetangg Oekmurak. Untuk itu, mereka harus bangun sebelum ayam jantan selesai berkokok. Jalan kaki belasan kilometer, meniti jalan tanah dan akar pohon, menyeberangi parit kering dan batu-batu besar. Waktu tempuhnya? Setengah jam, kata mereka. Tapi kita tahu, itu setengah jam versi anak-anak yang tumbuh bersama alam: langkah mereka lebih ringan, semangat mereka lebih besar.
“Biar jauh, kami tetap mau sekolah,” kata seorang dari mereka, dengan suara serak-serak malu tapi penuh tekad.
Baca Juga: Bupati SBS: Kepala Desa Tak Boleh Seenaknya Ganti Aparat, Ada Aturan Mainnya!
Di Antara Meja yang Hilang
Di kelas yang sunyi, beberapa anak duduk di kursi tanpa meja. Mereka menulis di pangkuan atau menjadikan tas sebagai meja darurat. Di sudut lain, guru berdiri tanpa papan tulis yang layak, menjelaskan dengan kapur dan papan yang retak.
Namun dari retak itu, lahirlah cahaya kecil. Sebab sekolah ini masih hidup. Masih ada anak yang mau datang. Masih ada guru yang mengajar tanpa menuntut lebih. Dan masih ada kepala sekolah yang menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan kepala tegak, walau matanya tak bisa menyembunyikan lelah.
Janji di Atas Tanah Kering
Wakil Bupati berjanji. Ia akan kirim tim dari Dinas Pendidikan untuk mendata semua kekurangan. Meja, kursi, ruang guru, dan lainnya. Ia tahu ini bukan sekolah biasa. Ini adalah titik paling ujung dari jangkauan pendidikan di Malaka. Ini bukan soal bangunan. Ini tentang anak-anak yang tetap ingin belajar di tengah segala yang tidak.
Baca Juga: Bupati SBS: Kepala Desa Tak Boleh Seenaknya Ganti Aparat, Ada Aturan Mainnya!
Menjaga Api di Tengah Padang
Di Kampung Arak, suara anak-anak SDI Sein adalah suara masa depan yang masih bertahan. Mereka tidak punya fasilitas lengkap. Mereka tidak punya jumlah murid banyak. Tapi mereka punya sesuatu yang tak bisa dibeli: semangat bertahan di tengah keterbatasan.
Mereka adalah nyala kecil di tengah padang yang luas. Selama masih ada satu anak yang datang ke sekolah itu, selama masih ada guru yang berdiri di depan kelas, maka SDI Sein bukan sekolah yang kalah. Ia adalah sekolah yang sedang bertahan.
Dan barangkali, dari ujung Malaka ini, akan lahir satu bintang kecil yang berjalan jauh membawa cahaya dari kampung yang dulu kita kira sepi. **
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.





