SBS HMS Menjadi Simbol Demokrasi yang Cerdas Masyarakat Malaka, Isu SARA Tidak Mempan

20250313 102611

RaebesiNews.com – Kabupaten Malaka merupakan daerah otonom baru hasil pemekaran Kabupaten Belu yang dibentuk dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2013 Tentang Pembentukan Kabupaten Malaka Di Provinsi Nusa Tenggara Timur, dengan pusat pemerintahan berada di Betun.

Sejak dibentuk menjadi daerah otonom baru, Kabupaten Malaka sudah tiga kali melaksanakan Pilkada.

Hasil Pilkada Malaka 2015, melahirkan pemimpin perdana saat itu yakni bupati Stefanus Bria Seran dan wakilnya Daniel Asa.

Di periode berikutnya, Pilkada Malaka 2020 Simon Nahak dan Kim Taolin berhasil keluar sebagai pemenang mengalahkan Stefanus Bria Seran dan Wandelinus Taolin.

Simon Nahak dan Kim Taolin memimpin Kabupaten Malaka selama 3,5 tahun. Tepat pada tahun 2024 kemarin, Simon Nahak dan Kim Taolin dikalahkan oleh Stefanus Bria Seran bersama wakilnya Henri Melki Simu.

Kabupaten Malaka mayoritas orangnya beragama Katolik dan sebagian kecil ada Protestan dan Islam.

Sedangkan masyarakatnya didominasi oleh suku Fehan dan Foho. Namun ada sebagian kecil dari turunan Thianghoa (China), Bugis dan Jawa.

Itulah gambaran singkat mengenai Kabupaten Malaka dan para pemimpinnya serta agama dan sukunya.

Namun yang paling menarik untuk diulas adalah soal kedewasaan dan kecerdasan berpolitik masyarakat Kabupaten Malaka.

Masyarakat Malaka Tidak Terhasut Dengan Isu SARA

Isu Suku Agama Ras dan Antar Golongan (SARA) telah menjadi momok dalam setiap penyelenggaraan pemilihan kepala daerah (Pilkada).

Meski demikian masyarakat dapat mencegah atau melawan isu SARA dengan tidak mudah terhasut oleh isu perpecahan, bersikap kritis dan mulai mencounter informasi baik kepada sesamanya.

Pilkada Malaka tahun 2024 banyak isu SARA juga muncul di akar rumput dan media sosial.

Biasanya yang menyebarkan isu SARA adalah kelompok atau golongan primitif yang belum paham maksud dan tujuan dari demokrasi.

Mirisnya, mereka para penyebar isu SARA ini juga ada beberapa yang punya gelar akademik mentereng. Namun kepentingan politik dan ambisi politik membuat mereka buta dan jadi kerdil berpikir.

Namun masyarakat Kabupaten Malaka sudah cerdas dan dewasa dalam berpolitik. Isu SARA itu tidak mempan untuk mengganggu pilihan politik mereka. Mereka memilih pemimpin yang pro rakyat dan tidak berdasarkan suku, agama dan ras.

Ketika munculnya sosok Henri Melki Simu, banyak lawan politiknya mulai panik.

Mengapa panik? Karena Henri Melki Simu adalah orang yang jujur, dicintai rakyat dan disiplin. Apalagi Henri Melki Simu berpasangan dengan dr. Stefanus Bria Seran. Pasangan yang kompak dan cocok untuk membangun Malaka dengan karakter yang sama.

Karena panik, isu paling menarik adalah SARA. Banyak postingan di Facebook, Tiktok dan Youtube yang menyudutkan Henri Melki Simu.

Katanya, ‘jangan pilih orang China, karena nanti kita dijadikan babu semua.’ Jangan pilih orang China karena hanya pikir untuk bisnis saja.’ Orang Katolik harus pilih Katolik.’ Jangan pilih orang yang tidak punya rumah adat di Malaka.’

Itulah narasi – narasi berbau SARA yang dilontarkan pada Pilkada Malaka 2024 kemarin.

Namun, semua itu tidak memengaruhi pilihan masyarakat Kabupaten Malaka. Masyarakat Malaka sudah cerdas.

Masyarakat Malaka bahkan dengan tegas menolak dan melawan isu SARA tersebut.

Masyarakat Malaka sudah cerdas berpolitik, walau baru 3 kali melaksanakan Pilkada.

Isu SARA tidak mempan di Kabupaten Malaka.

“Siapa saja, mau China, Foho, Fehan, Marae atau Timor, kalau punya niat membangun Kabupaten Malaka, masyarakat Malaka siap dukung. Termasuk mau agama apa saja. Kami tidak melihat itu,” ungkap Sergy Klau, pengacara muda asal Malaka.

Hal yang sama diungkapkan salah satu pendukung SBS HMS yang cukup berpengaruh di Kabupaten Malaka.

“Kami pilih SBS HMS tidak melihat asal – usulnya. Tidak juga dari sisi agama atau suku. Alasan kami pilih SBS HMS karena dua orang ini adalah sosok yang pas untuk membangun Kabupaten Malaka. SBS seorang dokter senior dan beliau punya kemampuan untuk memperbaiki pelayanan kesehatan di Malaka. Sedangkan HMS punya niat yang kuat untuk melayani masyarakat Malaka. HMS itu punya hati yang tulus untuk masyarakat Kabupaten Malaka,” ungkap Sarus Manafe, salah satu tokoh berpengaruh yang mendukung SBS HMS, Senin (17/03/2025).

Perlu diakui bahwa masyarakat Kabupaten Malaka sudah sangat cerdas berpolitik. Hal ini juga diungkapkan oleh Henri Melki Simu sebagai saksi dan dia mengalaminya langsung.

“Tidak pernah melintas dalam pikiran saya akan jadi wakil bupati di Kabupaten Malaka. Saya ini siapa? Tapi masyarakat Malaka luar biasa. Masyarakat Malaka menentukan pilihannya dengan cerdas dan dewasa sehingga bisa memilih SBS HMS. Terima kasih sudah mendukung SBS HMS dan kami akan bekerja untuk rakyat Malaka, tanpa membeda – bedakan,” ungkap HMS.

Masyarakat Malaka tidak memilih pemimpin karena menganut agama yang sama atau suku yang sama.

Masyarakat Malaka memilih pemimpin berdasarkan analisa yang kuat untuk membangun Kabupaten Malaka.

Agama, suku dan Ras tidak menjadi patokan untuk menjadi pemimpin di Kabupaten Malaka. ***

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *