Daerah  

Tebing Longsor di Oekmurak: Diabaikan Era Simon Nahak, Kini SBS-HMS Bangun Bronjong untuk Lindungi Warga

Screenshot 2025 09 22 19 12 06 07 6012fa4d4ddec268fc5c7112cbb265e7 1410668714

RaebesiNews.com – Tebing sungai di Desa Oekmurak, Kecamatan Rinhat, akhirnya mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Malaka. Senin, 22 September 2025, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Malaka melaksanakan tahapan MC 0 sebagai awal dimulainya pembangunan bronjong penahan tebing.

Langkah ini menjadi jawaban atas keresahan warga yang selama bertahun-tahun dihantui ancaman banjir dan longsor akibat erosi sungai yang terus menggerus tanah di sekitar pemukiman.

Kilas Balik: Diabaikan Era Simon Nahak

Masalah longsor di Oekmurak bukan hal baru. Pada masa kepemimpinan mantan Bupati Simon Nahak, warga sudah berulang kali menyuarakan keluhan. Namun bukannya mendapat solusi, mereka justru dimarahi. Simon saat itu menuding masyarakat keliru membangun rumah di tepi sungai.

Padahal faktanya, longsor di Oekmurak bukan semata soal letak rumah, melainkan akibat proses erosi alami yang terjadi setiap tahun. Gerusan air memperlemah struktur tanah tebing, sehingga jarak aman pemukiman semakin menyempit. Akibatnya, setiap musim hujan warga harus berjaga penuh kecemasan.

Bronjong: Solusi Untuk Atasi Erosi

Berbeda dengan sikap sebelumnya, Bupati dr. Stefanus Bria Seran (SBS) dan Wakil Bupati Henri Melki Simu (HMS) memilih jalur solusi. Melalui Dinas PUPR, bronjong penahan akan dibangun di titik kritis sungai Oekmurak.

Dalam ilmu teknik sipil, bronjong adalah struktur penahan yang dibuat dari anyaman kawat baja galvanis berbentuk kotak, diisi dengan batu kali atau batu pecah. Fungsinya:

*Mengendalikan erosi di sepanjang tebing sungai.

*Menahan gaya dorong air agar tidak merusak lahan di sekitarnya.

*Memperkuat stabilitas tanah, sehingga pemukiman warga lebih aman.

*Memperpanjang umur infrastruktur di sekitarnya, termasuk jalan desa dan lahan pertanian.

Selain efektif, konstruksi bronjong juga ramah lingkungan karena memanfaatkan material batu lokal serta tetap memungkinkan air meresap, tidak seperti beton masif yang kaku.

Pelaksanaan MC 0 (Mutual Check Nol) yang dilakukan Dinas PUPR menjadi langkah teknis awal untuk menghitung volume pekerjaan, memastikan titik lokasi, serta kesesuaian gambar rencana dengan kondisi lapangan. Dengan demikian, pembangunan bronjong di Oekmurak dapat berjalan tepat sasaran dan sesuai standar teknis.

Pemimpin yang Hadir dengan Solusi

Kehadiran program ini menunjukkan perbedaan sikap kepemimpinan. Jika dulu keluhan warga hanya dibalas dengan amarah, kini masyarakat Oekmurak melihat langsung langkah nyata pemimpin mereka. SBS-HMS tidak sekadar mendengar, tapi menjawab keresahan dengan solusi teknis yang terukur.

“Dengan adanya bronjong ini, kami tidak lagi takut setiap kali hujan deras turun. Akhirnya ada jawaban setelah sekian lama menunggu,” ungkap salah satu warga Oekmurak.

Menata Malaka dengan Inovasi Teknik Sipil

Kasus Oekmurak memberi pelajaran penting bahwa penanganan bencana alam butuh pendekatan ilmiah, bukan sekadar menyalahkan rakyat. Solusi berbasis teknik sipil seperti bronjong adalah investasi jangka panjang untuk keselamatan masyarakat dan keberlanjutan pemukiman.

Pemerintah SBS-HMS membuktikan bahwa pembangunan bukan hanya soal proyek besar di kota, melainkan juga kepedulian terhadap desa-desa yang rawan bencana. Dengan bronjong penahan, warga Oekmurak kini bisa berharap hidup lebih tenang di tanah mereka sendiri.***

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *