Daerah  

Kalah Boleh, Gaduh Jangan: SBS Sentil Barisan Sakit Hati yang Belum Move On

Screenshot 20250504 182405 Chrome 781736231

RAEBESINEWS.COM – sebuah kabupaten kecil yang tanahnya masih menyimpan jejak sejarah perjuangan, Bupati Malaka dr. Stefanus Bria Seran (SBS) kembali melontarkan pernyataan pedas yang menyentil nurani, atau barangkali ego, sekelompok aktor yang dianggap telah meracuni pikiran anak-anak muda Malaka.

“Malaka ini terlalu kecil untuk tidak diketahui gerak-gerik para aktor,” ujar SBS dalam sebuah pernyataan publik yang kini ramai dibicarakan.

“Gerak langkah kalian terekam, motif kalian tercium, dan taktik kalian sudah basi, mirip sisa-sisa strategi kolonial yang gagal move on dari buku sejarah.”

Baca Juga: SBS Tunjukkan Teladan dan Dewasa Berpolitik: Tidak Pernah Ganggu Pemerintahan Setelah Tidak Menjabat

Pernyataan itu ditujukan kepada pihak-pihak yang disebutnya “memanfaatkan kekalahan dalam suatu pertandingan” untuk menebar provokasi, memperalat orang lain, dan menciptakan kegaduhan yang merusak tenun kebangsaan.

SBS tak menyebut nama, namun nadanya jelas: ini bukan kritik biasa, melainkan tamparan elegan dengan sarung kebesaran seorang pemimpin daerah.

Baca Juga: Peringatan Keras dari SBS: Jangan Harap Bantuan Jika Abai Gotong Royong!

Bertanding, Bukan Berantem

“Jangan sakit hati karena kalah. Dalam pertandingan pasti ada yang menang dan kalah. Tapi memperalat orang lain untuk membuat gaduh? Itu kerdil. Kekanak-kanakan. Kadar intelektual kosong,” tegas SBS.

Sindiran ini menyasar mereka yang, alih-alih bersatu membangun Malaka, justru memilih jalan pecah belah. Sebuah jalan yang, menurut SBS, lebih mirip drama murahan ketimbang gerakan yang beradab.

Baca Juga: Kepala Desa Tesa Pimpin Kerja Bakti Massal, Wujudkan Desa Bersih dan Sehat

Penjajahan Gaya Baru di Malaka 

Dalam pernyataannya, SBS juga menyebut bahwa taktik adu domba yang dimainkan oleh para “aktor pembuat gaduh” ini mengingatkan pada strategi lama penjajah.

“Kini saatnya semua kita harus bersatu untuk urus rakyat Malaka,” katanya. “Bukan waktunya jadi wayang dari bayang-bayang masa lalu.”

Pernyataan SBS ini menjadi penegas bahwa di tengah dinamika politik lokal yang terus memanas, suara pemimpin masih menjadi penyejuk atau justru bara yang membakar semangat untuk bersatu.

Ia tampak tak sekadar menegur, tetapi juga memberi peringatan bahwa Malaka terlalu kecil untuk menyembunyikan manuver – manuver tersembunyi. Gerak-gerik para pembuat gaduh, cepat atau lambat, akan tersorot cahaya.

Baca Juga: Di Balik Lahan Hortikultura Wakil Ketua DPRD Malaka, Ada Harapan dan Motivasi Untuk Rakyat

Tokoh Masyarakat Angkat Suara

Sejumlah tokoh masyarakat turut mengamini pernyataan SBS. Salah satunya, tokoh adat dari Kecamatan Wewiku, Dominggus Seran, menyebut bahwa perilaku para aktor pembuat gaduh tidak hanya mengganggu stabilitas sosial, tapi juga mempermalukan identitas Malaka sendiri.

“Orang Malaka itu dikenal beradat dan bermartabat. Kalau ada segelintir orang yang hobi bikin gaduh demi kepentingan sendiri, itu bukan budaya kita. Itu budaya tipu-tipu, bukan budaya orang Timor,” tegasnya.

Ia juga menyoroti bahaya penyusupan ide-ide adu domba ke dalam pikiran generasi muda.

“Mereka menyusup lewat anak-anak muda karena mereka tahu di situlah harapan Malaka berada. Ini cara pengecut. Kalau punya niat baik, mari muncul terang-terangan, jangan bersembunyi di balik layar,” katanya geram.

Baca Juga: Gotong Royong di Angkaes: Penjabat Kades Paulus Bria Pimpin Langsung Pembersihan Bahu Jalan

Ajakan Membangun, Bukan Mengoyak

Di akhir pernyataannya, SBS mengajak seluruh masyarakat Malaka untuk menyingkirkan ego sektoral dan kepentingan pribadi.

“Ayo, mari kita bangun Malaka bersama. Kita terlalu kecil untuk dipecah belah, tapi cukup besar untuk membuat sejarah bila kita bersatu.”

Siapa pun para aktor pembuat gaduh itu, publik Malaka kini menunggu: akankah mereka terus bermain dalam bayang, atau berani menjawab tantangan secara terang?***

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *