RAEBESINEWS.COM – Langit Manado siang itu seperti altar terbuka. Awan-awan putih menggumpal laksana dupa yang mengepul ke angkasa. Di kejauhan, berdiri megah sosok Tuhan Yesus dengan tangan terentang, menatap dunia dari atas bukit, seolah hendak memeluk seisi kota. Ia tak bergerak, tapi kehadirannya menggetarkan.
Aku berdiri di bawahnya, kecil dan bisu, ditemani desir angin dan suara dedaunan yang saling menyapa. Di hadapan patung raksasa itu, aku merasa tak perlu berkata-kata. Segala doa telah dikandung dalam diam.
Baca Juga: Langgar Perda Penyertaan Modal ke Bank NTT, Mantan Bupati Malaka Simon Nahak Layak Diperiksa
Manado dan Sebuah Doa yang Menjelma Batu
Patung Tuhan Yesus Memberkati ini menjulang 50 meter dari tanah, berdiri di ketinggian 150 meter di kawasan perumahan elit Citraland. Tapi bukan megahnya yang menggetarkan hati, melainkan maknanya. Bahwa manusia butuh tanda. Butuh tempat untuk pulang dalam doa. Butuh simbol yang menyejukkan jiwa saat dunia terlalu riuh.
Orang datang dari jauh hanya untuk berdiri di bawah tangan-Nya. Beberapa membawa kamera, beberapa membawa air mata. Tapi semua pulang membawa sesuatu: penghiburan.
Dan aku, anak dari Timur, dari tanah Malaka yang jauh di selatan Nusa Tenggara Timur berdiri di sini, dan hatiku tiba-tiba pulang. Bukan ke rumah, tapi ke satu harapan: “Kapan Malaka punya ikon seperti ini?”
Baca Juga: Henri Melki Simu Ungkap Kejanggalan Era Simon Nahak: Dana Bank NTT Disabotase?
Rindu yang Bertumbuh di Tanah Sendiri
Kabupaten Malaka, tanah leluhurku, kaya akan kisah dan semangat. Kami punya gereja-gereja tua, gua Maria yang sakral, dan umat yang teguh dalam iman. Tapi kami belum punya satu tempat yang bisa menjadi pelukan bagi siapa saja yang lelah. Belum ada satu simbol keimanan yang berdiri tinggi di atas bukit, melampaui perbedaan, menyatukan doa dalam bentuk nyata.
Bayangkan sebuah patung Tuhan Yesus di atas puncak Weliman. Atau salib raksasa yang berdiri tenang di perbukitan Alas Selatan. Bukan untuk megah-megahan, tapi untuk memberi tempat kepada jiwa-jiwa yang ingin diam sejenak mengingat, mengampuni, dan mengucap syukur.Tempat ziarah yang tak hanya dikunjungi, tetapi dihidupi.
Baca Juga: Ketika yang Kalah Tak Tahu Diri: Memainkan Isu Hoax Tujuan Adu Domba
Dari Doa di Manado ke Harapan untuk Malaka
Perjalanan ini bukan sekadar wisata. Ia adalah renungan dalam langkah. Di bawah patung Yesus yang berdiri dengan tangan terentang, aku melihat ke masa depan. Aku membayangkan anak-anak muda Malaka yang datang membawa keluarga mereka, duduk di bawah patung serupa di tanah sendiri, berdoa dalam bahasa hati.
Aku membayangkan wisatawan yang singgah di Malaka bukan hanya untuk pantai atau kuliner, tapi untuk menemukan damai. Untuk berdiri di hadapan salib, atau patung Kristus, dan menemukan bahwa iman juga bisa menjadi destinasi.
Baca Juga: Fitnah 7000 Tenaga Kontrak: Hoaks yang Diciptakan Barisan Sakit Hati
Sebuah Ziarah yang Belum Usai
Ziarah ini belum selesai. Karena sebagian dari hatiku masih berdoa, agar di tanah kelahiran di antara savana, bendungan, dan ladang yang luas, akan tumbuh pula simbol iman yang meneduhkan. Ikon yang tak hanya dibangun dengan beton dan besi, tapi dengan cinta dan harapan seluruh anak Malaka.
“Aku menatap Patung Yesus di Manado, tapi hatiku berdoa untuk Malaka.”
Frido Umrisu Raebesi
Malaka, Nusa Tenggara Timur***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.





