Posyandu Desa As Manlea: Ada Temuan Kasus Gizi Buruk dan Kelainan Jantung

Screenshot 2025 08 10 11 43 06 64 6012fa4d4ddec268fc5c7112cbb265e7 2503677447

RaebesiNews.com – Di halaman kecil Posyandu Kakase, udara terasa segar meski sinar matahari mulai menghangatkan tanah. Suara tawa bayi bersahut-sahutan dengan percakapan para ibu yang menggendong anak mereka.

Delapan kader berdiri sigap di meja pelayanan, enam kader posyandu, satu kader KPM, dan satu kader KB, siap menyambut warga yang datang sejak pagi buta.

Hari itu, tak satu pun dari 41 bayi balita yang menjadi sasaran absen. Mereka hadir semua, sebagian dengan pipi bulat yang memerah, sebagian lain masih terkantuk di pelukan ibu.

Di meja pertama, penimbangan berat badan dilakukan. Angka di timbangan menjadi catatan penting, meski hari ini alat itu sempat “nakal” jarumnya bergerak berubah-ubah, membuat para kader harus mengukur berulang kali.

Namun, di balik keceriaan itu, ada kabar yang membuat hati mengerut. Seorang bayi berusia 10 bulan, dengan berat hanya 5,5 kg, terdeteksi gizi buruk. Tenaga kesehatan segera berunding, memutuskan merujuknya ke Therapeutic Feeding Center agar mendapat perawatan intensif.

Ada pula bayi usia enam bulan dengan kelainan jantung bawaan. Beratnya hanya 3,5 kg dan hingga kini baru mendapat vaksin BCG. Tatapan mata ibunya bercerita banyak, tentang lelah, cemas, sekaligus harapan.

Tak hanya bayi balita, enam ibu hamil juga hadir, menerima penimbangan berat badan, pemeriksaan kehamilan, serta tablet Fe dan kalsium.

Di sudut lain, sepuluh lansia duduk rapi menunggu giliran untuk diperiksa berat badan, tinggi badan, dan lingkar perut. Obat-obatan sederhana diberikan, disertai senyum yang menenangkan.

Suasana paling riuh justru datang dari 20 remaja, sebagian berseragam SMP, sebagian lagi mahasiswa yang sedang libur kuliah. Mereka ikut menimbang berat badan, mengukur tinggi badan, dan mendengarkan penyuluhan kesehatan.

Penyuluhan ini dipimpin oleh Ketua TP PKK, Beatrix Yashinta Tae, melalui Ketua Tim V Monitoring Posyandu, Agatha R. Bria, yang mengajak seluruh peserta untuk lebih peduli pada gizi, kebersihan, dan kesehatan keluarga.

“Kesehatan keluarga dimulai dari kesadaran setiap individu. Posyandu ini bukan hanya tempat mendapatkan pelayanan kesehatan, tetapi juga ruang belajar bersama agar kita semua bisa hidup lebih sehat, kuat, dan bahagia,” ujar Agatha R. Bria di sela kegiatan, Sabtu (09/08/2025).

Meski ada kendala teknis seperti timbangan yang rusak, kegiatan hari itu berjalan penuh semangat. Papan nama posyandu berdiri jelas di depan bangunan, rumah posyandu sederhana namun memadai untuk menampung semua aktivitas.

Di akhir acara, suasana berangsur tenang. Para ibu pulang sambil menenteng vitamin A, para lansia membawa obat, dan para kader merapikan catatan laporan.

Di wajah mereka, ada lelah yang tak disembunyikan, tapi juga ada rasa puas, karena sekali lagi, kesehatan warga telah mereka jaga bersama.***

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *