Daerah  

Wabup Malaka Tinjau 77 Hektare Lahan di Kampung Arak, Siap Cetak Sawah Baru

Screenshot 20250507 183342 Gallery 576743017

RaebesiNews.com – Di ujung barat pulau Timor, ketika matahari baru saja bangkit dari balik punggung bukit dan embun belum sempat meninggalkan rumput, sekelompok manusia berjalan perlahan melewati jalan berlumpur, menembus genangan air yang memantulkan langit pagi. Mereka berjalan bukan untuk sekadar melihat tanah mereka menuju harapan.

Di Kampung Arak, Desa Naet, Kecamatan Rinhat, hari itu (7/5/2025) bukanlah hari biasa. Ada sesuatu yang tumbuh lebih dulu dari padi, keyakinan.

Wakil Bupati Malaka, Henri Melki Simu, datang bersama Kepala Dinas Pertanian, bukan dengan janji kosong, tapi dengan langkah yang menyentuh lumpur yang sama yang diinjak petani saban hari.

Tanah seluas 77 hektare membentang di tepi hulu Sungai Benenai, airnya mengalir pelan seolah tahu bahwa sesuatu sedang berubah.

Baca Juga: Kades Tak Mampu Urus Desa Akan Dicopot, Tim Pemkab Malaka Turun Akhir Mei

Sungai itu adalah batas antara Malaka dan Timor Tengah Utara. Tapi bagi para petani di kampung ini, batas sesungguhnya bukanlah garis di peta, melainkan kemiskinan, keterasingan, dan musim-musim panjang tanpa panen.

Kosmas, lelaki berumur lima puluhan dengan wajah legam terbakar matahari, berdiri di bawah pohon lontar yang daunnya berdesir pelan.

Ia menggenggam topi anyaman pandan yang sudah lusuh, dan matanya memandangi tanahnya sendiri seperti baru pertama kali melihatnya.

“Baru kali ini, Pak Wakil datang ke kebun. Baru kali ini juga kami merasa diperhatikan,” katanya pelan, tapi nadanya padat oleh rasa percaya.

Kosmas bukan satu-satunya. Puluhan warga lain ikut hadir hari itu. Mereka adalah pemilik lahan, para pewaris tanah-tanah tua yang dahulu hanya ditumbuhi ilalang, sesekali ubi, dan kadang hanya menjadi tempat lewat ternak.

Baca Juga: Di Ujung Malaka, Di Tengah Sepi: Kisah Kecil dari SDI Sein, Kampung Arak

Kini, pemerintah daerah menawarkan lebih dari sekadar alat atau bibit. Mereka membawa visi: menjadikan hamparan ini sebagai sawah baru, ladang pangan yang tak hanya memberi makan, tapi juga martabat.

Namun seperti semua hal di tanah ini, tak ada yang bisa instan.

“Kita bantu, tapi petani juga harus komitmen. Tanaman harus dipagar, kalau tidak, sia-sia,” ujar Wakil Bupati Henri. Suaranya bersahaja, tapi jelas membawa pesan yang kuat: harapan tidak bisa berdiri sendiri. Ia perlu dijaga.

Dan jawaban datang, bukan dari dokumen, tapi dari hati.

“Kami akan pagar, Pak. Kami kerja sendiri saja bisa, apalagi dibantu. Kami sanggup dan semangat,” kata Kosmas, suaranya gemetar antara bangga dan haru.

Baca Juga: Kampung Arak: Suara dari Hulu Benenai yang Terlupakan, Dikunjungi Wakil Bupati HMS

Kampung Arak bukanlah pusat dunia. Bahkan dalam peta Malaka pun, ia mungkin hanya titik kecil di pinggiran.

Tapi hari itu, ia menjadi pusat dari sesuatu yang besar: pembuktian bahwa kehadiran pemerintah bisa menjelma menjadi nyata tak hanya sebagai suara dari pengeras di kota, tapi sebagai telapak kaki yang menyentuh lumpur bersama rakyat.

Jalan menuju lahan itu tak mudah. Mobil harus diparkir jauh, dan sisanya ditempuh dengan berjalan kaki. Lumpur menyambut seperti biasa. Tapi tidak ada keluhan. Mungkin karena yang dibawa bukan sekadar rencana, tapi masa depan.

Di bawah langit yang biru pucat dan desir angin yang membawa bau daun dan tanah basah, perbincangan antara petani dan pemerintah tak berjarak. Tidak ada meja. Tidak ada mikrofon. Hanya tubuh-tubuh yang berdiri sejajar di hadapan alam.

Program pertanian ini bukan sembarang program. Ia adalah napas utama pemerintahan SBS-HMS. Sawah bukan hanya ladang padi, ia adalah ladang harga diri. Di tanah seperti Malaka, pangan bukan soal logistik semata, tapi soal kebebasan. Karena siapa yang bisa menanam dan memanen sendiri, dia tidak akan tunduk.

Baca Juga: Filosofi ‘Omong A, Buatnya A’: Konsistensi SBS Kembali Terbukti

Wakil Bupati Henri berjanji akan kembali bersama tim. Tapi janji itu bukan klimaks dari cerita. Klimaksnya justru ada dalam cara warga menggulung celana dan menjejakkan kaki di lumpur itu kembali, setelah rombongan pergi. Dalam cara mereka saling bicara dengan suara rendah: “Besok kita mulai bersih-bersih lahan.”

Karena di tanah-tanah yang selama ini hanya diam, akhirnya terdengar juga langkah-langkah menuju hidup yang baru.

Di tepi Benenai, pada pagi bulan Mei itu, sawah-sawah belum dicetak. Tapi suara air, angin, dan manusia telah memahat ruang di hati mereka yang hadir: bahwa tanah ini akan hidup, bukan karena diberi, tapi karena diperjuangkan bersama.

Dan seperti halnya benih, harapan juga perlu ditanam, dirawat, dan diyakini—meski awalnya hanya berupa lumpur dan keheningan.***

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *