RAEBESINEWS.COM – Dalam panggung politik lokal, waktu adalah ujian sejati bagi seorang pemimpin. Tidak cukup hanya menjanjikan, tidak cukup pula hanya hadir di baliho.
Sebab rakyat tidak makan baliho, rakyat butuh bukti.
Dan dalam tempo 3,5 bulan saja, duet Stefanus Bria Seran dan Henri Melki Simu (SBS-HMS) telah menunjukkan kelas kepemimpinan yang berorientasi pada hasil nyata, bukan sekadar retorika manis yang tak pernah menjelma jadi infrastruktur.
Mari kita bedah capaian SBS-HMS selama 3,5 bulan memimpin Kabupaten Malaka:
Baca Juga: Dua Desa di Kecamatan Rinhat Terancam Sanksi Bupati Malaka: Laporan Inspektorat Segera Diterbitkan
1. Pembangunan tanggul Oanmane sepanjang 1,4 Km, menjawab ketakutan petani akan banjir yang rutin menghantam lahan produktif.
2. Pembangunan tanggul Aintasi sepanjang 1,6 Km, memastikan aliran sungai tidak lagi menjadi ancaman musiman.
3. Pembangunan tanggul bronjong di Oekmurak (1 Km), wilayah yang selama bertahun-tahun hanya menjadi daftar panjang janji kampanye.
4. Perbaikan jalan Welaus – Kusa, akses vital masyarakat pedalaman yang selama ini terasa seperti berjalan di atas gelombang.
5. Perbaikan jalan Betun – Motamasin, urat nadi ekonomi yang menghubungkan pusat kota ke perbatasan.
6. Pelayanan kesehatan gratis berbasis e-KTP, langkah nyata menuju keadilan sosial dalam bidang pelayanan publik.
7. 29 Desa selesai diaudit, menandakan hadirnya tata kelola desa yang transparan dan akuntabel.
Lalu, apa yang bisa ditunjukkan oleh Simon Nahak selama 3,5 tahun menjabat Bupati Malaka?
Baca Juga: Kolaborasi Pemkab Malaka dan Pemprov NTT, Jalan Betun–Motamasin Akhirnya Diperbaiki
Sayangnya, jawabannya lebih banyak terjebak pada narasi ketimbang realisasi. Selama 3,5 tahun, tanggul Oanmane dan Oekmurak tidak tersentuh pembangunan.
Dua titik rawan yang saban musim hujan menjadi sumber petaka, tetap dibiarkan begitu saja. Simon bahkan tidak mampu menggerakkan satu proyek pun di wilayah tersebut, seolah wilayah pinggiran bukan bagian dari Malaka yang dia pimpin.
Jalan Welaus-Kusa, jalur penting yang menghubungkan masyarakat di Kecamatan Malaka Tengah dan Malaka Barat, selama 3,5 tahun hanya menjadi bayang-bayang dalam proposal yang entah pernah atau tidak disodorkan ke Pemerintah Provinsi NTT.
Bahkan untuk berkonsultasi pun tak terdengar gaungnya. Ini bukan lagi soal keterbatasan anggaran, melainkan soal keterbatasan kehendak politik.
Kontras ini semakin mencolok ketika kita menyadari bahwa SBS-HMS hanya butuh waktu tiga setengah bulan untuk menggerakkan roda pembangunan yang macet selama hampir empat tahun.
Dalam hitungan minggu, jalan yang sempat menjadi “mimpi buruk” bagi pengendara dan petani, kini mulai terasa manfaatnya. Tanggul-tanggul yang dulunya hanya menjadi cerita duka, kini menjadi simbol harapan.
Baca Juga: Simon Bagi Sembako, SBS Bangun Tanggul: Antara Gimik Politik dan Solusi Nyata untuk Malaka
Dan lebih dari itu, SBS-HMS tidak memulai dari nol. Mereka memulai dari puing-puing pemerintahan sebelumnya yang tidak menyisakan fondasi yang kokoh, baik dalam birokrasi maupun pembangunan infrastruktur.
Pelayanan kesehatan berbasis e-KTP adalah inovasi sederhana tapi revolusioner. Di tengah mahalnya biaya pengobatan dan kompleksnya birokrasi rumah sakit, SBS-HMS datang dengan solusi nyata: cukup dengan menunjukkan e-KTP, rakyat bisa berobat tanpa biaya. Bukankah ini bentuk konkret dari keberpihakan pada rakyat kecil?
Audit terhadap 29 desa juga menjadi catatan penting. Bukan semata-mata angka, tapi sinyal bahwa pemerintahan ini serius ingin membenahi tata kelola dana desa, yang selama ini acapkali menjadi ruang abu-abu bagi penyalahgunaan.
Pertanyaan yang pantas diajukan adalah: Apa saja yang sebenarnya dikerjakan oleh Simon Nahak selama tiga setengah tahun?
Apakah cukup mengandalkan slogan-slogan dan mimbar-mimbar seremonial? Apakah cukup hadir di agenda-agenda politik, namun absen di ladang-ladang yang butuh tanggul?
Baca Juga: Dulu Simon Nahak Salahkan Warga Saat Bencana, Kini SBS-HMS Bangun Tanggul Cegah Banjir
Jika dalam 3,5 bulan SBS-HMS bisa meletakkan fondasi pembangunan yang jelas dan terukur, maka tak salah bila rakyat mulai mengevaluasi masa lalu dengan lebih kritis.
Demokrasi memang memberi ruang untuk memilih, tapi juga menuntut rakyat untuk mengingat siapa yang bekerja dan siapa yang hanya berjanji.
Pemimpin sejati bukan yang banyak berbicara, tapi yang bekerja diam-diam dan meninggalkan jejak.
SBS-HMS telah menunjukkan itu.
Dan Malaka, akhirnya, bergerak lagi.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









