RaebesiNews.com – Di Kabupaten Malaka, panggung politik pasca-Pilkada 2024 belum juga surut dari drama dan sandiwara. Padahal, rakyat sudah menentukan pilihannya.
Rakyat Malaka dengan sadar dan bermartabat memilih duet pelayan rakyat, dr. Stefanus Bria Seran (SBS) dan Henri Melki Simu (HMS), untuk kembali menakhodai daerah ini.
Tapi, rupanya, ada sekelompok kecil yang belum selesai berdamai dengan kekalahan. Mereka bukan hanya gagal dalam pertarungan politik, tetapi kini juga gagal memahami apa itu etika dan akal sehat.
Mereka berselimut dalam jubah “aktivis”, tetapi sebetulnya hanya corong bayaran politisi kalah. Kritik mereka tajam, tapi tanpa isi. Retorika mereka menggelegar, tapi tanpa dasar.
Mereka menyoal rumah jabatan, mereka ribut soal baliho, mereka menggonggong di media sosial, tetapi lupa melihat fakta bahwa SBS-HMS sedang sibuk kerja nyata.
Ketika “aktivis” ini sibuk orasi dengan nada tinggi, Wakil Bupati Henri Melki Simu justru sibuk turun ke sawah, menggali saluran air untuk petani.
Ketika mereka sibuk konferensi pers dadakan di sudut-sudut warung kopi atau bahkan kantor LSM gadungan, Bupati SBS tengah berada di Jakarta, memperjuangkan anggaran untuk jalan Umasakaer – Balibo, memperjuangkan rumah sakit, memperjuangkan irigasi dan listrik desa.
Apa yang para aktivis ini perjuangkan, selain ambisi politisi yang gagal move on?
Mereka hanya menjadikan aktivisme sebagai alat tukar: proposal fiktif, janji-janji “laporan ke pusat”, bahkan, ironisnya, ada yang terang-terangan minta uang ke pejabat. Ketika ditolak, mereka berubah jadi singa lapar. Mereka bukan memperjuangkan rakyat, tapi memperjuangkan perut dan pesanan elit politik yang sudah ditinggal rakyat.
Mari kita uji satu hal penting: di mana mereka saat jalan Manulea rusak? Di mana suara mereka ketika proyek RS Pratama Wewiku mangkrak di era sebelumnya? Di mana orasi mereka saat ribuan hektar sawah kekeringan karena saluran irigasi tersumbat? Sunyi. Kosong. Mati gaya. Karena saat itu yang berkuasa adalah tuan mereka.
Kini, ketika rakyat menikmati program pengobatan gratis cukup dengan e-KTP, mereka justru marah. Ketika petani mulai menikmati saluran irigasi tersier, mereka seolah kecewa.
Mengapa? Karena semua keberhasilan itu bukan datang dari politisi yang mereka puja-puji, melainkan dari pasangan SBS-HMS yang bekerja diam-diam namun berdampak luas.
Bukan hal baru sebenarnya. Dalam sejarah, selalu ada aktivis semu—yang lebih haus panggung daripada nilai. Mereka memakai nama rakyat, tapi membela kepentingan pribadi.
Mereka menyebut diri pejuang keadilan, tapi diam ketika penjahatnya adalah teman sendiri. Mereka baru teriak ketika tidak kebagian jatah proyek, tidak dilirik jadi staf khusus, atau proposal mereka tidak ditandatangani.
Rakyat Malaka tidak bodoh. Mereka tahu siapa yang bekerja dan siapa yang hanya berisik. Mereka melihat siapa yang bangun jalan, siapa yang turun bantu warga di sawah, siapa yang bikin program pengobatan gratis, dan siapa yang cuma mengandalkan status WhatsApp dan video TikTok.
SBS-HMS tidak sedang sibuk meladeni kritik murahan. Mereka terlalu sibuk bekerja. Dan rakyat tahu itu.
“Pemimpin sejati tidak menjawab semua kritik. Ia membiarkan hasil kerjanya berbicara.”
— Nelson Mandela
Sudahlah. Pilkada sudah selesai. Rakyat sudah memilih. Kalau benar aktivis, berjuanglah untuk rakyat, bukan untuk politisi yang kehabisan bensin. Kalau punya data, buka di ruang publik. Tapi kalau hanya bisa mengkritik tanpa solusi, lebih baik diam dan belajar. Karena rakyat Malaka tidak butuh pengacau, mereka butuh pelayan.
Dan pelayan itu kini bernama SBS-HMS.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.





