Opini  

Simon Nahak dan Rumah Sakit yang Tak Pernah Lahir: Sebuah Ulang Tahun yang Pahit

IMG 20250531 WA0018 3020533551

Opini: Frido Umrisu Raebesi

RAEBESIBEWS.COM – Di Malaka, ada dua perayaan yang kini layak dikenang pada tanggal 13 Juni. Yang pertama adalah hari ulang tahun Simon Nahak, mantan Bupati Malaka. 

Yang kedua, ulang tahun sebuah bangunan megah bernama RS Pratama Wewiku, gedung bercat putih yang setahun silam diresmikan dengan penuh seremoni, tapi hingga kini masih kosong, sunyi, tak berpenghuni, tak berfungsi.

Dua perayaan itu bukanlah kebetulan. Keduanya dirancang dan dipentaskan dalam satu panggung politik yang terang-terangan disusun untuk menyulap proyek pemerintah menjadi ajang pencitraan. 

Baca Juga: Wabup Malaka Turun Tangan! Drainase Tersumbat di Depan SPBU Labarai Langsung Dibersihkan

Saya menyaksikannya sendiri. Saya ada di sana. Di Wewiku, di antara tenda-tenda yang disewa, spanduk-spanduk besar yang dipasang, dan musik pengiring yang berusaha menghidupkan sesuatu yang sebenarnya belum hidup: sebuah rumah sakit yang belum selesai dibangun.

Panggung Gagah, Tapi Belakangnya Masih Debu dan Tukang

Pada 13 Juni 2024 lalu, Simon Nahak meniup lilin ulang tahunnya yang ke sekian, dengan gaun dinas terbaiknya, didampingi jajaran OPD, camat-camat yang datang dengan setelan rapi, dan sejumlah warga yang diundang untuk menyaksikan “lahirnya” RS Pratama Wewiku.

Tapi di belakang gedung yang diresmikan itu, para tukang masih bekerja. Pekerja bangunan berkeringat mengangkut semen dan bata. Dinding belakang belum dicat, saluran air belum terpasang, dan sejumlah ruang rawat masih berantakan. Seorang tukang bahkan sempat berujar lirih, “Ini rumah sakit atau panggung drama?”

Baca Juga: Prabowo: Hakim Tak Boleh Bisa Dibeli, Gaji Mereka Harus Layak

Benar, semua itu belum selesai. Tapi gunting pita harus dilakukan. Karena waktu itu menjelang Pilkada Malaka 2024. Jika ditunda, maka Simon akan kehilangan momen. Sebab ketika masa kampanye tiba, ia harus cuti. Dan sebagai petahana, cuti berarti kehilangan kesempatan untuk tampil. 

Maka peresmian harus disegerakan, meski rumah sakit belum siap. Bahkan kalau perlu, lilin ulang tahun pun ditiup bersamaan dengan pengguntingan pita.

Sungguh, ini bukan kebetulan. Ini kalkulasi.

Dari Laenmanen ke Wewiku: Dari Niat Publik ke Kepentingan Pribadi

Sejarah awal RS Pratama ini mencatat bahwa pembangunan rumah sakit tersebut adalah aspirasi dari Emanuel Melkiades Laka Lena, anggota DPR RI Komisi IX saat itu. 

Lokasi awal yang diusulkan adalah Laenmanen, kawasan perbatasan yang jauh dari sentuhan layanan kesehatan dan sangat membutuhkan rumah sakit. Tapi entah bagaimana, lokasi pembangunan dipindahkan ke Wewiku, kampung halaman Simon Nahak sendiri.

Baca Juga: Suara Bergetar, Prabowo Sampaikan Pesan Haru tentang Keadilan di Hadapan Para Hakim MA

Secara administratif tidak salah. Wewiku masih bagian dari Kabupaten Malaka. Tapi secara moral dan etika pemerintahan, ada pertanyaan besar: mengapa aspirasi untuk rakyat di daerah terpencil malah dimanipulasi demi keuntungan citra di kampung sendiri?

Wewiku bukan zona darurat kesehatan. Laenmanen lebih layak, lebih mendesak. Tapi Wewiku-lah yang dipilih, sebab di sanalah akar politik dan jejak emosional sang bupati bertumbuh. RS Pratama ini akhirnya menjadi monumen pribadi, bukan monumen pelayanan publik.

Dan yang lebih memilukan: walau sudah direbut dan dipindahkan, rumah sakit itu pun tak kunjung hidup.

Baca Juga: Gerak Cepat Pemkab Malaka: Genangan Air di Depan Terminal Betun Langsung Dikuras

Satu Tahun yang Sunyi: Rumah Sakit Tanpa Dokter, Tanpa Pasien, Tanpa Kehidupan

Hari ini, 13 Juni 2025, genap satu tahun sejak rumah sakit itu diresmikan. Tapi apa yang telah terjadi sejak pita digunting dan lilin ditiup?

Tidak ada dokter. Tidak ada pasien. Tidak ada layanan. Tidak ada aktivitas. Bahkan tidak ada tanda-tanda bahwa fasilitas ini siap digunakan. Gedungnya tetap kosong. Halamannya mulai ditumbuhi rumput liar. Jendela-jendelanya berdebu. Papan nama masih bersih, tapi ruang dalamnya senyap, seperti tubuh tanpa napas.

RS Pratama Wewiku kini menjadi simbol kemunafikan politik pembangunan. Ia megah di luar, tapi kosong di dalam. Ia dirayakan di media, tapi diabaikan oleh realita. Seperti potret seorang pemimpin yang berdiri gagah di atas podium, padahal pondasi kepemimpinannya rapuh dan menipu.

Simon Nahak memaksa waktu. Ia meresmikan proyek yang belum selesai. Ia menjual mimpi yang belum sempat bangun. Ia membangun panggung sebelum naskahnya ditulis. Dan kini, panggung itu berdiri sendiri, tanpa aktor, tanpa dialog, tanpa penonton. Hanya debu dan kenangan seremoni yang tertinggal.

Baca Juga: Skandal Pengadaan Sapi di Desa Fatoin: Warga Hanya Terima 18 Ekor dari 80 yang Dianggarkan

Politik Gunting Pita: Rakyat Dijadikan Latar

Ini bukan pertama kali terjadi. Di banyak tempat di negeri ini, kita melihat praktik politik gunting pita di mana proyek belum selesai tapi buru-buru diresmikan demi headline. Rumah sakit, sekolah, jembatan, bahkan sumur bor pun bisa jadi alat pencitraan, bukan alat pembangunan. Rakyat hanya dijadikan latar. Saksi bisu dari drama-drama kekuasaan.

Simon Nahak pernah menjanjikan Malaka emas. Tapi RS Pratama Wewiku menunjukkan sebaliknya. Ia menjanjikan pelayanan, tapi malah memberikan bangunan kosong. Ia menjanjikan kesehatan, tapi malah meninggalkan debu dan kekosongan.

Hari ini, Simon mungkin kembali meniup lilin ulang tahun. Mungkin ada tumpeng. Mungkin ada sambutan yang ditulis staf protokol. Tapi rakyat tidak meniup lilin bersamanya. Mereka meniup debu di dinding rumah sakit yang belum digunakan itu.

Baca Juga: Skandal Pengadaan Sapi di Desa Fatoin: Warga Hanya Terima 18 Ekor dari 80 yang Dianggarkan

Epilog: Sebuah Refleksi Menjelang Pilkada

Pilkada Malaka tinggal beberapa bulan lagi. Saatnya rakyat belajar dari rumah sakit ini, belajar mengenali pemimpin yang membangun pencitraan, bukan pelayanan. Belajar membedakan siapa yang bekerja dalam diam, dan siapa yang bicara nyaring tapi kosong.

RS Pratama Wewiku adalah peringatan. Jangan ulangi kesalahan memilih mereka yang lebih cinta panggung daripada rakyat. Sebab bila panggung runtuh, hanya rakyat yang akan tertimpa puingnya.

Selamat ulang tahun, Simon Nahak. Semoga di usia yang bertambah, bertambah pula keberanian untuk mengakui kegagalan. 

Dan selamat ulang tahun juga untuk RS Pratama Wewiku, gedung bisu yang kini jadi saksi paling jujur tentang bagaimana kekuasaan bisa memanipulasi realitas.***

 

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *