RaebesiNews.com – Ada luka yang pernah membekas di tubuh Kabupaten Malaka. Luka itu tidak tampak di kulit, melainkan terasa di dalam dada, di ruang-ruang tunggu rumah sakit, di bangsal-bangsal pasien, dan di wajah-wajah orang yang sakit tapi tidak bisa ditolong di tanahnya sendiri. Luka itu bernama pelayanan kesehatan yang ambruk.
RSUP Betun: Dari Rumah Harapan Menjadi Terminal Pasien
RSUP Betun pernah berdiri sebagai simbol kebanggaan rakyat Malaka. Tetapi pada suatu masa, ia berubah menjadi tempat yang hanya sekadar mencatat nama pasien untuk kemudian mengusir mereka dengan selembar surat rujukan. Dokter-dokter spesialis yang seharusnya menjadi benteng terakhir pertolongan satu per satu angkat kaki.
Bukan karena mereka tidak cinta Malaka. Bukan karena mereka tidak punya hati. Melainkan karena hak-hak mereka dirampas dan tunjangan dipangkas demi kepentingan lain yang dianggap lebih penting daripada nyawa rakyat.
Hasilnya, RSUP Betun kehilangan tenaga ahli. Ia tidak lebih dari terminal transit pasien. Orang sakit datang, diperiksa seadanya, lalu dikirim ke Atambua atau Kupang. Pasien kritis menahan sakit di perjalanan, keluarga menjual ternak untuk biaya tambahan, sementara nyawa menggantung di antara harapan dan ketidakpastian.
Nyawa yang Dikorbankan
Tidak terhitung berapa banyak penderitaan yang lahir dari kebijakan keliru ini. Seorang ibu yang harus melahirkan dengan komplikasi, tetapi ditolak karena tidak ada dokter kandungan.
Seorang bapak dengan serangan jantung yang harus menunggu ambulans ke Atambua, padahal setiap detik begitu berharga. Seorang anak kecil yang seharusnya bisa ditolong dengan intervensi cepat, justru kehilangan kesempatan karena keterlambatan rujukan.
Inilah wajah pelayanan kesehatan ketika pemerintah lebih sibuk membangun gedung megah daripada menjaga nyawa rakyatnya.
Mahasiswa, Mengapa Bungkam?
Di titik ini, muncul pertanyaan yang menusuk: mengapa mahasiswa tidak pernah turun ke jalan?
Mereka yang sering disebut “mata dan hati rakyat” seakan kehilangan daya kritis ketika pelayanan kesehatan hancur.
Padahal ini bukan sekadar soal politik. Ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Bahkan lebih daripada itu, ini menyangkut nyawa. Apa artinya bicara soal pembangunan dan keadilan kalau rakyat dibiarkan sakit tanpa dokter ahli?
Ironinya, kini mahasiswa begitu mudah menggelar aksi protes hanya karena isu-isu sepele. Pertanyaan besar pun menggantung di udara: apakah suara kritis mahasiswa hanya lahir bila ada kepentingan yang menunggangi?
Angin Segar di Era SBS–HMS
Kontras sekali dengan wajah baru Malaka hari ini. Saat SBS–HMS mengambil alih kemudi, arah kebijakan kesehatan kembali pada jalurnya. Mereka tahu bahwa kesehatan adalah pondasi. Tanpa rakyat yang sehat, pembangunan hanya ilusi.
Belum genap setahun, wajah RSUP Betun berubah. Ada 14 dokter spesialis kini hadir untuk melayani rakyat:
Penyakit Dalam: 2
Penyakit Anak: 1
Kandungan: 2
Bedah: 1
Anestesi: 2
Radiologi: 1
Patologi Klinik: 2
Saraf: 1
THT: 1
Gigi Konservatif: 1
Nama-nama bidang ini bukan sekadar daftar. Mereka adalah simbol harapan. Kini, seorang ibu yang melahirkan dengan risiko tinggi bisa ditangani di Betun.
Seorang pasien dengan stroke bisa ditangani segera tanpa harus menempuh perjalanan panjang ke Kupang. Seorang anak dengan penyakit bawaan bisa mendapat penanganan ahli tanpa menunggu terlalu lama.
Rujukan ke luar daerah kini jarang terjadi. RSUP Betun kembali menjadi rumah penyembuhan, bukan rumah singgah.
Belajar dari Masa Lalu
Ada pelajaran berharga dari babak kelam ini: pemerintahan yang salah urus prioritas akan merampas hak hidup rakyatnya sendiri. Gedung boleh berdiri megah, jalan boleh diaspal mulus, tetapi jika rumah sakit kosong tanpa dokter, maka semua pencapaian itu tidak berarti apa-apa.
Rakyat Malaka tahu bagaimana rasanya ditinggalkan dalam sakit. Mereka tahu bagaimana pahitnya ketika pelayanan kesehatan runtuh. Dan mereka juga tahu bagaimana rasanya bernapas lega ketika SBS–HMS menghadirkan perubahan nyata dalam hitungan bulan.
Suara yang Masih Dinanti
Kita patut mengapresiasi langkah cepat SBS–HMS dalam memulihkan pelayanan kesehatan. Tetapi kita juga tidak boleh lupa mencatat sejarah kelam itu. Agar tidak ada lagi generasi Malaka yang mengalami masa ketika nyawa dipertaruhkan hanya karena pemerintah salah menaruh prioritas.
Dan untuk para aktivis, pertanyaan itu masih menggantung:
di mana kalian saat pelayanan kesehatan ambruk? Mengapa kalian bungkam ketika rakyat menjerit?***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.





