Setahun RS Pratama Wewiku Mangkrak, Aktivis Malaka Diam Membisu Tak Punya Nyali

Screenshot 20250614 102157 Chrome 2987770596

RaebesiNews.com – Tepat hari ini, 13 Juni, genap satu tahun usia RS Pratama Wewiku, jika ukuran usia diambil dari momen peresmiannya. Tapi siapa sangka, ulang tahun yang seharusnya dirayakan dengan pelayanan kesehatan yang hidup, justru diperingati dalam suasana duka: sunyi, sepi, dan menyakitkan. Gedung megah itu berdiri kaku, tak lebih dari monumen ambisi politik yang gagal.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Mau usaha anda di lihat ribuan orang?  Klik Disini!!!

Adalah Simon Nahak, Bupati Malaka periode lalu, yang meresmikan rumah sakit itu pada tanggal ulang tahunnya. Entah kebetulan atau memang didesain sedemikian rupa, tetapi jelas: panggung pencitraan kala itu dirancang sempurna.

Lilin ulang tahun ditiup bersamaan dengan pemotongan pita peresmian, konon sebagai simbol kebijakan pro-rakyat. Tapi kini, setahun berlalu, gedung itu belum dipakai. Pelayanan tak berjalan. Proyek belum tuntas. Dan rakyat? Masih menderita.

Namun luka terbesar bukan pada mangkraknya bangunan. Tapi pada diamnya mereka yang selama ini mengaku pembela rakyat: para aktivis Malaka.

Baca Juga: Pemimpin yang Merapikan Dasi: SBS Sosok Teladan dan Ayahnya Orang Malaka

Di Mana Suara Itu Kini?

Organisasi mahasiswa dan kelompok aktivis yang dulunya begitu kritis kini seperti kehilangan arah.
JAS, GEMA, PMKRI, GMNI, ke mana kalian?
Apakah rumah sakit yang tak berfungsi ini tak cukup menyakitkan untuk kalian suarakan?
Apakah karena proyek ini warisan dari kekuasaan yang kalian dukung, maka suara kalian ikut bungkam?

Dulu, isu ijazah palsu menggema di jalan-jalan. Isu tenaga kontrak menggelegar di kantor bupati. Bahkan demo soal pagar rumah jabatan pun bisa menyita energi kalian berhari-hari. Tapi untuk proyek bernilai miliaran rupiah, yang menyangkut nyawa banyak orang, kalian seperti kehilangan semangat.

Baca Juga: Presiden Prabowo Soroti Ketergantungan BUMN pada PMN: Negara Butuh Mitra yang Efisien dan Modern

Chung Lay dan Kawan-Kawan: Dulu Galak di Media Sosial, Kini?

Ada satu kelompok lain yang dulu lantang menyuarakan ketidakadilan melalui media sosial, salah satunya Chung Lay, yang dikenal publik Malaka lewat tulisan-tulisannya yang tajam di Facebook, Instagram, dan grup-grup WhatsApp. Ia bersama beberapa rekan adalah “aktivis digital” yang dulu digandrungi karena keberaniannya membuka tabir-tabir bobrok birokrasi.

Kini, mereka juga sunyi.

Setahun RS Pratama Wewiku mangkrak dan tak satu pun unggahan, status, atau story yang menyentuh masalah ini.
Apakah algoritma sudah mengalahkan idealisme?
Apakah kuasa like dan komentar kini lebih menarik dari jeritan rakyat di Wewiku yang masih harus bertaruh nyawa menempuh perjalanan jauh demi berobat? Ini bukan lagi soal kritik semata. Ini soal nurani.

Baca Juga: Simon Nahak dan Rumah Sakit yang Tak Pernah Lahir: Sebuah Ulang Tahun yang Pahit

Aktivisme Bisu: Penyakit Baru Malaka

Diamnya para aktivis atas mangkraknya RS Pratama Wewiku adalah bukti bahwa gerakan sosial kita sedang sakit. Sakit karena kehilangan arah. Sakit karena tersandera loyalitas politik. Bahkan mungkin sudah lumpuh karena godaan kekuasaan yang menyuap lewat relasi jabatan, proyek, atau sekadar kedekatan.

Aktivisme semestinya menjadi suara paling keras dari luka rakyat. Tapi ketika aktivis sendiri membiarkan luka itu bernanah demi kenyamanan pribadi, maka sesungguhnya mereka bukan pembela kebenaran, mereka bagian dari kebusukan yang diam-diam ikut melanggengkan ketidakadilan.

Baca Juga: Klarifikasi Pemdes Besikama: Tidak Ada Unsur Politik dalam Pencoretan Warga Difabel dari Daftar Penerima BLT DD

Rakyat Tidak Butuh Aktivis Diam

Wewiku dan sekitarnya butuh rumah sakit, bukan hanya papan nama. Rakyat butuh pelayanan kesehatan, bukan panggung peresmian kosong. Dan Malaka butuh aktivis yang bersuara karena nurani, bukan karena posisi dan pesanan.

Setahun RS Pratama Wewiku mangkrak adalah tamparan keras. Bukan hanya bagi mereka yang membangun dan gagal menyelesaikannya, tapi juga bagi para aktivis yang membiarkannya terus membusuk dalam diam.

Aktivis sejati tidak memilih-milih kapan dan untuk siapa mereka bersuara.
Mereka bersuara karena ada yang tak beres. Dan hari ini, yang tak beres itu berdiri di Wewiku, diam-diam memaki semua yang memilih bungkam.***

 

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RaebesiNews.Com

+ Gabung