Kelompok Bagaya Umanen Lawalu Produksi 106 Butir Telur per Hari, Bantu Tingkatkan Ekonomi Warga Desa

Reporter : Frido Umrisu Raebesi Editor: Redaksi
1778587660014
Kelompok Bagaya Umanen Lawalu Produksi 106 Butir Telur per Hari, Bantu Tingkatkan Ekonomi Warga Desa

RaebesiNews.com – Di tengah tenangnya suasana Desa Umanen Lawalu, suara ayam berkokok kini bukan lagi sekadar penanda pagi. Dari kandang sederhana milik Kelompok Bagaya Umanen Lawalu, suara itu berubah menjadi tanda tumbuhnya harapan baru bagi masyarakat desa.

Kelompok yang dibina oleh Dinas Sosial Kabupaten Malaka itu perlahan mulai menikmati hasil dari usaha peternakan ayam petelur yang mereka kelola bersama. Dengan jumlah 94 ekor ayam petelur, kelompok tersebut mampu menghasilkan sekitar 106 butir telur setiap hari.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Mau usaha anda di lihat ribuan orang?  Klik Disini!!!

Telur-telur itu kemudian dipasarkan kepada masyarakat dengan harga Rp2.000 per butir. Bagi sebagian orang, angka itu mungkin terlihat sederhana. Namun bagi warga desa, setiap butir telur memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar nilai jual.

Ia adalah simbol perjuangan. Simbol bahwa bantuan pemerintah dapat bertumbuh menjadi sumber penghidupan jika dikelola dengan kerja keras dan kebersamaan.

Ketua Kelompok Bagaya Umanen Lawalu, Andreas Klau, mengatakan usaha tersebut mulai membantu ekonomi anggota kelompok dan memberi harapan baru bagi keluarga mereka.

“Setiap hari kami bisa kumpulkan telur untuk dijual. Hasilnya memang belum besar, tetapi sangat membantu kebutuhan keluarga dan menjadi penyemangat bagi anggota kelompok,” ujar Andreas Klau.

Setiap pagi, aktivitas di kandang ayam milik kelompok itu dimulai dengan rutinitas sederhana namun penuh makna. Anggota kelompok membersihkan kandang, memberi makan ternak, lalu mengumpulkan telur satu per satu sebelum dipasarkan.

Di balik kandang sederhana itu, tersimpan cerita tentang masyarakat kecil yang memilih bangkit melalui kerja keras. Program pemberdayaan dari Dinas Sosial Kabupaten Malaka pun dinilai bukan sekadar bantuan usaha semata, melainkan jalan untuk membangun kemandirian ekonomi masyarakat desa.

Kelompok Bagaya Umanen Lawalu kini menjadi contoh kecil bahwa perubahan tidak selalu lahir dari sesuatu yang besar. Kadang-kadang, harapan justru tumbuh dari kandang sederhana di desa, dari telur-telur yang dikumpulkan setiap pagi dengan penuh semangat dan harapan akan kehidupan yang lebih baik.

Dan dari Desa Umanen Lawalu, harapan itu terus menetas setiap hari.***

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RaebesiNews.Com

+ Gabung