RaebesiNews.com – Langit mendung, laut membentang tenang. Birunya menggoda, menyimpan keindahan yang tak lekang digerus waktu. Di bibir pantai, ombak menari perlahan menyentuh pasir putih yang bersih, seolah menyambut siapa saja yang datang dengan damai.
Tapi beberapa langkah ke atas, di jalur yang seharusnya menjadi jalan provinsi yang mulus mengantar manusia menuju cita-cita, kita dihadapkan pada kenyataan pahit: aspal terkelupas, jalan amblas, dan tebing patah seperti duka yang tak terobati.
Inilah ironi yang memalukan di selatan Pulau Timor, tepatnya di jalan provinsi yang menghubungkan Kabupaten Malaka, TTS dan Kupang. Sebuah rute vital, nadi utama yang menghubungkan ujung timur dengan pusat pemerintahan dan pelayanan publik di ibu kota provinsi.
Baca Juga: Dekranasda Malaka Belajar dari NTT: Genjot Inovasi Tenun Ikat dan Pemasaran Produk Lokal
Namun kini, jalan itu tak lagi menjadi penghubung yang layak. Ia justru menjadi penghalang. Mengkhianati fungsi dasarnya, menyakiti siapa pun yang menggantungkan harapan di atasnya.
Satu foto yang dibagikan oleh Ignasius Roy S. Tei Seran di media sosial menjadi semacam lukisan kritik yang menyentuh banyak orang. Foto itu menangkap dua dunia: dunia atas yang retak, dunia bawah yang damai. “Antara keindahan dan keburukan,” tulis Roy. Kalimat itu sederhana tapi menghunjam, karena ia menyuarakan keluhan yang sudah lama dipendam masyarakat Malaka dan sekitarnya.
Baca Juga: Tiga Pilar Pembangunan SBS: Pendidikan, Kesehatan dan Pertanian Harus Jadi Prioritas
Jalan Rusak, Harapan Terperosok
Bagi masyarakat Kabupaten Malaka, jalan ini bukan sekadar akses. Ia adalah urat nadi kehidupan: tempat para guru dan pelajar melintas setiap pagi menuju sekolah, tempat pasien dirujuk ke rumah sakit di Kupang, tempat petani menjual hasil panen, dan tempat keluarga kembali ke rumah setelah bepergian jauh.
Kini, setiap perjalanan adalah perjudian. Jalan yang amblas akibat longsor dan curah hujan tinggi tidak hanya menyulitkan pengendara, tetapi juga mengancam nyawa. Belum lagi di malam hari, ketika tidak ada lampu penerangan dan rambu keselamatan, jalanan ini menjelma menjadi kuburan sunyi yang menanti korban berikutnya.
Kerusakan ini bukan baru kemarin. Retakan sudah tampak sejak lama, tapi perbaikan tak kunjung tiba. Tahun berganti, musim berlalu, dan pemerintah provinsi tetap diam seolah menunggu tanah itu menelan seluruh badan jalan lebih dahulu sebelum bertindak.
Baca Juga: Biaya RS Pratama Wewiku Tembus Rp44,95 M, Lebih Mahal dari RS Pratama Kualin yang Bertingkat
Kritik untuk Pemerintah Provinsi NTT
Jalan provinsi adalah tanggung jawab pemerintah provinsi. Maka tentu, perhatian publik sekarang tertuju pada Dinas PUPR Provinsi Nusa Tenggara Timur. Di tengah gembar-gembor pembangunan dan anggaran infrastruktur yang besar, bagaimana mungkin jalan vital seperti ini luput dari perhatian?
Apakah pembangunan hanya untuk daerah yang strategis secara politik, sementara wilayah perbatasan seperti Malaka dibiarkan bertarung dengan alam tanpa perlindungan? Apakah masyarakat perbatasan dianggap warga kelas dua, yang cukup diberi janji dan narasi, tanpa bukti nyata?
Pertanyaan-pertanyaan itu menggema bukan dari satu suara, tetapi dari seluruh rakyat kecil yang setiap hari melewati jalan rusak ini dengan penuh kecemasan.
Antara Wisata dan Ketimpangan
Ironisnya, di saat yang sama, pemerintah provinsi tengah giat mempromosikan destinasi wisata baru. Pantai di Selatan Timor disebut-sebut sebagai surga tersembunyi, dengan potensi besar untuk menarik wisatawan domestik dan mancanegara. Tapi bagaimana wisatawan akan datang jika jalan menuju keindahan itu justru menjadi mimpi buruk?
Keindahan alam tidak cukup untuk memikat pelancong jika akses menuju ke sana penuh lubang dan longsoran. Tak ada orang yang ingin menjelajah surga lewat jalur maut. Maka, jika pembangunan pariwisata menjadi prioritas, pembangunan infrastruktur penunjangnya harus berjalan seiring, bukan tertinggal jauh di belakang.
Baca Juga: Uang Rp1,8 Miliar Raib, BRI Klarifikasi: Server PT VSN Disusupi Hacker, Nasabah Diminta Waspada
Sebuah Seruan dari Selatan
Suara-suara dari Selatan kini tak lagi bisa dibungkam. Mereka tidak menuntut muluk-muluk. Tidak meminta jalan tol atau jembatan layang. Mereka hanya ingin jalan yang aman, layak, dan manusiawi, sebuah fasilitas dasar yang seharusnya diberikan oleh negara sejak lama.
Mereka tidak butuh seremoni pengguntingan pita atau pidato panjang saat perbaikan jalan akhirnya dilakukan. Mereka hanya ingin bisa melintas tanpa rasa takut. Mereka ingin jalan itu kembali menjadi sahabat, bukan ancaman.
Sebagai media, sebagai rakyat, sebagai manusia, kita tidak boleh diam. Karena membiarkan ketimpangan ini terus berlangsung adalah bentuk pengkhianatan terhadap cita-cita keadilan sosial yang dijanjikan dalam konstitusi.
Baca Juga: Jelang Musim Tanam Kedua, Wakil Bupati Malaka Tinjau Saluran Irigasi di Fahiluka
Luka yang Menganga di Tanah yang Cantik
Di selatan Timor, ada pantai yang cantik. Tapi tak jauh dari situ, ada luka yang menganga. Luka itu bernama jalan rusak. Dan selama luka itu belum disembuhkan, keindahan alam akan tetap dibayang-bayangi oleh keburukan buatan manusia.
Sudah waktunya pemerintah provinsi membuka mata, turun ke lapangan, dan melihat sendiri bagaimana rakyat berjuang menaklukkan jalan yang seharusnya menjadi hak mereka. Jangan tunggu korban, jangan tunggu suara lantang jadi teriakan marah. Bertindaklah sekarang, karena keindahan tanpa infrastruktur adalah mimpi indah yang dibangun di atas patahan harapan.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RaebesiNews.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.




