RaebesiNews.com – Duka mendalam menyelimuti Nusa Tenggara Timur atas berpulangnya Lukas Mbandi Kaborang, Senin (20/4/2026) di Rumah Sakit Siloam Kupang, dalam usia 88 tahun. Sosok yang pernah memimpin Sumba Timur periode 1994–1999 itu meninggalkan jejak panjang pengabdian yang tak mudah dilupakan.
Lahir pada 1938, Lukas Kaborang dikenal sebagai birokrat tangguh yang memimpin di masa penuh dinamika menjelang reformasi. Setelah masa jabatannya berakhir, ia tetap aktif dalam dunia politik sebagai anggota DPRD Sumba Timur, bahkan pernah menjabat Wakil Ketua DPRD dan Ketua Komisi A. Ia juga dipercaya memimpin DPD Partai NasDem Sumba Timur periode 2012–2017.
Namun lebih dari sekadar jabatan, almarhum dikenang sebagai pemimpin berkarakter kuat. Bupati Malaka, Stefanus Bria Seran, yang pernah bekerja langsung bersamanya, memberikan kesaksian mendalam: Lukas Kaborang adalah sosok tegas, keras, dan tanpa kompromi ketika menyangkut kepentingan rakyat.
“Beliau tidak pernah memberi ruang bagi kepentingan lain kalau itu merugikan rakyat,” ungkap SBS.
Ketegasan itu berjalan seiring dengan etos kerja yang tinggi. Ia dikenal rajin, disiplin, dan pekerja keras, serta memiliki perhatian besar terhadap sektor pertanian sebagai fondasi kehidupan masyarakat Sumba Timur.

“Beliau sangat fokus pada pertanian. Ia tahu di situlah rakyat menggantungkan hidup,” tambah SBS.
Namun di balik sikap kerasnya dalam prinsip, Lukas Kaborang juga dikenal memiliki jiwa kekeluargaan, persaudaraan, dan persahabatan yang sangat tinggi. Nilai-nilai inilah yang membuatnya dekat dengan banyak orang, tidak hanya sebagai pemimpin, tetapi juga sebagai sahabat.
Kesaksian itu menemukan makna yang paling nyata pada Rabu (22/4/2026) di Bandara El Tari Kupang. Di tempat itulah, SBS hadir mengantar langsung jenazah almarhum untuk diterbangkan menuju Sumba Timur, tanah yang pernah ia pimpin dan kini menjadi tempat peristirahatan terakhirnya.
Dalam suasana duka, SBS tidak hanya hadir sebagai kepala daerah, tetapi sebagai sahabat lama. Ia tampak duduk berdampingan dengan istri almarhum, sebuah gestur sederhana namun penuh makna, simbol kedekatan, empati, dan penghormatan yang tulus.
Ia mengikuti seluruh proses pelepasan dengan khidmat, mengantar hingga jenazah diberangkatkan ke pesawat. Momen itu menjadi lebih dari sekadar prosesi formal; ia adalah perjumpaan terakhir antara dua sosok yang pernah berjalan bersama dalam pengabdian.
Hubungan antara SBS dan Lukas Kaborang telah terjalin sejak lama, ketika almarhum menjabat Bupati Sumba Timur dan SBS mengemban tugas sebagai Kepala Dinas Kesehatan. Dari relasi kerja itu tumbuh ikatan nilai, tentang ketegasan dalam memimpin, kerja nyata untuk rakyat, dan pentingnya menjaga kemanusiaan.

Di Bandara El Tari, semua nilai itu seperti kembali hidup dalam diam. Seorang pemimpin yang dulu ditempa kini berdiri mengantar pemimpinnya, dengan hormat, dengan kenangan, dan dengan kesetiaan.
Kini, perjalanan Lukas Kaborang berlanjut menuju Sumba Timur. Ia kembali ke tanah yang pernah ia layani, diiringi doa dan penghormatan. Sementara itu, nilai-nilai yang ia wariskan, ketegasan untuk rakyat, dedikasi pada pertanian, serta hangatnya persaudaraan, akan terus hidup, menjadi cahaya bagi generasi yang melanjutkan pengabdian di Nusa Tenggara Timur.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









