RaebesiNews.com – Suasana hening dan penuh khidmat menyelimuti Kapela Santo Alexander Haitimuk pada Kamis, 2 April 2026. Di tempat sederhana itu, umat berkumpul dalam iman yang sama, mengenang peristiwa agung dua ribu tahun silam: perjamuan terakhir Yesus bersama para murid-Nya.
Di antara umat yang hadir, tampak Bupati Malaka, dr. Stefanus Bria Seran, MPH, didampingi Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Malaka, Beatrix Yasinta Bria Seran. Kehadiran mereka bersama jajaran Pimpinan Perangkat Daerah dan Tim Pendamping Pembangunan Kabupaten Malaka menjadi penegasan bahwa iman dan pelayanan publik berjalan beriringan dalam kehidupan masyarakat Malaka.
Perayaan Ekaristi Kamis Putih dipimpin oleh Pater Felix Kosat, SVD. Dalam kata pengantarnya, ia mengajak umat untuk kembali merenungi makna terdalam dari peristiwa Kamis Putih sebagai pusat kehidupan kristiani.
“Ekaristi adalah lambang tubuh dan darah Kristus. Di situlah kita menemukan sumber kekuatan iman kita,” ungkapnya di hadapan umat yang mengikuti misa dengan penuh khusyuk.
Namun lebih dari itu, Pater Felix menegaskan bahwa Kamis Putih bukan sekadar perayaan simbolik. Di dalamnya terkandung pesan kuat tentang kerendahan hati dan pelayanan. Hal ini tergambar jelas dalam tindakan Yesus yang membasuh kaki para rasul—sebuah tindakan yang melampaui sekat status dan kuasa.
“Tema utama dan kata kuncinya adalah rela melayani dengan kasih dan cinta. Tuhan Yesus mencintai kita semua dengan mengajarkan nilai-nilai kebaikan, pengorbanan, dan cinta kasih,” tegasnya.
Dalam homilinya, Pater Felix kembali menyoroti pengorbanan Yesus yang begitu total, sebuah cinta yang tidak berhenti pada kata, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata hingga pengorbanan diri di kayu salib.
Pesan ini terasa relevan dalam kehidupan sosial hari ini, terutama bagi para pemimpin. Nilai pelayanan yang lahir dari kasih menjadi fondasi penting dalam membangun masyarakat yang adil dan berkeadaban.
Perayaan Ekaristi berlangsung dengan penuh penghayatan, diiringi lantunan koor dari wilayah stasi Santo Alexander Haitimuk yang menambah suasana semakin syahdu. Umat yang hadir larut dalam doa, refleksi, dan rasa syukur.
Di tengah kesederhanaan kapela, Kamis Putih di Haitimuk tidak hanya menjadi perayaan liturgi, tetapi juga ruang perjumpaan antara iman dan kehidupan nyata. tempat di mana kasih, pengorbanan, dan pelayanan kembali diteguhkan sebagai jalan hidup bersama.
Malam itu, di bawah cahaya lampu yang lembut dan doa yang mengalir pelan, Haitimuk menjadi saksi: bahwa iman yang hidup adalah iman yang melayani.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











