Malaka , 18 April 2026
Di tengah masa libur panjang nasional—dari cuti bersama hingga rangkaian Hari Raya Nyepi dan Idulfitri—sebagian besar orang memilih beristirahat.
Namun tidak bagi Bupati Malaka, Stefanus Bria Seran.
Baginya, kepemimpinan tidak mengenal jeda.
“Kita yang kepala ini tidak ada libur,” tegasnya.
Pada 18 Maret 2026, ia justru turun langsung ke lapangan, memantau pembangunan Jembatan Gantung Numbei–Kakaniuk.
Kunjungan ini bukan sekadar agenda kerja, tetapi bagian dari cara membaca realitas yang dihadapi rakyat.
Menurutnya, tugas pertama seorang pemimpin adalah memahami persoalan rakyat secara nyata—bukan hanya dari laporan di meja.
Dan tugas kedua adalah memastikan kebutuhan dasar mereka terpenuhi.
Di Malaka, salah satu persoalan paling mendasar adalah keterisolasian wilayah akibat sungai yang meluap saat musim hujan.
Karena itu, pembangunan jembatan menjadi prioritas.
“Kalau masyarakat tidak bisa bergerak, maka semua sektor ikut lumpuh,” ujarnya.
Ia mengaku bersyukur karena langkah yang diambil pemerintah daerah sejalan dengan kebijakan nasional.
Pemerintah pusat mendorong pembangunan ribuan jembatan untuk membuka akses daerah terisolasi.
Namun bagi Bupati, yang terpenting bukan sekadar menjalankan program.
Yang lebih penting adalah meninggalkan jejak.
“Pemimpin adalah orang yang beruntung karena diberi kepercayaan untuk membuat sejarah,” katanya.
Jejak itu, menurutnya, bukan untuk dirinya semata. Tetapi untuk dikenang oleh generasi yang akan datang.
Dalam setiap kunjungan ke desa—seperti Oekmurak, Oanmane, dan Lamea—ia melihat langsung bagaimana kepercayaan masyarakat tumbuh ketika janji mulai direalisasikan.
Namun ia juga memberi peringatan keras kepada jajaran teknis, khususnya Dinas PUPR.
Pekerjaan tidak boleh asal-asalan.
Karena dalam proyek infrastruktur, hasil akhir adalah segalanya.
“Kerja harus berkualitas dan terdokumentasi dengan baik,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa kondisi alam bisa berubah sewaktu-waktu.
Normalisasi hari ini bisa saja tidak bertahan jika pekerjaan tidak dilakukan dengan serius.
Bagi Stefanus Bria Seran, kepemimpinan bukan tentang jabatan.
Tetapi tentang keberanian hadir di tengah persoalan.
Tentang memastikan rakyat tidak lagi berjalan sendiri menghadapi kesulitan.
Dan tentang meninggalkan sesuatu yang nyata—yang bisa dilihat, dirasakan, dan dikenang.
Di Numbei, jejak itu sedang dibangun.
Bukan hanya dari baja dan kabel.
Tetapi dari komitmen seorang pemimpin yang memilih untuk tidak pernah benar-benar libur di hari libur nasional tahun ini.
Editor : Boni Atolan
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RaebesiNews.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.















