Daerah  

Simon Nahak dan Hobi Bagi Sembako Saat Banjir: Beda dengan SBS-HMS yang Bangun Tanggul

Screenshot 20250616 093056 Chrome 2358227788

RaebesiNews.com – Setiap pemimpin punya cara tersendiri dalam menanggapi krisis. Ada yang lebih suka tampil di depan kamera, memamerkan simpati dengan bantuan sembako di tangan. Ada pula yang bekerja diam-diam, membangun sistem agar krisis tidak terulang kembali. 

Di Kabupaten Malaka, kita mengenal kedua tipe ini dengan sangat jelas, satu dalam diri mantan bupati Simon Nahak, dan satu lagi dalam duet kepemimpinan Bupati dr. Stefanus Bria Seran (SBS) bersama Wakil Bupati Henri Melki Simu (HMS).

Baca Juga: Ans Taolin Apresiasi Pemda Malaka: Ada Kerja Nyata untuk Rakyat

Saat Banjir Datang, Panggung Dibuka

Beberapa tahun silam, ketika banjir besar melanda kawasan Malaka Tengah dan Weliman, masyarakat melihat satu pemandangan yang seolah sudah menjadi rutinitas tahunan. Air meluap, rumah tergenang, warga mengungsi dan tak lama kemudian, muncullah Bupati Simon Nahak membawa sembako.

Ia berjalan menyusuri gang becek, satu tangan mengangkat bungkusan plastik berisi beras, mie instan, dan air mineral, sementara tangan lainnya sibuk melambaikan senyum ke kamera. Dokumentasi pun tersebar: di akun resmi pemerintah, media lokal, bahkan disorot di media sosial pribadi. Pesannya satu: “Saya hadir untuk rakyat.”

Namun kehadiran itu tak berlanjut menjadi kebijakan struktural. Tidak ada tanggul baru. Tidak ada perluasan drainase. Tidak ada pengendalian banjir yang sistematis. Tahun berikutnya, banjir kembali datang, dan adegan yang sama terulang: air naik, sembako dibagi, foto disebar. Ini bukan solusi. Ini repetisi.

Baca Juga: Disambut Hangat Jemaat, HMS Rayakan Ibadah Hari Minggu di Weliman

SBS-HMS: Jalan Sunyi Penuh Strategi

Berbeda dengan itu, kepemimpinan SBS-HMS mengambil jalur yang tak selalu dilihat kamera. Mereka tidak menunggu banjir datang untuk tampil, tetapi turun lebih awal untuk memastikan banjir dicegah. Saat hujan deras mengguyur Malaka selama tiga hari berturut-turut pada Juni 2025, tidak ada adegan bagi sembako. Yang terjadi justru peninjauan lapangan di tengah malam.

SBS dan HMS tak sendiri. Mereka bersama tim Dinas PUPR langsung bergerak ke titik-titik kritis, Umanen, Angkaes, hingga Wederok. Mereka berdiri di atas lumpur, bukan panggung. Di sana mereka diskusikan solusi teknis: pembukaan drainase darurat, pembangunan deker permanen, dan perencanaan tanggul di titik rawan luapan air.

Baca Juga: Wow! Ini 10 Pulau Terpadat di Indonesia, Ada Pulau Kecil yang Bikin Kaget

Keputusan ini bukan basa-basi. Hanya beberapa hari setelah peninjauan, alat berat diturunkan, pengerjaan dimulai. Di media sosial, rakyat memberi apresiasi bukan karena disuguhi mie instan, tetapi karena air di jalanan mulai surut, dan rumah mereka tak lagi terendam.

Antara Pencitraan dan Pembangunan

Kepemimpinan sejati tidak lahir dari panggung dadakan dan jepretan kamera. Ia lahir dari kemampuan untuk melihat akar masalah dan bertindak menyelesaikannya. Simon Nahak mungkin berhasil mencuri perhatian dalam satu-dua hari, tetapi SBS-HMS bekerja menciptakan perubahan jangka panjang.

Masyarakat Malaka bukan sekadar objek belas kasihan. Mereka layak mendapatkan perlindungan dari banjir, bukan hanya sumbangan setelahnya. Bantuan darurat tentu penting dalam konteks bencana, tetapi itu hanya tahap awal. Setelah air surut, rakyat ingin hidup normal, tanpa harus khawatir kehilangan rumah, kebun, atau ternak setiap kali hujan deras datang.

Baca Juga: Verifikasi Berkas PPPK, Ini Kata SBS: SK Bisa Dimanipulasi, Tapi Selaris Gaji Tidak Bisa

Inilah yang dipahami SBS dan HMS. Mereka tidak menjual empati; mereka membangun kapasitas. Mereka tidak menjanjikan mie instan; mereka mendirikan tanggul dan memperluas saluran air. Mereka tidak datang sebagai pahlawan sesaat, tapi hadir sebagai pemimpin pembangunan.

Rakyat Sudah Pandai Menilai

Kini, warga mulai jeli membaca narasi. Mereka sudah tahu membedakan mana pemimpin yang sungguh bekerja dan mana yang hanya berakting. Mereka mulai mengerti bahwa foto dengan anak kecil yang digendong saat banjir tidak sama dengan keputusan teknis memperbaiki aliran sungai.

Di Pilkada mendatang, ingatan rakyat tak akan sepenuhnya tertambat pada siapa yang membagi sembako, tetapi siapa yang membuat banjir tidak datang lagi. Dan ketika suara rakyat bersuara, itu bukan hanya hasil dari janji manis di atas panggung, melainkan bukti nyata di atas tanah.

Baca Juga: Tanggul Laut Pantura Siap Dibangun, Prabowo: Tak Lagi Sekadar Wacana!

Pemimpin yang Menyentuh Akar, Bukan Permukaan

Simon Nahak memilih menyentuh permukaan. SBS-HMS memilih menyentuh akar. Yang satu memeluk rakyat untuk difoto, yang lain memeluk masalah untuk dipecahkan.

Di tengah perubahan iklim, banjir bukan perkara sepele. Dan pemimpin bukan sekadar pengantar bantuan. Ia harus menjadi arsitek solusi. Dan selama SBS dan HMS masih bekerja di jalur itu, rakyat Malaka bisa berharap hidup yang lebih aman, tanpa banjir, tanpa panggung palsu.***

 

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *