Daerah  

Jalan Welaus-Sanleo Rusak Parah, Provinsi Diam, Pemkab Malaka Bertindak Perbaiki

Screenshot 20250701 152514 WhatsApp 127348486

RaebesiNews.com – Di bawah langit mendung yang menggantung di atas Welaus, suara mesin ekskavator menggerus jalan yang sudah lama luka. Tanah dan aspal yang terkelupas berserakan.

Di antara debu dan batu yang berserak, berdiri seorang lelaki berbaju cokelat dinas, menatap serius ke arah alat berat yang sibuk mengaduk tubuh jalan. Dialah Henri Melki Simu, Wakil Bupati Malaka.

Tak banyak bicara. Wajahnya tenang, tapi matanya menyimpan gelisah—gelisah karena jalan ini sudah terlalu lama ditinggalkan. Welaus-Sanleo bukan sekadar ruas jalan bagi Malaka. Ia adalah nadi yang menghubungkan jantung Kabupaten Malaka ke Belu, TTU hingga ke Kupang.

Baca Juga: Di Hari Bhayangkara Ke-79, SBS Serukan Doa dan Harapan untuk Polres Malaka

Setiap kendaraan yang melewatinya membawa harapan, seorang ibu membawa hasil kebun ke pasar, seorang anak menuju sekolah, atau seorang pasien yang butuh dirawat ke rumah sakit di kota.

Namun jalan itu rusak. Bertahun-tahun. Tak diurus. Tak diperbaiki.

Ironisnya, jalan ini adalah milik Provinsi NTT. Tapi seperti banyak kisah di daerah pinggiran negeri, “kewenangan” kerap menjadi tembok penghalang antara penderitaan rakyat dan kehadiran negara.

Maka Henri Melki Simu memilih langkah berbeda: melompati tembok itu.

“Kalau menunggu provinsi, rakyat akan terus sengsara. Kita tidak bisa menutup mata,” ujar HMS lirih, saat ditemui di pinggir jalan.

Hari itu, bukan hanya tanah dan batu yang bergeser. Hati warga pun tersentuh. Mereka melihat sendiri, bukan lewat baliho, bukan lewat pidato, tapi dengan mata kepala mereka, bahwa pemimpinnya hadir, berani kotor, dan tidak hanya duduk di balik meja ber-AC.

Baca Juga: SBS Tersenyum Bahagia: Kemenangan PS Malaka U13 Jadi Simbol Harapan dan Komitmen SBS-HMS

Sebagian orang mungkin menyebutnya pekerjaan kecil. Tapi bagi warga Welaus dan Sanleo, kehadiran HMS adalah pesan besar: bahwa ada pemimpin yang tidak lupa jalan pulang.

“Sudah lama jalan ini rusak. Baru kali ini diperhatikan langsung oleh pejabat tinggi. Kami terharu,” kata Simon Klau warga Sanleo yang ikut menyaksikan perbaikan jalan itu.

Langkah kaki HMS di jalan berlubang itu bukan langkah biasa. Itu adalah jejak kepedulian, jejak tekad seorang pemimpin yang tahu benar bahwa pembangunan bukan soal kewenangan, tapi soal keberanian untuk bertindak di saat yang lain memilih menunggu.

Baca Juga: Henri Melki Simu: Langkah-Langkah Tanpa Lelah untuk Rai Malaka

Pemerintah Kabupaten Malaka di bawah kepemimpinan SBS-HMS memang dikenal responsif. Tak jarang, anggaran darurat dipakai untuk menambal luka-luka infrastruktur yang tak sempat dijamah oleh tangan atas.

“Karena kami tahu, jalan ini adalah darah yang mengalirkan kehidupan,” ucap HMS.

Welaus-Sanleo kini sedang dibenahi. Jalanan itu masih panjang. Tapi setidaknya, di tengah segala keterbatasan, sudah ada yang memulai. Sudah ada sepatu pemimpin yang meninggalkan jejaknya di tanah yang selama ini hanya dilalui oleh keluhan dan harapan.

Dan mungkin, dari jalan rusak itulah, Malaka perlahan akan menemukan jalannya menuju masa depan yang lebih terang.***

 

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *