RaebesiNews.com – Langkah progresif Wakil Bupati Malaka, Henri Melki Simu (HMS), yang berkantor di Desa Weoe, Kecamatan Wewiku, pada 4 Agustus 2025, menandai komitmen kuat pemerintah daerah dalam membangun sektor pertanian berkelanjutan.
Dengan mendengarkan langsung keluhan masyarakat, HMS menunjukkan bahwa keberhasilan pembangunan pertanian tidak hanya bergantung pada kebijakan, tetapi juga pada keterlibatan aktif di lapangan.
Mendengar Suara Petani
Di bawah naungan pohon pisang dan dikelilingi tanah yang subur, HMS duduk bersama para petani yang selama ini bergulat dengan berbagai tantangan, seperti keterbatasan alat pertanian, irigasi yang tidak memadai, dan minimnya pendampingan teknis.
Hadir juga anggota DPRD Kabupaten Malaka dari Fraksi PKB, Yosep Nahak, yang turut memperkuat sinergi antara legislatif dan eksekutif dalam mendukung sektor pertanian.
HMS menegaskan bahwa pemerintah Kabupaten Malaka di bawah kepemimpinan Stefanus Bria Seran (SBS) dan dirinya, telah menyiapkan pengiriman alat dan mesin pertanian (alsintan) untuk membalik tanah petani.
Targetnya adalah 3000 hektar di dataran rendah dan 500 hektar di wilayah foho (perbukitan), menggunakan ekskavator.
“Kita targetkan 3000 hektar di dataran rendah dan 500 hektar di foho, pakai ekskavator. Pemerintah juga akan mengoptimalkan peran PPL di desa, masing-masing 3 petugas di desa,” ujar HMS.
Transformasi Pertanian Melalui Teknologi
Penggunaan alsintan seperti ekskavator akan mempercepat proses pengolahan tanah, meningkatkan efisiensi tenaga kerja, dan mengurangi biaya produksi. Berikut manfaat utamanya:
*Peningkatan kesuburan tanah melalui pembalikan yang optimal.
*Efisiensi waktu dan tenaga untuk mempercepat masa tanam.
*Pengendalian gulma dan hama yang lebih baik.
Selain itu, pemerintah juga berencana memperkuat peran Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) yang akan mendampingi petani dalam menerapkan teknologi pertanian modern, manajemen lahan, serta penggunaan pupuk organik untuk menjaga kesuburan tanah.
Gotong Royong sebagai Fondasi Pertanian Berkelanjutan
HMS menekankan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada semangat gotong royong masyarakat desa.
“Mari kita kerja sama dan semangat dalam gotong royong. Jangan sampai lapar di tanah Malaka yang subur,” tegas HMS.
Dengan membentuk kelompok tani yang solid, petani dapat saling berbagi ilmu, alat, dan tenaga kerja. Pendekatan ini sejalan dengan konsep “Integrated Farming System”, di mana sektor pertanian dan peternakan saling mendukung dalam satu ekosistem.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Meski program ini membawa harapan besar, terdapat beberapa tantangan yang perlu diatasi, seperti:
*Ketersediaan air irigasi yang stabil melalui optimalisasi Bendung Kali Benenai.
*Peningkatan kapasitas petani dalam mengelola teknologi pertanian modern.
*Dukungan pasar untuk memastikan hasil panen terserap dengan harga yang menguntungkan petani.
Dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, legislatif, dan masyarakat, HMS optimis bahwa Kabupaten Malaka dapat menjadi lumbung pangan di wilayah perbatasan.
“Kalau kita kerja cerdas, kerja sama, dan saling bantu, maka rakyat Malaka tidak akan miskin di tanahnya sendiri,” tutup HMS.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











