RaebesiNews.com – Di tengah tantangan ketersediaan pangan dan kebutuhan nutrisi masyarakat pedesaan, Kepala Desa Uabau, Agustinus Tere Kabosu, tampil sebagai sosok pemimpin inovatif yang memanfaatkan potensi lokal demi masa depan yang lebih baik.
Dengan semangat gotong royong, ia bersama warga mulai mengolah lahan kosong desa menjadi kebun hortikultura produktif.
Langkah ini bukan semata untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari, tetapi juga sebagai strategi konkret menyambut program MBG (Makan Bergizi Gratis), yang digagas pemerintah pusat.
Selain itu juga untuk mendukung program Kabupaten Malaka di bawah kepemimpinan Bupati dr. Stefanus Bria Seran (SBS) dan Wakil Bupati Henri Melki Simu (HMS).
Program ini bertujuan memastikan setiap anak sekolah mendapatkan asupan gizi cukup untuk mendukung tumbuh kembang mereka secara optimal.
Dari Lahan Kosong Menjadi Harapan Baru
Kebun hortikultura yang dikerjakan secara manual ini melibatkan partisipasi aktif warga desa, baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda. Terlihat dalam kegiatan baru-baru ini, mereka bahu-membahu menanam sayur-mayur seperti bayam, kangkung, tomat, dan cabai, komoditas yang mudah tumbuh di wilayah tropis dan sangat dibutuhkan dalam menu harian masyarakat.
“Lahan ini awalnya tidak terpakai. Tapi sekarang, kami kelola untuk menanam kebutuhan pokok rumah tangga. Ini bisa bantu kami saat anak-anak mulai terima MBG,” ujar Agustinus Tere Kabosu, penuh keyakinan.
Menurutnya, inisiatif ini tak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan konsumsi harian warga, tetapi juga menjadi solusi mandiri atas ancaman inflasi dan krisis pangan.
“Kami ingin desa tidak hanya jadi penonton, tapi produsen pangan sendiri,” tambahnya.
Sinergi dengan Program SBS-HMS
Pemerintahan SBS-HMS sejak awal dikenal konsisten memperjuangkan kedaulatan pangan lokal. Lewat berbagai kebijakan strategis, seperti pelayanan kesehatan gratis berbasis e-KTP, pendidikan bergizi bagi anak sekolah, hingga pembangunan infrastruktur irigasi melalui Bendung Benenain, visi besar mereka menyasar kesejahteraan rakyat dari hulu ke hilir.
Program MBG menjadi bukti bahwa kepedulian pada generasi muda tak cukup hanya dengan kata-kata, melainkan melalui aksi nyata.
Kepala Desa Uabau pun menangkap pesan ini dengan baik dan mengartikulasikannya lewat kebun hortikultura desa.
Gotong Royong, Jiwa Desa yang Tetap Hidup
Foto-foto yang beredar dari lokasi menunjukkan suasana penuh semangat: warga menunduk di atas tanah hitam pekat, tangan-tangan mereka mengolah bumi dengan alat sederhana, namun dengan semangat luar biasa.
Di bawah rindangnya pohon jambu mete, ibu-ibu berjilbab dan bapak-bapak bertelanjang dada membaur dalam satu irama kerja: menanam harapan.
“Ini bukan hanya soal pertanian, tapi tentang kebersamaan dan masa depan anak-anak kita,” ujar salah satu warga.
Menuju Desa Mandiri Pangan
Langkah kecil Kepala Desa Uabau menjadi contoh inspiratif bagi desa-desa lain di Kabupaten Malaka. Dalam konteks yang lebih luas, program ini bisa menjadi embrio dari gerakan desa mandiri pangan yang mengakar pada kekuatan lokal, sesuai dengan semangat “Dari Desa Untuk Indonesia.”
Agustinus Tere Kabosu membuktikan bahwa kepemimpinan desa bukan sekadar administratif, tetapi juga visioner dan transformatif. Bahwa di balik sepetak tanah kosong, bisa tumbuh ladang harapan bagi anak-anak, bagi keluarga, dan bagi masa depan Malaka yang lebih sejahtera.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











