RAEBESINEWS.COM – Janji tinggal janji. Empat tahun lalu, mantan Bupati Malaka, Simon Nahak, berikrar akan membangun taman kota megah di Lapangan Umum Betun.
Sebuah taman yang katanya akan menjadi ikon kabupaten tempat bersantai, berolahraga, berpesta rakyat.
Baca Juga: Anggota DPRD Provinsi NTT Desak Usut Tuntas Dugaan PPPK Siluman di Malaka: Itu Kejahatan Kemanusiaan
Dari kampanye 2020 hingga awal pemerintahannya di 2021–2022, janji itu terus dikumandangkan. Namun ketika masa jabatan berakhir, bukan taman yang tumbuh di pusat kota Betun, melainkan deretan lapak darurat yang memagari lapangan dari segala sisi. Pujasera yang dibangun sebagai pengganti taman kini menjelma jadi simbol kegagalan visi kota.
“Katanya mau bangun taman, yang datang malah seng dan kayu bekas. Dulu lapangan itu bersih dan luas, sekarang kelihatan sumpek dan kumuh,” keluh Maria Lape, warga Kelurahan Betun.
Baca Juga: Diduga Proyek Fiktif, Jalan Usaha Tani di Desa Weulun Malaka Mangkrak dan Tertutup Semak
Lapak-lapak itu mengelilingi lapangan seperti pagar tak resmi. Siang hari, lapangan panas dan lengang. Malam hari, gelap dan sunyi. Pujasera yang dulu sempat ramai kini mulai ditinggalkan. Pedagang kehilangan pembeli, pengunjung kehilangan kenyamanan, dan kota kehilangan wajahnya.
Bagi warga Betun, kekecewaan itu sudah cukup. Kini harapan dialihkan kepada duet kepemimpinan baru: Dr. Stefanus Bria Seran (SBS) dan wakilnya Henri Melki Simu (HMS). Nama keduanya dielu-elukan warga sebagai tokoh yang mampu membalik keadaan, memperbaiki warisan yang terbengkalai.
Baca Juga: SBS-HMS Sapu Bersih Peserta PPPK Siluman di Malaka
“Kami sudah lihat apa yang bisa SBS lakukan dulu. Sekarang dia kembali, kami harap taman kota itu benar-benar dibangun. Bukan sekadar jadi bahan kampanye,” ujar Silvester Luan, tokoh muda asal Wehali.
Lapangan Umum Betun masih setia menunggu. Di tengah kepungan lapak darurat dan bayangan pujasera yang sekarat, tanah lapang itu seolah menyimpan doa: semoga pemimpin yang baru bukan hanya datang membawa janji, tetapi membawa akar, rumput, lampu taman, dan bangku panjang tempat rakyat bisa beristirahat.
Dan Betun, kota kecil di selatan Nusa Tenggara Timur, berharap bisa tersenyum kembali bukan pada kata-kata, tapi pada bukti.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











