RaebesiNews.com – Pembangunan tanggul darurat di jalur Naimana–Motaain akhirnya rampung dan resmi dilakukan Provisional Hand Over (PHO) atau serah terima pertama pekerjaan.
Dalam proses PHO yang dipimpin langsung oleh Pelaksana Tugas Kepala Dinas PUPR Kabupaten Malaka, Lorens Haba, hasil pekerjaan menunjukkan capaian luar biasa: kontraktor bekerja melebihi volume yang tertuang dalam kontrak.
Hadir juga Wakil Bupati Malaka Henri Melki Simu. HMS menyampaikan apresiasinya kepada para kontraktor yang bekerja dengan hati untuk masyarakat Kabupaten Malaka.
Dalam dokumen kontrak, panjang tanggul yang direncanakan adalah 1.600 meter. Namun saat dilakukan pemeriksaan lapangan oleh tim teknis, ternyata hasil riil pekerjaan mencapai 1.619 meter, atau 19 meter lebih panjang dari ketentuan kontrak.
Fakta ini membuktikan bahwa pelaksana proyek tidak hanya memenuhi kewajiban kontraktual, tetapi juga menunjukkan komitmen nyata untuk membangun dengan hati.
Pemerintah Awasi, Kontraktor Bekerja Jujur
PHO ini dihadiri oleh jajaran Dinas PUPR Kabupaten Malaka, para kontraktor, dan Kepala Desa Lawalu, Daniel Kehi. Dalam kesempatan itu, Plh. Kadis PUPR, Lorens Haba, menyampaikan apresiasi kepada pelaksana proyek yang menunjukkan semangat kerja profesional dan tanggung jawab sosial yang tinggi.
“Kita tidak hanya bicara soal selesai atau tidaknya proyek. Kita bicara tentang kualitas, ketulusan, dan tanggung jawab. Hasil di lapangan melebihi volume kontrak, ini bukti bahwa rekanan kita bekerja sungguh-sungguh untuk masyarakat Malaka,” ujarnya.
Kualitas Pekerjaan di Bawah Pengawasan Ketat
Pembangunan tanggul darurat ini merupakan bagian dari Program Pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) yang menjadi prioritas dalam pemerintahan SBS–HMS. Proyek bernilai Rp 7,7 miliar tersebut dikerjakan oleh CV. Uma Besi dan didanai melalui APBD Kabupaten Malaka tahun anggaran 2025.
Selain memastikan ketepatan waktu, tim teknis PUPR juga melakukan pemeriksaan struktur tanggul, kemiringan, dan ketinggian sesuai standar teknis pengendalian banjir. Hasilnya, tanggul Naimana–Motaain dinyatakan memenuhi syarat teknis dan layak digunakan.
“Kami akan terus memantau hingga masa pemeliharaan selesai pada Maret 2026. Pemerintah tidak ingin hanya bangun cepat, tapi juga bangun kuat dan tahan lama,” tegas Lorens Haba.
Kepala Desa: Warga Kini Hidup Lebih Tenang
Kepala Desa Lawalu, Daniel Kehi, menyampaikan rasa syukur atas selesainya pembangunan tanggul tersebut. Ia menegaskan, proyek ini membawa dampak langsung terhadap kehidupan warga di wilayah aliran Sungai Benenain.
“Dulu kalau hujan besar, warga kami tidak tidur. Sekarang, mereka sudah tenang. Air sungai tertahan dengan baik. Kami berterima kasih kepada Bupati dan Wakil Bupati Malaka, SBS–HMS, yang benar-benar kerja untuk rakyat,” ujar Daniel.
SBS–HMS, Dari Janji ke Bukti
Pembangunan tanggul Naimana–Motaain menjadi salah satu contoh nyata bahwa pemerintahan SBS–HMS tidak berhenti pada janji politik.
Saat kepemimpinan sebelumnya hanya datang membawa bantuan darurat ketika banjir melanda, kini pemerintah hadir dengan solusi permanen yang memberi rasa aman dan keberlanjutan bagi warga.
Di bawah kepemimpinan dr. Stefanus Bria Seran (SBS) dan Henri Melki Simu (HMS), pembangunan di Malaka bukan lagi soal proyek, melainkan soal kehadiran pemerintah yang menyentuh kehidupan rakyat secara langsung.
Kini, di tepian Sungai Benenain, warga menyambut musim hujan bukan dengan cemas, tetapi dengan rasa syukur. Karena mereka tahu, tanggul yang dibangun dengan hati itu adalah bukti bahwa Malaka sedang dibangun oleh orang-orang yang benar-benar peduli.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











