Jaga Batas dan Bangsa: Suara Prabowo Dari Jakarta disambut SBS di Malaka Batas Negara

Screenshot 20250602 220230 WhatsApp 1911974660

RAEBESINEWS.COM – Ketika Presiden Prabowo Subianto berdiri di mimbar Gedung Pancasila pada peringatan Hari Lahir Pancasila, 2 Juni 2025, suaranya menggema keras dan jernih: “Dengan uang, mereka membiayai LSM untuk mengadu domba kita.” 

Pernyataan itu tak hanya ditujukan ke langit-langit diplomasi nasional, tapi juga menyusup jauh hingga ke tanah batas republik, ke ujung selatan Pulau Timor, ke Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur.

Presiden berbicara tentang intervensi asing dan perang hibrida yang tak lagi mengandalkan peluru, melainkan pengaruh. Tentang cara licik yang digunakan pihak luar untuk memecah belah masyarakat Indonesia melalui pendanaan tersembunyi terhadap lembaga-lembaga yang membawa agenda tertentu. Sebuah peringatan keras bahwa kini peperangan bisa berwujud halus: ujaran, isu-isu sosial, dan manipulasi narasi.

Baca Juga: Strategi NTT Bangun dari Desa: Pemekaran Kini Tanpa Proses Berbelit, Begini Syaratnya

Di ujung lain negeri, gema seruan serupa telah lama digaungkan oleh Bupati Malaka, dr. Stefanus Bria Seran (SBS). Dalam banyak pertemuan rakyat, di aula desa, lapangan bola, hingga lopo-lopo adat, SBS kerap mengingatkan: “Jangan warisi sifat adu domba yang dimainkan penjajah. Jangan jadi bangsa yang mudah dipecah.”

Pesannya bukan tanpa alasan. Malaka bukan hanya sekadar daerah administratif. Ia adalah gerbang. Sebuah pintu Republik Indonesia yang menghadap langsung ke Timor Leste, bekas provinsi yang kini menjadi negara sahabat. Sebagai daerah perbatasan, Malaka memikul beban strategis bukan hanya soal teritori, tetapi juga mentalitas warga dan identitas kebangsaan.

Baca Juga: HMS Gandeng Kadis Pertanian dan Kadis PMD NTT Genjot Pertanian Malaka

Nasionalisme di Tapal Batas

Menjaga perbatasan tak semata-mata urusan militer. Ia juga tugas sosial dan kultural. TNI menjaga pos-pos dan patroli batas negara, tetapi rakyat yang menjaga makna “kita” sebagai bangsa. Oleh karena itu, membangun rasa cinta tanah air di perbatasan menjadi sesuatu yang mutlak.

Di Malaka, nilai ini telah menjadi doktrin yang hidup melalui pendidikan, pelayanan publik yang merata, hingga komunikasi antarumat beragama dan antarwarga desa yang terus diperkuat. Pemerintah Kabupaten Malaka bahkan menjadikan cinta tanah air sebagai bagian dari kebijakan pembangunan daerah.

“Kita bangun Malaka bukan hanya dengan jalan dan jembatan. Kita bangun juga rasa kebanggaan sebagai anak Indonesia,” ujar SBS dalam sebuah kesempatan di Betun.

Baca Juga: HMS Gandeng Kadis Pertanian dan Kadis PMD NTT Genjot Pertanian Malaka

Keamanan: Bukan Hanya Soal Senjata

Isu keamanan kini bukan hanya soal ancaman senjata atau penyusupan fisik. Lebih bahaya dari itu adalah infiltrasi pemikiran, radikalisme, separatisme lunak, dan propaganda adu domba yang masuk lewat media sosial, aktivitas LSM asing, atau narasi-narasi pesimis yang menyasar komunitas terpencil.

Pernyataan Presiden Prabowo tentang LSM asing bukan teori konspirasi belaka. Laporan dari Badan Intelijen Negara (BIN) dan Kemenkopolhukam sebelumnya menunjukkan indikasi keterlibatan pihak luar dalam memicu ketegangan sosial melalui lembaga-lembaga yang membawa bendera bantuan, tetapi menyelipkan racun ideologi.

Baca Juga: TP PKK Malaka Aktif di Munas VI Apkasi: Bertukar Pengalaman, Belajar Etika dan Public Speaking

Daerah perbatasan seperti Malaka menjadi rentan jika warga tidak memiliki kesadaran nasional yang kuat. Oleh karena itu, strategi pemerintah pusat dan daerah harus seirama: meningkatkan kesejahteraan, memperkuat pelayanan publik, membuka akses informasi yang sehat, serta mengangkat kebudayaan lokal yang bersinergi dengan nilai-nilai Pancasila.

Membangun Pertahanan Sosial

Dalam konsep pertahanan negara, komponen utama bukan hanya tentara, melainkan rakyat. Di Malaka, nilai gotong royong, toleransi, dan cinta kampung menjadi benteng alami yang memperkuat pertahanan sosial. Ketika warga saling percaya, ketika adat dihormati, dan ketika pemimpin daerah hadir bukan hanya sebagai birokrat, tetapi sebagai pengayom di situlah keamanan sejati bermula.

Baca Juga: Gaun Tenun Malaka Menari di Minahasa: Pesona Dua Perempuan dalam Munas VI Apkasi

Seorang tokoh adat di Desa Alas Selatan, Kecamatan Kobalima Timur yang berbatasan langsung dengan Distrik Suai, Timor Leste, berkata:

“Kalau kita jaga hati sesama, jaga batas itu jadi gampang. Tapi kalau hati sudah dipenuhi curiga, pagar pun bisa roboh dari dalam.”

Menutup Pintu Adu Domba

Dalam suasana Pancasila, pesan dari Presiden Prabowo dan Bupati SBS bukan sekadar peringatan, tapi juga ajakan: mari menutup celah adu domba. Mari menjadikan perbatasan bukan zona rawan, melainkan zona harapan. Zona yang membuktikan bahwa Indonesia tidak hanya utuh secara geografis, tapi juga kuat dalam batin dan persatuan.

Karena menjaga perbatasan, sejatinya adalah menjaga Indonesia itu sendiri.***

 

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *