Daerah  

Pemimpin yang Merapikan Dasi: SBS Sosok Teladan dan Ayahnya Orang Malaka

Screenshot 20250614 063014 Gallery 715962914

RaebesiNews.com – Angin pagi menyapu pelan Pantai Cemara Abudenok. Pasir putih menghampar luas, dan laut biru membentang dengan tenang, seolah menanti sesuatu yang sakral turun dari langit. Tapi bukan langit yang menurunkan berkat pagi itu, melainkan sebuah tangan, tangan pemimpin yang hatinya tak pernah jauh dari rakyatnya.

Pagi itu, 477 anak Malaka berdiri tegak, mengenakan kemeja putih dan dasi hitam. Mata mereka menatap masa depan. Tangan mereka menggenggam harapan. Di hadapan mereka berdiri seorang lelaki berseragam coklat. Ia bukan saja seorang bupati. Ia adalah ayah, penjaga marwah, pelindung harapan, dan pengingat bahwa hidup ini harus dijalani dengan gagah dan bermartabat.

Baca Juga: Menyusuri Genangan Kota: Ketika Kepala Desa Wehali Turun Membersihkan Drainase

Namanya dr. Stefanus Bria Seran, SBS, Bupati perdana Kabupaten Malaka, dan kini kembali memimpin di periode 2025–2030. Namun bagi rakyatnya, ia bukan hanya pemimpin politik. Ia adalah sosok yang memeluk seluruh Malaka dengan satu kata: perhatian.

Sebuah Simpul Bernama Cinta

Momen yang sederhana namun menyentuh terjadi ketika SBS menghampiri barisan CPNS. Ia tidak memberikan pidato panjang. Ia tidak menepuk dada untuk menunjukkan kuasa. Ia hanya berjalan pelan dari satu anak ke anak lain, dan membetulkan dasi mereka satu per satu. 

Beberapa dasi tampak miring, beberapa tidak terikat dengan benar. Tapi bagi SBS, ini bukan soal kerapihan teknis. Ini soal sikap. Ini soal bagaimana seorang anak Malaka harus tampil di hadapan dunia.

Baca Juga: Simon Nahak dan Rumah Sakit yang Tak Pernah Lahir: Sebuah Ulang Tahun yang Pahit

SBS percaya, penampilan adalah wujud hormat kepada diri sendiri. Dalam kerapihan ada disiplin. Dalam kebersihan ada integritas. Dalam keteraturan ada kesiapan.

“Anak Malaka harus tampil luar biasa dan penuh wibawa,” katanya berulang-ulang dalam banyak forum. Bukan sekadar slogan, tapi prinsip hidup. Karena menurut SBS, hanya mereka yang tampil dengan penuh harga diri yang mampu membuat orang lain percaya akan kemampuannya.

Dan dasi itu, yang ia betulkan dengan tangan sendiri, adalah simbol dari amanat besar: jadilah anak Malaka yang tidak hanya baik, tapi juga layak dipercaya.

Pemimpin yang Mendidik, Bukan Memerintah

Kepemimpinan SBS bukan hanya soal kebijakan. Ia lebih dari itu, ia adalah pembentukan karakter. Dalam banyak kesempatan, ia tidak segan untuk memarahi jika salah, tapi juga merangkul ketika lelah. Ia memosisikan dirinya sebagai ayah, sosok yang boleh keras demi kebaikan anaknya.

Baca Juga: Simon Nahak dan Rumah Sakit yang Tak Pernah Lahir: Sebuah Ulang Tahun yang Pahit

Ia dikenal bersih, teratur, dan menyukai hal-hal yang sehat. Lingkungan kerjanya harus rapi. Ruang-ruang pemerintah harus bersih. Tapi yang lebih penting, pola pikir anak Malaka harus ditata. Ia ingin rakyatnya bukan hanya hidup, tapi hidup dengan visi.

Dalam sebuah pertemuan pemuda, SBS pernah berkata,

“Jangan hanya jadi pengikut. Anak Malaka harus berani jadi pemimpin. Tapi untuk jadi pemimpin, kamu harus bersih, rapi, sehat, dan punya hati.”

Banyak anak muda yang merasa disentuh oleh kata-kata ini. Karena SBS tidak menyuruh dari atas mimbar. Ia mengulurkan tangan dari depan, memberi contoh, lalu berjalan bersama.

Pantai, Dasi, dan Doa yang Tak Terdengar

Kembali ke Pantai Cemara Abudenok, deretan CPNS itu kini telah menerima SK. Mereka bukan lagi sekadar pencari kerja. Mereka adalah bagian dari roda pemerintahan. Tapi lebih dari itu, mereka adalah wajah baru Malaka, yang akan dilihat, dinilai, dan diukur oleh publik.

Baca Juga: Prabowo: Hakim Tak Boleh Bisa Dibeli, Gaji Mereka Harus Layak

SBS tahu betul beban itu. Maka, saat ia membetulkan dasi di dada seorang CPNS, itu bukan hanya soal kerapihan. Itu adalah doa dalam diam. Doa agar anak ini berjalan lurus. Agar anak ini jujur. Agar anak ini tidak melupakan dari mana ia berasal. Agar simpul dasi yang terikat di leher itu menjadi simpul tanggung jawab.

Dan di bawah langit biru, ombak pun menyaksikan dengan diam.

SBS, Ayah Orang Malaka

Kini, setelah kembali menjabat sebagai bupati, SBS tidak lagi memperkenalkan diri. Karena seluruh Malaka sudah mengenalnya bukan sebagai pejabat, melainkan sebagai bapaknya anak-anak Malaka.

Baca Juga: Simon Nahak dan Rumah Sakit yang Tak Pernah Lahir: Sebuah Ulang Tahun yang Pahit

Ia bukan orang yang banyak bicara soal politik. Tapi ia konsisten bicara tentang anak muda. Ia tidak menjual janji tentang proyek megah. Tapi ia merawat mimpi tentang anak-anak desa yang bisa berdiri tegak di Jakarta, Kupang, bahkan di luar negeri, dengan kemeja bersih, dasi rapi, dan keberanian dalam dada.

Karena, bagi SBS, membangun Malaka bukan sekadar membangun jalan dan jembatan. Itu penting. Tapi yang lebih penting adalah membangun jiwa manusia. Dan pembangunan seperti itu hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang peduli, seorang ayah dan itu adalah dr. Stefanus Bria Seran. ***

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *