RaebesiNews.com – Pagi itu, udara di Desa Wehali masih lembap. Sisa embun menggantung di daun-daun mangrove yang hijau rimbun. Angin laut datang dari arah selatan, membawa aroma asin yang lembut dan menenangkan.
Di antara desir angin dan gemericik air tambak, suara burung-burung merpati terdengar bersahutan, seolah menyambut para tamu yang baru saja tiba di gerbang Taman Eden Malaka.
Rombongan tamu itu bukan orang biasa. Mereka adalah Wakil Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nusa Tenggara Timur, Polantoro, bersama beberapa stafnya, ditemani pula oleh Kepala Cabang Bank NTT Betun dan sejumlah pegawai.
Hari itu, mereka datang bukan untuk rapat atau meninjau proyek keuangan, melainkan untuk menikmati suasana alam yang meneduhkan—sebuah jeda dari rutinitas yang padat.
Tuan rumah mereka, Henri Melki Simu (HMS), Wakil Bupati Malaka yang juga pemilik Taman Eden, menyambut dengan senyum hangat. Ia bukan hanya pejabat, melainkan juga seorang pencinta alam sejati.
Dari tangan dan imajinasinya, sebidang lahan pesisir seluas dua hektare yang dulu sunyi kini menjelma menjadi taman hijau yang menawan, Taman Eden, sebuah surga kecil yang tumbuh di antara akar-akar mangrove.
Harmoni di Tengah Alam
Begitu melangkah masuk, rombongan seolah disambut oleh keheningan yang hidup. Pohon-pohon mangrove menjulang seperti payung hijau, melindungi dari terik matahari. Jalan setapak dari papan kayu terbentang melingkar, mengantar setiap langkah ke sudut-sudut taman yang menenangkan.
“Dari luar kelihatan biasa saja,” ujar Polantoro dengan nada takjub, “tapi begitu masuk ke dalam, luar biasa. Bikin betah dan nyaman sekali. Cocok untuk menghilangkan penat dan beban hidup.”
Ucapan itu meluncur tulus, seolah keluar dari hati yang menemukan kedamaian. Mereka berjalan perlahan, menikmati suara air yang menepuk lembut tepi tambak. Di dalam taman, ada kolam ikan bandeng yang luas, memantulkan langit biru dan daun-daun mangrove yang bergoyang.
Tak hanya ikan, di taman itu hidup pula ribuan burung merpati yang beterbangan bebas, ayam kampung yang berlarian di rerumputan, serta bebek dan kambing yang mencari makan di bawah pohon. Semua bergerak dalam harmoni, tanpa kegaduhan, tanpa kebisingan mesin. Alam di sini berbicara dengan bahasa kesederhanaan.
Tempat di Mana Waktu Melambat
Di tengah taman, berdiri beberapa rumah kecil dari kayu, beratap daun lontar. Di situlah para tamu duduk bersantai. Di meja bambu, kopi panas disajikan bersama pisang goreng hangat, hidangan khas Malaka yang sederhana namun penuh keakraban.
“Kopi Malaka ini beda rasanya,” ucap salah satu staf Bank NTT, menyesap perlahan sambil memandangi air tambak yang tenang.
Henri Melki Simu tersenyum. “Ya, di Taman Eden, kita tak hanya menikmati alam, tapi juga merasakan keseimbangan hidup. Alam memberi, kita menjaga.”
Obrolan pun mengalir ringan. Tak ada pembicaraan soal angka, data, atau laporan keuangan. Yang terdengar hanya tawa dan cerita. Seakan waktu melambat di bawah naungan mangrove, memberi ruang bagi manusia untuk kembali menjadi dirinya sendiri, tanpa topeng jabatan, tanpa tekanan pekerjaan.
Memancing di Surga Kecil
Tak lama kemudian, HMS mengajak mereka ke tepi kolam bandeng. “Mari, kita pancing ikan sendiri. Kalau dapat, langsung kita bakar di sini.”
Ajakan itu disambut antusias. Dengan alat pancing sederhana, mereka berdiri berjajar di pinggir tambak. Suara riang terdengar saat kail pertama menarik ikan ke permukaan. Air muncrat, tawa pecah, suasana berubah hangat.
“Ini namanya terapi alami,” kata Polantoro, sambil menahan senyum puas melihat ikan bandeng berukuran besar berjuang di ujung tali pancingnya.
Setelah beberapa ekor ikan berhasil ditangkap, HMS memimpin kegiatan berikutnya, membakar ikan di bawah rimbunan pohon. Asap putih mengepul pelan, membawa aroma khas ikan bakar yang menggoda selera. Di atas meja bambu sederhana, tersaji santapan yang lahir dari kerja tangan dan kebersamaan.
Mereka makan bersama. Tidak ada piring porselen atau gelas kristal, hanya alas daun pisang dan air kelapa muda. Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan rasa syukur yang mendalam.
Satu Hari yang Terasa Abadi
Enam jam berlalu tanpa terasa. Di Taman Eden, waktu seakan kehilangan makna. Burung-burung terbang rendah di atas tambak, angin berhembus pelan membawa suara jangkrik dari kejauhan. Alam, dalam kesederhanaannya, berhasil menenangkan hati manusia yang sering gelisah di hiruk-pikuk dunia kerja.
Polantoro duduk sejenak di kursi bambu, menatap hamparan mangrove yang hijau. “Tempat ini luar biasa. Di sini saya merasa tenang, damai, seolah semua beban pikiran lenyap,” katanya pelan, seakan berbicara pada dirinya sendiri.
Bagi rombongan OJK NTT dan Bank NTT, kunjungan itu bukan sekadar agenda wisata, melainkan pengalaman batin yang menyentuh. Mereka menyadari bahwa kemajuan tidak hanya diukur dengan gedung tinggi atau angka pertumbuhan ekonomi, tapi juga dengan sejauh mana manusia mampu hidup selaras dengan alam.
Tanda Persaudaraan dari Malaka
Menjelang sore, matahari mulai condong ke barat. Cahaya keemasan menembus celah mangrove, memantulkan bayangan indah di permukaan air. Rombongan OJK NTT bersiap untuk kembali ke Betun. Namun sebelum berpisah, HMS memberikan kain tenun ikat khas Malaka kepada para tamu.
“Ini tanda kasih dari kami. Tenun ini dibuat oleh tangan-tangan perempuan desa, dengan cinta dan kesabaran,” ucapnya.
Polantoro menerima dengan mata berbinar. “Ini lebih dari sekadar cendera mata. Ini simbol persaudaraan,” ujarnya sambil menggenggam kain itu erat.
Sebelum melangkah pergi, mereka sempat menoleh sekali lagi ke arah taman. Di kejauhan, terlihat HMS masih berdiri di bawah pohon mangrove, melambaikan tangan. Angin sore mengibarkan kain di bahunya, seolah turut mengucap selamat jalan.
Taman Eden, Simbol Cinta dan Harapan
Taman Eden bukan sekadar tempat rekreasi. Ia adalah refleksi dari cara berpikir baru: bahwa pembangunan bisa bersahabat dengan alam. Di tangan seorang pemimpin yang mencintai rakyat dan lingkungannya, lahan pesisir bisa menjadi taman kehidupan.
Henri Melki Simu menanam bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk generasi Malaka yang akan datang. Di taman ini, anak-anak bisa belajar tentang ekosistem mangrove, tentang pentingnya menjaga laut dan daratan, tentang keseimbangan antara manusia dan bumi.
Taman Eden adalah kisah sederhana tentang cinta—cinta pada tanah, pada alam, dan pada sesama. Ia menjadi ruang di mana alam dan manusia berdialog dalam bahasa keindahan.
Bagi Polantoro dan rombongan OJK NTT, kunjungan itu meninggalkan kesan yang sulit dilupakan. Mereka datang sebagai tamu, namun pulang dengan hati yang lebih tenang. Di tengah tugas dan tanggung jawab besar mereka di dunia keuangan, Taman Eden menjadi pengingat bahwa hidup tak selalu harus berlari. Sesekali, manusia perlu berhenti, menarik napas, dan mendengarkan suara alam.
Dan di Malaka, tanah perbatasan yang kaya akan cerita dan keindahan, suara itu terdengar paling jernih di antara pepohonan mangrove, di antara riak air tambak, di antara tawa orang-orang yang tahu bagaimana mencintai hidup dengan sederhana.
Di situlah makna sejati dari nama Taman Eden, sebuah tempat di mana kedamaian bukan sekadar janji, melainkan kenyataan yang bisa dirasakan, dilihat, dan dihirup dalam setiap hembusan angin.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









