RaebesiNews.com – Ketika sungai Benenain meluap, air tak mengenal garis batas. Lahan pertanian luluh lantak, rumah warga runtuh perlahan digerus arus. Di tengah bencana itu, suara pemimpin seharusnya menenangkan. Namun yang terjadi di Oekmurak beberapa tahun silam justru sebaliknya.
Warga di Kecamatan Rinhat masih mengingat dengan jelas bagaimana respons mantan Bupati Malaka, Simon Nahak, ketika banjir besar dan longsor melanda kawasan mereka. Saat itu, sejumlah rumah roboh diterjang banjir dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Benenain. Warga berharap hadirnya pemimpin membawa harapan dan solusi. Namun yang datang justru kalimat yang menyayat.
“Siapa suruh bangun rumah di pinggir kali?”
Pernyataan Simon Nahak itu masih membekas hingga kini. Kalimat yang bukan hanya terdengar sinis, tetapi juga seolah menyalahkan korban bencana atas musibah yang mereka alami. Warga kecewa. Bahkan sempat terjadi penolakan atas bantuan sembako yang dibawanya. “Kami tidak butuh mie instan atau beras. Kami butuh tanggul!” kata seorang warga kala itu.
Baca Juga: Komitmen Tanpa Tawar: SBS-HMS dan Jalan Terang Menuju Malaka Jaya
Kini, angin perubahan bertiup dari arah yang berbeda. Pemerintahan baru di bawah duet dr. Stefanus Bria Seran (SBS) dan Henri Melki Simu (HMS) justru membawa kabar yang telah lama dinanti masyarakat: pembangunan tanggul penahan banjir di tiga titik rawan.
Wakil Bupati Malaka, Henri Melki Simu, yang turun langsung ke lapangan didampingi Plh. Kadis PUPR, Lorens Haba, mengumumkan bahwa tahun ini pemerintah akan membangun tiga tanggul besar di wilayah rawan banjir:
Tanggul Aintasi sepanjang 1,6 kilometer
Tanggul Oan Mane sepanjang 1,4 kilometer
Tanggul Oekmurak sepanjang 1 kilometer
Baca Juga: Dana Desa Bermasalah: SBS-HMS Siap Tindak 26 Kepala Desa di Malaka, Berikut Daftarnya
“Ini adalah bentuk komitmen kami untuk melindungi warga dan lahan pertanian mereka dari ancaman banjir setiap musim hujan,” ujar HMS dalam pernyataannya.
Langkah ini disambut sukacita warga. Bagi masyarakat Oekmurak, ini bukan sekadar proyek infrastruktur, tetapi simbol hadirnya negara dalam rupa pemerintah yang benar-benar mendengar jeritan rakyatnya.
Dari Retorika ke Solusi Nyata
Berbeda dari masa lalu yang dipenuhi retorika dan narasi saling menyalahkan, duet SBS-HMS memilih jalan kerja nyata. Mereka paham bahwa banjir bukan hanya masalah air, tetapi soal kehilangan harapan, musim tanam yang gagal, anak-anak yang tak bisa ke sekolah, dan trauma yang berulang setiap tahun.
Baca Juga: Dua Desa di Rinhat Selesai Diaudit, LHP Siap Diserahkan ke Bupati SBS
Kehadiran tanggul berarti pemulihan. Bukan hanya secara fisik, tetapi secara psikologis dan sosial. Lahan-lahan yang dulunya menjadi korban banjir kini bisa kembali ditanami. Keluarga bisa tidur tanpa khawatir rumah akan ambruk di tengah malam. Anak-anak bisa belajar tanpa harus khawatir air akan datang tiba-tiba.
SBS-HMS, Mengobati Luka Lama Oekmurak
Bagi warga Oekmurak, pembangunan tanggul ini adalah penebusan atas luka masa lalu. Saat mereka diteriaki, disalahkan, dan dianggap tidak bijak memilih tempat tinggal, mereka hanya bisa diam. Tidak karena takut, tetapi karena kecewa. Kini, suara mereka didengar, aspirasi mereka dijawab.
“Ini baru pemimpin yang tahu arti melayani,” kata Yosefina Klau, warga setempat, sambil menunjuk lahan pertanian yang beberapa tahun lalu hampir habis disapu air bah.
Baca Juga: Pemerintah Rekrut 1.515 Guru ASN Baru Tahun Ini Untuk Sekolah Rakyat
SBS-HMS: Hadir untuk Melayani, Bukan Menyalahkan
Program pembangunan tanggul bukanlah proyek terakhir. Pemerintahan SBS-HMS juga tengah mengkaji revitalisasi daerah aliran sungai, pembangunan bronjong permanen, dan perluasan sistem irigasi agar pertanian Malaka semakin kuat menghadapi perubahan iklim.
Satu hal yang pasti: rakyat kini punya pemimpin yang berpihak. Bukan yang marah ketika dikritik, bukan pula yang bersembunyi di balik bantuan sesaat, tetapi yang hadir dengan solusi nyata dan niat tulus melayani.
Ketika bencana datang, pemimpin yang sejati tidak bertanya “siapa suruh tinggal di sini?”. Ia justru berkata, “apa yang bisa kami bangun untuk menjaga kalian tetap aman di sini?”
Dan itulah yang kini sedang dibuktikan SBS-HMS di Malaka.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











