Opini  

Aktivis Sibuk Urus Rumah Jabatan, SBS-HMS Sibuk Urus Kepentingan Rakyat

Screenshot 2025 08 01 21 11 34 78 99c04817c0de5652397fc8b56c3b3817 3980511572

RaebesiNews.com – Ada fenomena lucu sekaligus menyedihkan yang sedang terjadi di Malaka. Saat rakyat bersyukur karena pemimpinnya sibuk kerja, justru sekelompok orang yang mengaku aktivis sibuk mengurus hal-hal remeh: mengapa Bupati dan Wakil Bupati belum tinggal di rumah jabatan.

Mereka menuduh macam-macam. Seolah rumah jabatan adalah tolok ukur kepemimpinan. Seolah tidak tinggal di rumah dinas berarti tidak sah memimpin.

Padahal hari ini, rakyat tidak menuntut tempat tinggal pemimpin. Rakyat menuntut pengabdian. Dan itu yang sedang dilakukan SBS dan HMS tanpa banyak bicara.

Mereka tidak sibuk jaga citra. Mereka tidak larut dalam urusan seremonial. Yang mereka urus adalah lubang-lubang jalan yang selama bertahun-tahun dibiarkan terbuka, yang dulu dianggap hal biasa oleh pemerintahan sebelumnya.

Kini jalan-jalan itu ditimbun, dikerjakan gotong royong bersama rakyat. Ada drum bekas dipasang sebagai tanda, ada batu-batu tersusun di tempat-tempat rawan longsor. Semuanya dikerjakan diam-diam, tanpa publikasi berlebihan.

Lalu datanglah para aktivis dadakan, membentak soal rumah jabatan. Aneh bukan?

Kita harus jujur, tak semua yang menyebut diri aktivis hari ini sungguh-sungguh berjuang untuk rakyat. Banyak yang hanya ingin eksis. Ada yang cuma jago teriak di medsos tapi tidak pernah menyentuh tanah desa.

Ada yang kalau datang ke Malaka, bukan bawa ide, tapi bawa proposal permintaan uang. Ketika ditolak secara elegan, mereka balik marah-marah di media.

Mereka lupa: aktivis sejati itu memperjuangkan kepentingan rakyat, bukan memperjuangkan jatah pribadi. Mereka yang benar-benar bergerak untuk perubahan tidak akan sibuk cari panggung atau keuntungan.

Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Ketika Bupati dan Wakil Bupati memilih tidur di rumah biasa, hidup sederhana, dan memaksimalkan anggaran untuk rakyat, mereka malah dianggap melanggar norma.

Padahal, SBS dan HMS sedang menata ulang hal-hal yang dulu dianggap tak penting:

*Saluran air yang mampet dibersihkan.

*Tanggul yang hampir jebol diperkuat.

*Jalan-jalan rusak diperbaiki secara darurat sambil tunggu proyek.

*Persiapan musim tanam dilakukan serius, bukan basa-basi.

*Layanan kesehatan dibenahi dan digratiskan cukup pakai e-KTP.

*Laporan rakyat terhadap kepala desa ditindaklanjuti dengan audit terbuka.

*Kabinet ditata ulang agar solid, kompak, dan profesional.

*Sampah yang dulu berserakan, kini dibersihkan bersama warga setiap hari Jumat.

Desa-desa yang dulu kotor, kini bersih. Kesadaran kolektif tumbuh. Bupati tidak keluarkan edaran keras, tapi memberi teladan. Pemerintahan SBS-HMS tak banyak bicara, tapi rakyat mulai bicara sendiri: “Dulu tidak pernah begini, sekarang desa kami bersih.”

SBS dan HMS tidak memimpin dengan gincu. Mereka memimpin dengan luka dan cinta. Mereka tahu benar bahwa Malaka butuh kerja, bukan pencitraan.

Mereka adalah orang biasa, dari keluarga biasa, yang mengerti apa itu lapar, apa itu banjir, apa itu jalan rusak yang menghambat hasil panen sampai ke pasar.

Mereka tidak butuh mewahnya rumah jabatan. Karena mereka tahu bahwa di banyak dusun, rakyat masih tinggal di rumah berdinding bebak dan beratap seng berkarat. Mereka tidak bisa tidur nyaman ketika rakyatnya belum makan cukup. Dan itu bukan basa-basi. Itu prinsip.

Ada pepatah:
“Hatiku sedih karena aku tak punya sepatu, sampai aku melihat dari jendela ada orang yang tak punya kaki.”

SBS dan HMS tidak punya sepatu mahal, tapi mereka punya kaki yang kuat untuk berjalan bersama rakyat. Mereka tak punya rumah jabatan yang dihuni, tapi mereka punya hati yang dihuni kepedulian.

Jadi, pertanyaan paling menyakitkan sebenarnya adalah: mengapa kalian begitu repot urus Bupati dan Wakil Bupati?

Atau justru karena kalian tidak tahan melihat pemimpin yang benar-benar bekerja, yang tidak bisa kalian kontrol, tidak bisa kalian tekan?

Barangkali kalian repot mengurus Bupati, karena kalian sendiri tidak sanggup mengurus rakyat. Maka kalian cari celah untuk menjatuhkan, bukan demi kebenaran, tapi demi agenda sendiri.

Padahal hari ini rakyat butuh kerja nyata, bukan teriakan kosong.

Kami rakyat Malaka tahu persis siapa yang benar-benar kerja, siapa yang sekadar mencibir. Kami tahu mana jalan yang dulu berlubang dan kini ditambal. Kami tahu posyandu mana yang dulu mati, sekarang hidup.

Kami tahu kebun mana yang dulu terbengkalai, kini ditanami lagi. Dan kami tahu siapa yang membawa perubahan, bukan dengan janji, tapi dengan keringat.

Maka, kalau kalian benar aktivis, turunlah ke desa. Bukan ke rumah jabatan.

Kalau kalian benar peduli, bantulah rakyat, bukan rusak opini publik dengan narasi picik.

SBS-HMS sudah membuktikan: pemimpin sejati tidak sibuk urus dirinya. Mereka sibuk urus rakyat.

Dan mereka tak akan berhenti, meski kalian terus berisik.***

 

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *