Opini  

Ketika Anak-anak Menyambut Pemimpin dengan Telanjang Kaki dan Bupati SBS Datang dengan Hati yang Tulus

Screenshot 20250630 174600 Gallery 4048544502

RaebesiNews.com – Di jalan sempit yang basah oleh aliran hujan semalam, deru mobil dinas belum mampu menenggelamkan suara tawa anak-anak. Mereka berlarian tanpa alas kaki, menyambut iring-iringan kendaraan hitam yang perlahan merayap di antara pepohonan kelapa dan pohon asam tua.

Bukan karena mereka ingin melihat pejabat. Bukan karena ingin dekat dengan kekuasaan. Mereka datang karena tahu—di dalam salah satu mobil itu, ada seorang bapak yang hatinya selalu terbuka untuk mereka. Seorang pemimpin yang mereka kenal bukan dari baliho atau berita, tapi dari sentuhan tangan dan tatapan mata: dr. Stefanus Bria Seran, Bupati Malaka.

Baca Juga: Pembentukan Pengurus KDMP Weulun, Berkas Resmi Diterima Tim Verifikasi Disperindagkop Malaka

Dalam Dekapan Anak-anak Tanah

Malaka adalah tanah yang tak pernah selesai mencintai. Setiap butir debunya mengandung kisah. Dan SBS adalah salah satu kisah yang hidup, menembus jarak birokrasi untuk menyentuh hati yang paling tulus. anak-anak.

Ia tak datang dengan janji manis. Ia datang dengan kehadiran. Ia tak membagikan uang atau amplop. Ia membagikan waktu, senyum, dan perhatian. Hal-hal kecil yang kadang luput dari perhitungan pembangunan, tetapi justru abadi dalam jiwa seorang anak.

“Anak-anak adalah sungai waktu,” kata SBS dalam satu percakapan sederhana dengan guru desa. “Jika kita jaga hulunya hari ini, maka besok kita minum dari mata air yang jernih.”

Baca Juga: Wakil Bupati Malaka HMS Tinjau Pengerjaan Deker Akses Menuju Pantai Motadikin

Langkah Kecil Menuju Masa Depan Besar

SBS melihat anak-anak bukan sebagai beban negara, tapi sebagai matahari kecil yang sedang belajar terbit. Di balik tubuh mungil dan langkah tak seimbang itu, tersimpan daya juang yang luar biasa. Dan ia, sebagai pemimpin, memilih menjadi tanah yang subur tempat benih-benih itu tumbuh.

Ia tahu, di kelas-kelas sekolah yang reyot, anak-anak Malaka sedang belajar mengeja harapan. Ia tahu, di halaman posyandu, bayi-bayi kecil sedang menanti uluran gizi dan imunisasi agar esok mereka bisa berdiri tegap, bersaing dengan dunia. Maka, ia tak pernah lelah menandatangani kebijakan untuk mereka. Karena dalam setiap coretan tinta, ada cinta yang ingin diwariskan.

Baca Juga: Wakil Bupati HMS Pantau Perbaikan Jalan Sampai Malam di Sanleo

Pemimpin yang Menjadi Ayah

Apa arti seorang pemimpin, jika ia tak bisa ditangisi oleh anak kecil ketika pergi?
Apa arti jabatan, jika tak ada hati yang mendoakan dari sudut dusun?

SBS menjawab itu semua dengan cara yang paling sunyi. Ia hadir, duduk di tanah bersama anak-anak, bertanya dengan lembut: “Mau jadi apa nanti?”
Dan dari bibir yang belum fasih itu, lahirlah jawaban penuh cahaya: “Dokter… Guru… Presiden… Bupati… Seperti Bapa SBS.”

Ia tertawa pelan, dan dalam hatinya, ia tahu: tugasnya belum selesai.

Baca Juga: Mantan Bupati Simon Nahak Dinilai Tak Paham Mekanisme Pengangkatan PPK: Kasus Gabriel Seran Jadi Cerminan

Mereka yang Tak Bisa Berbohong

Anak-anak adalah makhluk paling jujur. Mereka tidak tahu pencitraan. Mereka tak paham politik. Mereka mendekat karena mereka percaya. Dan kepercayaan itu lahir bukan dari slogan, melainkan dari kehadiran nyata.

Lihatlah foto itu, rombongan anak-anak kecil menyambut mobil Bupati, menyeberangi air tanpa takut, mendekat tanpa ragu. Seakan mereka tahu, dunia yang keras bisa jadi lebih lembut jika dihuni oleh orang-orang seperti SBS.

Warisan yang Tak Tampak

Satu hari nanti, jabatan itu akan usai. Baju dinas akan disimpan. Mobil plat merah akan berlalu. Tapi yang tertinggal adalah cerita-cerita kecil—tentang seorang Bupati yang mau duduk di tanah, tentang seorang pemimpin yang menggandeng anak-anak, bukan karena kamera, tapi karena cinta.

Baca Juga: Putusan MK Soal Keserentakan Pemilu Dinilai Kontradiktif oleh Anggota DPR, DPR Siap Lakukan Rekayasa Konstitusional

Dan cinta, tak bisa dipalsukan. Ia tumbuh, menular, dan diwariskan. Anak-anak itulah saksi paling jujur dari warisan SBS. Bukan dalam bentuk tugu, tetapi dalam bentuk keberanian untuk bermimpi. Dalam keyakinan bahwa mereka bisa menjadi apa saja, karena pernah disapa dan dihargai oleh seorang Bupati.

Dalam riak kecil sungai waktu, SBS telah menanam harapan. Ia tidak memilih menjadi pelaut di kapal besar yang mewah, tapi memilih menjadi pendayung di sampan kecil yang menyusuri dusun.

Ia tidak menunggu anak-anak datang ke kantor, tapi ia yang datang ke halaman sekolah mereka.

Dan di situlah kebesaran sejatinya: seorang pemimpin yang tahu bahwa masa depan tidak dibentuk di ruang sidang, tapi di tengah tawa anak-anak yang berlari mengejarnya di jalan-jalan tanah Malaka.***

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *