RaebesiNews.com – Di sebuah sore yang hangat di tanah Malaka, riuh gong dan gandang mengalun dari kejauhan. Aroma tanah kering yang tersentuh angin musim timur berpadu dengan gemuruh tepuk tangan dan sorak-sorai. Di tengah lingkaran adat, wanita bertais biru, para tetua dengan destar merah bata, anak-anak memanjat pohon untuk melihat lebih jelas, tampak seorang lelaki berwajah teduh melangkah pelan. Tidak tergesa. Tidak dibuat-buat. Seakan ia tahu betul bahwa setiap langkahnya adalah langkah menuju rumah.
Dialah dr. Stefanus Bria Seran, atau yang lebih akrab disebut SBS. Dan Malaka, bagi dirinya, bukan sekadar wilayah administratif, tetapi kampung halaman yang selalu memanggil pulang.
Pemimpin yang Didekap, Bukan Dijaga Jaraknya
Di hari itu, SBS tidak disambut dengan protokoler mewah, pagar betis aparat, atau barisan formal seperti yang sering kita lihat pada kedatangan pejabat tinggi. Ia justru “ditangkap” oleh dekapan ibu–ibu penenun, disambut tarian likurai, digamit tangan oleh para tetua adat, dan dikelilingi anak muda yang berlomba mengabadikan momen dengan kamera ponsel.
Tidak ada jarak; yang ada hanyalah kelekatan.
SBS berjalan sambil menyalami satu per satu warga. Tidak terburu. Tidak pula tegang. Ia kagum dan terharu ketika seorang nenek memeluknya dan berkata, “bapak Bupati adalah harapan kami rakyat kecil.”
Ia menunduk hormat ketika seorang amaf memberikan sapaan adat. Semua mengalir sebagaimana biasanya ketika seseorang kembali ke tanah kelahirannya.
SBS bukan hanya diterima, ia dicintai.
Pemimpin dengan Bahasa Tanah dan Suara Rakyat
Rakyat Malaka punya satu ukuran sederhana untuk menilai pemimpinnya: apakah ia menyapa dengan bahasa tanah, dan apakah ia bekerja dengan hati? SBS memenuhi dua-duanya.
Ketika berbicara pada masyarakat, ia memakai bahasa Tetun dengan lancar, bahasa yang tidak hanya menembus telinga, tapi langsung jatuh ke dalam dada. Ia tidak pernah berjarak dalam hal tutur kata. Setiap kalimatnya selalu dibungkus empati, entah ketika menghibur keluarga duka, menyemangati petani, atau memotivasi anak muda agar bersekolah setinggi mungkin.
Dan rakyat tahu, SBS bekerja bukan untuk kepentingan politik, melainkan untuk masa depan Malaka.
Jejak Pengabdian: Dari Kesehatan, Infrastruktur, hingga Pertanian
Ketika memimpin Malaka, SBS menanam tanda-tanda kehadirannya lewat pelayanan publik yang jelas dan nyata. Rumah Sakit Umum Penyangga Perbatasan Betun beroperasi dengan motto: “Melayani dengan hati, cepat, tepat, dan tanpa pungli.” Banyak warga masih menyimpan cerita bagaimana mereka diselamatkan oleh layanan kesehatan yang sederhana, cepat, dan manusiawi di era kepemimpinannya.
Di bidang infrastruktur, SBS HMS menggenjot pembangunan jalan hotmix, irigasi Benenai yang mengubah sawah-sawah Malaka menjadi lahan produktif sepanjang tahun, hingga jembatan-jembatan penghubung ekonomi antarwilayah. Tidak berlebihan bila banyak warga menyebut tahun-tahun itu sebagai masa keemasan pembangunan Malaka.
Semua itu membuat nama SBS bukan sekadar tercetak di baliho, tetapi terpatri di ingatan warga sebagai pemimpin yang membawa perubahan besar.
Menghibur, Merangkul, Mengayomi
Satu keunikan SBS yang jarang dimiliki pemimpin lain adalah kemampuannya menjalin hubungan personal dengan masyarakat. Ia mengingat nama, menghafal wajah, dan tahu persis bagaimana menyapa seseorang tanpa terasa formal.
“Pak SBS itu bukan cuma datang melihat, tapi datang menengok,” kata seorang ibu dari Kobalima.
Artinya sederhana namun dalam: ia hadir bukan sebagai pejabat, tapi sebagai keluarga.
Setiap kunjungan selalu diwarnai tawa, candaan spontan, dan momen-momen kecil yang membuat warga merasa dihargai. Dalam foto di atas, dapat kita lihat bagaimana warga menari mengelilinginya, seolah-olah menyambut seorang anak yang lama merantau dan kini pulang membawa cerita baru.
SBS dan Sebuah Warisan Bernama Kerelaan
Bagi sebagian orang, kepemimpinan diukur dari seberapa kuat wibawa atau seberapa keras suara seorang pemimpin. Tapi di Malaka, SBS mengenalkan ukuran lain:
kerelaan rakyat untuk mencintai pemimpinnya tanpa diminta.
Tidak ada yang memaksa warga memadati jalan. Tidak ada pengerahan massa. Mereka datang dengan sendirinya—dengan likurai, dengan tais, dengan sapaan adat, dengan senyum yang tulus.
Dan di situ, kita belajar satu hal:
kecintaan rakyat adalah gelar tertinggi yang bisa diraih seorang pemimpin.
Pemimpin yang Tidak Pernah Hilang Arah Pulang
Bagi Malaka, SBS bukan sekadar sosok dokter, bukan pula sekadar pemimpin. Ia adalah representasi dari apa yang diimpikan rakyat tentang pemimpin: tulus, bekerja sungguh-sungguh, berpijak pada budaya, dan tidak pernah melupakan asal-usulnya.
Ketika masyarakat mengelilinginya dalam tarian adat, mereka seakan ingin berkata:
“SBS bukan hanya pemimpin kami; ia adalah bagian dari kami.”
Dan barangkali, itulah alasan mengapa setiap kali SBS kembali ke Malaka, selalu ada gong, likurai, dan hati-hati yang terbuka menjemputnya. Ia tidak datang sebagai pejabat, ia datang sebagai anak Malaka yang selalu tahu jalan pulang.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











