RaebesiNews.com – Di tanah perbatasan yang menyatu dengan debur angin Benenain, nama dr. Stefanus Bria Seran, akrab disapa SBS, tak hanya dikenang sebagai Bupati Malaka. Ia adalah pemimpin yang berjalan bersama rakyat, namun hatinya lekat pada suara langit dan nasihat para tokoh agama.
Dalam sejarah kepemimpinan lokal, jarang kita jumpai seorang bupati yang tak hanya menyentuh infrastruktur fisik, tetapi juga membangun spiritualitas warganya dengan kasih yang konkret.
Pada periode pertama pemerintahannya (2016–2021), SBS tidak terjebak dalam formalitas kekuasaan. Ia hadir di tengah umat, bukan sebagai pejabat yang mencari sorotan kamera, tetapi sebagai pelayan yang mendengar, mengayomi, dan mewujudkan apa yang diyakini baik bagi kehidupan rohani masyarakat Malaka yang plural, Katolik, Protestan, dan Islam.
Mobil untuk Tokoh Agama, Simbol Perhatian yang Nyata
Dalam suatu kebijakan yang tak banyak dibicarakan di panggung politik nasional, SBS mengambil langkah sederhana namun bermakna besar: memberikan bantuan kendaraan operasional kepada para tokoh agama lintas denominasi. Gereja Katolik, Gereja Protestan, dan tokoh-tokoh Islam menerima masing-masing satu unit mobil. Bagi SBS, pelayanan rohani adalah tulang punggung moral masyarakat, dan karena itu, para pelayan Tuhan juga harus didukung secara layak.
“Pelayan rohani adalah penjaga nurani umat. Kalau mereka harus menumpang angkutan umum untuk menjangkau jemaatnya di pelosok desa, di situlah tugas negara hadir,” demikian filosofi SBS yang dikenal luas oleh para imam dan pendeta di Malaka.
Membangun Rumah Ibadah, Membangun Iman Warga
SBS juga dikenal sebagai pemimpin yang tak segan mengalokasikan dana untuk pembangunan Gereja dan fasilitas keagamaan. Paroki Betun, Paroki Wemasa, dan Paroki Kotafoun adalah tiga dari banyak tempat yang menerima sentuhan nyata dari visi kemanusiaan SBS. Di saat pemimpin lain membangun monumen untuk dirinya sendiri, SBS memilih membangun altar tempat orang bersujud kepada Tuhan.
Ia tidak sekadar hadir dalam misa-misa keliling untuk berfoto atau menyampaikan pidato politis. Ia hadir sebagai pribadi yang sungguh mencintai rumah ibadah, tempat di mana rakyatnya berteduh dari badai hidup.
Renovasi Gua Maria Tubaki: Merawat Warisan Iman
Salah satu karya monumental SBS yang jarang disebut media adalah renovasi Gua Lourdes di Tubaki, Betun. Tempat ziarah umat Katolik ini telah menjadi simbol spiritualitas warga Malaka selama puluhan tahun. Namun, baru pada era SBS, gua ini dipercantik dan diperkuat, tidak hanya sebagai tempat doa, tetapi juga sebagai simbol kerukunan dan kedamaian antarumat beragama.
Kini, setiap ziarah ke Tubaki adalah juga ziarah mengenang pemimpin yang menaruh cinta pada tempat-tempat suci, yang mengerti bahwa kekuatan sebuah daerah tak hanya diukur dari panjang jalan aspal, tapi juga dari dalamnya iman dan rasa saling menghargai.
Toleransi sebagai Arah Kebijakan
SBS tak pernah memisahkan antara kepemimpinan dan nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Ia adalah sosok yang memeluk semua keyakinan dengan adil. Ia tidak membeda-bedakan bantuan berdasarkan mayoritas atau minoritas. Bagi SBS, semua umat adalah ciptaan Tuhan yang patut dilayani.
Itulah sebabnya, di masa pemerintahannya, tidak terdengar ada konflik agama yang menonjol. SBS menjaga harmoni bukan dengan retorika, melainkan dengan tindakan. Ia tahu kapan berbicara, dan lebih tahu kapan bekerja.
Bupati yang Tidak Mencari Panggung, Tapi Tempat Berteduh Bagi Rakyat
Di masa ketika banyak pejabat haus popularitas dan pencitraan, SBS mengambil jalan sunyi: menjadi pemimpin yang membangun, bukan memamerkan. Ia tidak mengejar misa keliling demi headline, tetapi lebih suka memastikan setiap gereja dan masjid di Malaka punya atap yang tidak bocor, dinding yang tidak retak, dan umat yang tidak ditinggalkan.
Maka tak heran, banyak tokoh agama yang mendoakan SBS, bukan karena ia pemimpin, tetapi karena ia manusia yang tahu cara bersyukur kepada Sang Pencipta dan hormat kepada pelayan-Nya.
SBS: Teladan yang Langka di Tengah Hiruk Pikuk Politik
Kini, saat masyarakat menimbang masa depan Malaka, banyak yang kembali menoleh ke masa SBS dengan harapan: semoga pemimpin ke depan belajar dari teladan yang ditinggalkan, bahwa membangun daerah tak hanya soal anggaran, tetapi soal hati.
SBS adalah pemimpin yang tak meninggikan suara, tapi menguatkan jiwa. Ia tidak berkoar-koar tentang toleransi, karena ia sudah menjadikannya kenyataan. Dalam diam dan kerja nyatanya, SBS menunjukkan bahwa kedekatan dengan tokoh agama bukanlah strategi politik, melainkan cermin dari kedekatannya dengan Tuhan.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











