RaebesiNews.com – Di tengah suasana duka yang menyelimuti Desa Kakaniuk, Kecamatan Malaka Tengah, terselip sebuah kisah yang hangat dan menyentuh. Bupati Malaka, Stefanus Bria Seran, berjumpa kembali dengan sahabat lamanya semasa di SMPK Sabar-Subur Betun, Romo Benyamin Seran.
Pertemuan itu terjadi saat Bupati bersama rombongan datang melayat almarhum, yang merupakan ipar dari Romo Benyamin Seran. Di tengah duka, suasana menjadi sedikit cair ketika dua sahabat lama ini saling bertatap, membawa kembali kenangan masa muda yang mungkin telah lama tersimpan.
Saat turun dari mobil, sebuah momen penuh makna terjadi. Romo Benyamin Seran berinisiatif menjemput langsung sahabatnya itu. Namun, dengan penuh hormat, Bupati Malaka menolak secara halus.
“Teman tidak usah jemput saya. Teman itu pastor, tunggu saya di tenda duka saja,” ujar SBS dengan nada rendah hati.
Ucapan itu bukan sekadar basa-basi. Ia mencerminkan penghormatan mendalam seorang awam kepada panggilan suci seorang imam dalam Gereja Katolik. Dalam pandangan SBS, seorang imam memiliki martabat luhur yang patut dijunjung tinggi, bahkan oleh seorang kepala daerah sekalipun.
Namun persahabatan tak mengenal sekat jabatan maupun status. Romo Benyamin Seran pun menolak secara halus pandangan itu. Dengan senyum persahabatan, ia tetap berjalan bersama SBS menuju rumah duka, sebuah simbol bahwa di atas segala perbedaan peran, mereka tetaplah dua sahabat lama yang saling menghargai.
Langkah mereka yang berdampingan menuju rumah duka bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan nilai, tentang iman, persahabatan, dan kerendahan hati.
Pesan Moral
Kisah sederhana ini mengajarkan bahwa:
- Kerendahan hati adalah mahkota sejati seorang pemimpin. Jabatan tinggi tidak menghapus sikap hormat kepada sesama, terlebih kepada mereka yang mengabdikan hidup dalam pelayanan rohani.
- Persahabatan sejati melampaui status dan posisi. Waktu boleh berlalu, jabatan boleh berubah, namun ikatan hati tetap sama.
- Saling menghormati adalah fondasi kehidupan sosial dan iman. Ketika setiap orang mampu menempatkan diri dengan bijak, harmoni akan tercipta dengan sendirinya.
Di Desa Kakaniuk hari itu, duka memang hadir. Namun di baliknya, terselip pelajaran berharga tentang bagaimana manusia seharusnya hidup: dengan hormat, dengan rendah hati, dan dengan kasih yang tulus.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









