Daerah  

Demo di Malaka: Suara Rakyat atau Agenda Terselubung, 2021-2024 Kalian di Mana?

Screenshot 2025 09 06 08 37 06 39 99c04817c0de5652397fc8b56c3b3817 2147999886 2

RaebesiNews.com – Aksi demonstrasi Aliansi Revolusi Malaka beberapa hari lalu masih menyisakan tanda tanya di tengah masyarakat.

Bukan soal keberanian mahasiswa bersuara, melainkan tentang alasan mengapa aksi semacam itu baru ramai sekarang, setelah bertahun-tahun Malaka berjalan dengan berbagai persoalan tanpa suara kritis di jalanan.

Seorang warga Kota Betun, Feliks Bria, mengungkapkan keheranannya. Menurutnya, sejak tahun 2021 hingga 2024, banyak keluhan masyarakat yang seakan dibiarkan begitu saja.

Mulai dari minimnya tenaga dokter ahli di RSUP Betun, infrastruktur jalan dan jembatan yang terbengkalai, hingga proyek-proyek yang dinilai tak menyentuh kebutuhan dasar rakyat.

Namun, saat itu hampir tak ada gerakan mahasiswa yang mengangkat persoalan ini melalui aksi demonstrasi.

Feliks mencontohkan mega proyek pembangunan kantor Bupati Malaka dengan anggaran mencapai 97 miliar.

Ia menilai proyek tersebut sah-sah saja, tetapi seharusnya mahasiswa bisa mempertanyakan urgensinya.

“Kalau dana sebesar itu diarahkan untuk membangun jembatan Numponi, jembatan Boen, atau tanggul Oekmurak yang kampungnya hampir tenggelam, pasti sudah selesai dan manfaatnya langsung dirasakan rakyat,” ujar Feliks, Sabtu (06/09/2025).

Menurutnya, jalan-jalan yang rusak parah pun nyaris tak mendapat perhatian serius di masa lalu. Padahal, infrastruktur dasar itu menjadi urat nadi ekonomi masyarakat Malaka.

“Herannya, saat itu mahasiswa tidak turun ke jalan. Apakah karena tidak ada yang mendorong? Itu yang jadi pertanyaan,” tambahnya.

Feliks juga mengingatkan agar gerakan mahasiswa tetap independen, tidak terjebak dalam permainan politik praktis. Baginya, mahasiswa adalah penjaga nurani rakyat.

Karena itu, aksi mereka akan lebih bermakna jika didasarkan pada kebutuhan nyata masyarakat, bukan pada kepentingan sesaat.

“Mahasiswa harus lebih jeli. Suara mereka bisa jadi pecut bagi pemerintah agar lebih fokus pada rakyat, tapi jangan sampai aksi mereka hanya dianggap titipan,” tegasnya.

Kini, publik Malaka menanti konsistensi. Apakah suara mahasiswa akan terus hadir mengawal pembangunan ke depan, ataukah hanya muncul sesekali saat momentum politik berhembus kencang.***

 

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *