Betun, RaebesiNews.com – Selain desa Babulu di Kecamatan Kobalima, ada juga Desa Kereana di Kecamatan Botin Leobele yang terpencil dan nyaris tidak tersentuh infrastruktur pemerintah Kabupaten Malaka.
Desa Kereana memang terpencil dan sulit dijangkau. Kereana terletak di sekitar kawasan hutan Kateri yang sudah mulai gundul.
Kereana terpencil karena akses jalan ke Ibukota Kabupaten Malaka Betun, terputus karena jalan Wemer yang sudah belasan tahun putus. Padahal dulunya, akses jalan Wemer yang melewati Desa Kereana adalah akses utama dari Betun ke Atambua (Belu).
Jangankan akses ke Ibukota Kabupaten Malaka, akses ke pusat kecamatan Botin Leobele juga memprihatinkan. Pasalnya, masyarakat harus melewati kali yang cukup luas dan deras airnya apabila musim hujan tiba. Akses jalannya pun jauh dari kata layak untuk dilewati.
Apabila hendak ke Ibukota Kabupaten Malaka, masyarakat pun harus merogoh kocek yang lebih besar karena rutenya yang panjang.
Dulunya, mereka bahkan hanya memerlukan waktu 10 menit apabila hendak ke Ibukota Kabupaten, melewati jalan Wemer. Kini setelah akses di Wemer terputus, mereka harus berputar melewati akses alternatif Welaus dengan jarak tempuh hampir 1 jam ke Betun. Ongkosnya pun bertambah.
Selain terpencil, Desa Kereana juga luput dari perhatian pemerintah setempat maupun pemerintah Kabupaten Malaka.
Ada Aspal Bekas Peninggalan Pemerintahan SBS
Akses dari jalan utama Wemer masuk ke Desa Kereana lumayan bagus. Hal ini karena ada jalan beraspal sepanjang 2 kilometer ke dalam kampung. Namun sayangnya, aspal ini juga sudah mulai rusak.
Ketika masuk kampung, jalan beraspal itu terputus. Jalan berbatu khas kampung terpencil.
Menurut cerita masyarakat di sana, aspal itu dibuat zaman pemerintahan SBS.
“Pernah SBS kampanye di sini saat calon pertama. Dia kaget dengan kondisi jalan yang rusak parah tanpa aspal. Saat itu beliau berjanji akan buat jalan yang bagus di Kereana,” kisah salah satu warga yang enggan menyebut namanya.
“Benar. Dia komitmen dengan janjinya. Setelah dilantik jadi Bupati Malaka, langsung dikerjakan jalan tadi tadi kakak mereka lewati,” lanjutnya.
Pelayanan Air Bersih Zaman SBS Terbaik Tanpa Dipungut Biaya
Masyarakat desa Kereana mengakui bahwa Stefanus Bria Seran adalah pemimpin yang mencintai rakyatnya.
“Sayangnya setelah dia (SBS) tidak lagi memimpin Malaka, kamu kesulitan dalam berbagai hal,” keluh warga Kereana.
Masyarakat desa Kereana mengakui bahwa di zaman pemerintahan SBS, pelayanan tangki air dari kecamatan rutin beroperasi memenuhi kebutuhan air bersih warga.
“Itu gratis tanpa dipungut biaya. Kalau sekarang kita harus bayar, katanya minyak tidak ada. Jadi kami bayar 1 tangki 150ribu rupiah. Kami terpaksa bayar karena kebutuhan air bersih yang sulit,” ujar warga.
Masyarakat desa Kereana ketika menerima ke kunjungan HMS di Kampung Tualaran.
Nasib masyarakat desa Kereana memang miris sekali. Selain akses jalan dan air bersih, ternyata ada juga beberapa kampung yang belum menikmati aliran listrik.
“Kami juga belum ada listrik. Kalau mau cas handphone (hp) kami harus naik ke Sulit. Kami banyak kesulitan di sini,” kata warga desa Kereana.
Desa Kereana dikenal dengan nama lainnya yakni Sulit. Memang nasib sama seperti namanya Sulit. Semoga pemerintahan Kabupaten Malaka memperhatian nasib masyarakat di Desa Kereana.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









