Daerah  

Santo Stefanus dan Stefanus Bria Seran: Dua Nama, Satu Teladan Pengabdian

Screenshot 2025 12 26 10 06 32 08 6012fa4d4ddec268fc5c7112cbb265e7 1272012477

RaebesiNews.com – Tanggal 26 Desember selalu datang dengan makna yang hening namun menggugah iman. Sehari setelah lonceng Natal merayakan kelahiran Sang Juru Selamat, Gereja Katolik menghadapkan umat pada kisah yang kontras namun saling melengkapi: kisah kemartiran Santo Stefanus, protomartir Gereja. Darah pertama yang tumpah demi Kristus justru mengalir di tengah sukacita Natal, seolah Gereja ingin berkata bahwa cinta sejati selalu menuntut pengorbanan.

Pada tanggal yang sama, 26 Desember, seorang putra Malaka juga merayakan hari lahirnya: dr. Stefanus Bria Seran, Bupati perdana Kabupaten Malaka, dokter pertama dari tanah perbatasan ini. Dua Stefanus, dipisahkan oleh ribuan tahun dan konteks sejarah yang berbeda, namun diikat oleh satu benang merah: pelayanan yang lahir dari iman, keberanian, dan kesediaan berkorban bagi sesama.

Santo Stefanus: Iman yang Tak Berkompromi

Santo Stefanus bukan rasul, bukan pula tokoh besar yang memimpin jemaat. Ia hanyalah seorang diaken, pelayan meja, yang tugas awalnya terlihat sederhana: memastikan janda-janda tidak terabaikan dalam pembagian bantuan. Namun justru dari pelayanan kecil itulah terpancar kebesaran jiwanya. Kitab Kisah Para Rasul mencatatnya sebagai pribadi yang “penuh iman dan Roh Kudus”, seorang yang hidupnya menjadi kesaksian sebelum kata-katanya didengar.

Stefanus berbicara dengan hikmat yang tak mampu dibantah. Ia berkhotbah, melakukan mukjizat, dan menghadirkan kebenaran dengan keteguhan yang membuat para penentangnya gelisah. Tuduhan palsu pun dilontarkan: menghujat Musa dan Allah. Di hadapan Mahkamah Agama, Stefanus tidak membela diri secara sempit, tetapi justru membuka sejarah keselamatan Israel, menyingkap kerasnya hati manusia yang menolak Mesias.

Puncaknya adalah penglihatan yang mengguncang: langit terbuka dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Kesaksian ini mengantar Stefanus pada kematian yang kejam, dirajam batu. Namun bahkan di detik-detik terakhir hidupnya, ia meneladani Sang Guru: mengampuni para pembunuhnya.

Darah Stefanus menjadi benih Gereja, dan kematiannya menjadi pintu bagi pertobatan Saulus, yang kelak dikenal sebagai Rasul Paulus.

Stefanus Bria Seran: Pelayanan yang Bertumbuh dari Rakyat

Di tanah Malaka yang keras dan kering, nama Stefanus Bria Seran tumbuh bukan dari legenda, melainkan dari perjalanan hidup yang nyata. Ia memilih jalan pengabdian sebagai dokter, menyentuh luka-luka rakyat kecil, menyapa kehidupan dari ruang periksa yang sunyi, dari keluhan pasien yang sering kali tak hanya sakit badan, tetapi juga sakit karena kemiskinan dan keterbatasan.

Sebagai dokter pertama dari Malaka, ia belajar bahwa pelayanan bukan soal popularitas, melainkan kesetiaan. Ketika kemudian dipercaya menjadi Bupati perdana Kabupaten Malaka, jalan salib pengabdian itu tidak berakhir, justru menjadi semakin berat. Memimpin daerah perbatasan berarti berdiri di antara harapan dan keterbatasan, antara tuntutan rakyat dan kerasnya realitas birokrasi.

Namun seperti Santo Stefanus yang dipilih menjadi diaken untuk melayani, Stefanus Bria Seran memaknai kepemimpinan sebagai pelayanan. Kekuasaan bukan singgasana, melainkan meja pelayanan. Jabatan bukan kemuliaan, melainkan tanggung jawab. Ia hadir bukan sebagai penguasa yang berjarak, tetapi sebagai pelayan yang turun ke ladang, ke puskesmas, ke sekolah, dan ke desa-desa yang lama terpinggirkan.

Dua Stefanus, Satu Spirit

Tentu, Stefanus Bria Seran bukan martir yang dirajam batu. Namun dalam dunia modern, kemartiran sering hadir dalam bentuk lain: fitnah, salah paham, tekanan politik, dan pengorbanan waktu, tenaga, bahkan kenyamanan pribadi demi kepentingan banyak orang. Di titik inilah teladan Santo Stefanus menemukan gaungnya.

Santo Stefanus wafat sambil berkata, “Tuhan, jangan tanggungkan dosa ini kepada mereka.” Sebuah doa yang lahir dari hati yang bersih, bebas dari dendam. Dalam kepemimpinan publik, semangat ini menjelma menjadi kesabaran menghadapi kritik, keteguhan dalam kebenaran, dan kerelaan untuk tetap melayani meski tak selalu dipahami.

Hari raya Santo Stefanus yang jatuh tepat pada ulang tahun Stefanus Bria Seran menjadi simbol yang indah: bahwa hidup yang diberkati adalah hidup yang dibagikan. Bahwa iman sejati menemukan wujudnya dalam karya nyata bagi sesama. Bahwa Natal tidak berhenti di palungan, tetapi berlanjut di jalan-jalan pelayanan yang sering sunyi dan penuh luka.

Doa dalam Ulang Tahun

Pada 26 Desember, Gereja mengenang Santo Stefanus dengan darah dan palma martir. Di Malaka, rakyat mengenang Stefanus Bria Seran dengan kerja, kebijakan, dan jejak pengabdian. Dua kisah, satu pesan: setia sampai akhir.
Kiranya teladan Santo Stefanus terus menjadi terang bagi setiap pemimpin Katolik, bahwa keberanian berkata benar dan kesediaan berkorban adalah inti dari pelayanan.

Dan kiranya Stefanus Bria Seran, di hari ulang tahunnya, senantiasa diberi kebijaksanaan, kesehatan, dan kerendahan hati untuk terus melayani Malaka dengan hati seorang diaken: melayani, bukan dilayani.

Sebab pada akhirnya, seperti Santo Stefanus, yang dikenang bukanlah lamanya jabatan, melainkan kedalaman cinta dan kesetiaan kepada kebenaran.***

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *